Ketika negara Islam Iran di masa depan akan berperang, yang maju tak hanya prajurit manusia namun juga ‘prajurit’ robotika.
Pengumuman tersebut disampaikan oleh Komandan Angkatan Darat Iran, Letnan Jenderal Ahmad Reza Pourdastan. Berdasarkan sumber berita asal Iran, Fars News Service, penggunaan teknologi mumpuni itu dianggap cukup menakutkan.
Pourdastan mengatakan, Self-Sufficiency Jihad Organization bergabung dengan tentara AD Iran sedang mengembangkan robot perang tersebut yang dikabarkan akan mampu menjalankan berbagai tugas.
Walau belum banyak informasi mengenai kehebatan robot perang ini, berdasarkan perkiraan robot canggih Iran akan dilengkapi dengan sejata mesin apik berukuran 7,62 mm, misil atau roket yang bakal dikendali dari jauh (remote controlled), serta thermal camera yang mampu beroperasi di kondisi malam.
Robot perang Iran ini dikabarkan akan dibekali kemampuan operasi dengan jarak lima sampai tujuh kilometer.
Kantor berita CNN sempat mewartakan, kemunculan robot di medan perang modern telah terjadi secara cepat.
Saat Amerika Serikat menyerbu Irak lebih dari sepuluh tahun yang lalu, AS hanya menggunakan sistem drone di udara dan tak ada teknologi mumpuni untuk pertahanan darat.
Kini, inventaris pertahanan udara AS sudah mencapai sekitar tujuh ribu drone helikopter seperti jenis Predator and Reaper.
Tentara AS kemudian mencobakan robot perang untuk pertahanan darat dan sekarang sudah mencapai angka 12 ribu, salah satunya iRobot PackBots yang digunakan untuk pemboman Afganistan. Lalu tahun lalu, pihak AS berharap robot pada akhirnya bisa menggantikan seperempat tentara manusia pada pertengahan abad mendatang.
Sementara di Suriah, penentang pemerintahan Bashar al-Assad pada 2013 silam juga menggunakan robot bersenjata mesin yang dikendalikan dari jauh untuk memantau tanpa membahayakan manusia. (CNN Indonesia)
Kamis, 12 Maret 2015
Senin, 09 Maret 2015
Teknologi Anti Sadap Buatan Dalam Negeri
PT Indoguardika Cipta Kreasi mengenalkan berbagai produk komunikasi dan informasi anti sadap pada Indodefence Expo, di Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (5/11).
Badan Usaha Milik Swasta yang bergerak di bidang industri pertahanan nasional ini, memperkenalkan produk salah satunya adalah produk Cyber Defence Teknologi Anti Sadap untuk komunikasi via jaringan mobile, kabel, maupun data internet.
"Kami pamerkan ke publik produk unggulan anti sadap layanan pesan pendek atau SMS Guard, suara atau Voice Guard, pesan instan atau Chat Guard dan telepon PSTN atau TiO Guard," kata Managing Director PT ICK, Dahniar Wisnu Paramita, di Booth D187, Hall D, JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat.
Dahniar menjelaskan, diantara keempat produk yang dipamerkan, tiga diantaranya merupakan produk baru yang diluncurkan di perhelatan akbar pameran teknologi internasional itu. Tiga produk baru tersebut Voice Guard, Chat Guard dan Tio Guard. "Menyusul tahun depan kita luncurkan layanan antisadap Email Guard dan VPN (Virtual Private Network) Guard," ujarnya.
Sementara layanan SMS Guard sendiri sudah bisa dinikmati publik sejak tahun lalu. Semua produk teknologi keamanan komunikasi dan sistem informasi tersebut asli buatan karya anak bangsa.
“Kami kumpulkan para ahli kriptografi, IT security, mobile web developer, dan manufaktur perangkat keras berenkripsi asli Indonesia untuk mengembangkan produk komunikasi aman anti sadap,” papar Dahniar.
Research and Production Director ICK Sujoko menjelaskan teknologi anti sadap perusahaan IT Security ini sudah berstandar internasional. Algoritma, protokol, key management, aplikasi dan hardware berenkripsi yang dikembangkannya selain untuk kepentingan pemerintahan sipil, bisa dimodifikasi untuk kepentingan militer.
“Untuk kepentingan pemerintahan sipil misalnya, teknologi kami dapat dikembangkan dan diimplementasikan untuk melindungi keamanan data program e government. Sementara untuk militer, teknologi anti sadap tersebut mendukung jalur komunikasi aman personel militer maupun kepentingan operasi via jaringan mobile, kabel, maupun jalur data. Semuanya untuk mendukung konsep cyber defence Indonesia,” ujar Sujoko. (JPNN)
Badan Usaha Milik Swasta yang bergerak di bidang industri pertahanan nasional ini, memperkenalkan produk salah satunya adalah produk Cyber Defence Teknologi Anti Sadap untuk komunikasi via jaringan mobile, kabel, maupun data internet.
"Kami pamerkan ke publik produk unggulan anti sadap layanan pesan pendek atau SMS Guard, suara atau Voice Guard, pesan instan atau Chat Guard dan telepon PSTN atau TiO Guard," kata Managing Director PT ICK, Dahniar Wisnu Paramita, di Booth D187, Hall D, JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat.
Dahniar menjelaskan, diantara keempat produk yang dipamerkan, tiga diantaranya merupakan produk baru yang diluncurkan di perhelatan akbar pameran teknologi internasional itu. Tiga produk baru tersebut Voice Guard, Chat Guard dan Tio Guard. "Menyusul tahun depan kita luncurkan layanan antisadap Email Guard dan VPN (Virtual Private Network) Guard," ujarnya.
Sementara layanan SMS Guard sendiri sudah bisa dinikmati publik sejak tahun lalu. Semua produk teknologi keamanan komunikasi dan sistem informasi tersebut asli buatan karya anak bangsa.
“Kami kumpulkan para ahli kriptografi, IT security, mobile web developer, dan manufaktur perangkat keras berenkripsi asli Indonesia untuk mengembangkan produk komunikasi aman anti sadap,” papar Dahniar.
Research and Production Director ICK Sujoko menjelaskan teknologi anti sadap perusahaan IT Security ini sudah berstandar internasional. Algoritma, protokol, key management, aplikasi dan hardware berenkripsi yang dikembangkannya selain untuk kepentingan pemerintahan sipil, bisa dimodifikasi untuk kepentingan militer.
“Untuk kepentingan pemerintahan sipil misalnya, teknologi kami dapat dikembangkan dan diimplementasikan untuk melindungi keamanan data program e government. Sementara untuk militer, teknologi anti sadap tersebut mendukung jalur komunikasi aman personel militer maupun kepentingan operasi via jaringan mobile, kabel, maupun jalur data. Semuanya untuk mendukung konsep cyber defence Indonesia,” ujar Sujoko. (JPNN)
Ilmuan Ubah Air Kencing Jadi Sumber Listrik Abadi
Ilmuwan Universitas Bristol dan Oxfam, berhasil menciptakan alat daur ulang air kencing menjadi energi listrik. Alat berbentuk tiolet memanfaat kan teknologi microbial fuel cell (MFC).
Menurut sang pencipta, profesor Ioannis Ieropoulos, teknologi MFC menggunakan bakteri pemakan urin untuk bisa menghasilkan listrik. Bakteri tadi akan mengonsumsi urin dan menghasilkan energi dalam bentuk listrik. Lalu, listrik yang dihasilkan disimpan dalam baterai khusus.
"MFC bekerja dengan memakan urin, hal ini diperlukan untuk pertumbuhan bakteri di dalamnya. Teknologi ini termasuk teknologi ramah lingkungan yang tidak membutuhkan bahan bakar atau menghasilkan zat sisa yang berbahaya," ujar profesor Ieropoulos, Daily Mail (05/03).
Kedepannya, pengguna toilet bisa melihat listrik yang disimpan dalam toilet lewat sebuah monitor sederhana. Bahkan, pengguna kelak bisa mengisi daya smartphone langsung di toilet.
Dan karena menggunakan kencing, teknologi ini bisa terus digunakan selama ada manusia yang butuh ke toilet. Alhasil, banyak ilmuwan yang menyebut ini adalah teknologi penghasil listrik abadi.
Teknologi MFC pun sangat murah. Hanya dibutuhkan dana Rp 20 ribu untuk membuat MFC skala kecil yang bisa diaplikasikan di berbagai toilet di seluruh dunia.
Sumber : Merdeka.com
Menurut sang pencipta, profesor Ioannis Ieropoulos, teknologi MFC menggunakan bakteri pemakan urin untuk bisa menghasilkan listrik. Bakteri tadi akan mengonsumsi urin dan menghasilkan energi dalam bentuk listrik. Lalu, listrik yang dihasilkan disimpan dalam baterai khusus.
"MFC bekerja dengan memakan urin, hal ini diperlukan untuk pertumbuhan bakteri di dalamnya. Teknologi ini termasuk teknologi ramah lingkungan yang tidak membutuhkan bahan bakar atau menghasilkan zat sisa yang berbahaya," ujar profesor Ieropoulos, Daily Mail (05/03).
Kedepannya, pengguna toilet bisa melihat listrik yang disimpan dalam toilet lewat sebuah monitor sederhana. Bahkan, pengguna kelak bisa mengisi daya smartphone langsung di toilet.
Dan karena menggunakan kencing, teknologi ini bisa terus digunakan selama ada manusia yang butuh ke toilet. Alhasil, banyak ilmuwan yang menyebut ini adalah teknologi penghasil listrik abadi.
Teknologi MFC pun sangat murah. Hanya dibutuhkan dana Rp 20 ribu untuk membuat MFC skala kecil yang bisa diaplikasikan di berbagai toilet di seluruh dunia.
Sumber : Merdeka.com
Kamis, 05 Maret 2015
Skyprowler Pesawat yang tak butuh Landasan Pacu
Perusahaan Arizona Amerika Serikat mengembangkan pesawat terbang dengan konsep dan teknologi terbaru. Pesawat ini tidak membutuhkan landasan pacu seperti layaknya helikopter.
Pesawat yang diberi nama Skyprowler ini memiliki empat baling-baling horizontal sehingga memungkinkan pesawat untuk lepas landas dan mendarat scara vertikal, dan akan melayang-layang diudara.
Menurut pihak Arizona, hal tersebut akan membuka penerbangan ke berbagai medan yang lebih luas, dari halam belakang dan tahan kasar, hingga dari kapal laut.
Baling-baling yang terletak pada kedua sisi sayap pesawat serta bagian ekor akan membantu mengangkat pesawat untuk terbang, sehingga kemungkinan tidak memerlukan landasan pacu. Mereka mengklaim, kecepatan pesawat ini bisa mencapai 83 mph atau setara 134 km/jam. (PR)
Pesawat yang diberi nama Skyprowler ini memiliki empat baling-baling horizontal sehingga memungkinkan pesawat untuk lepas landas dan mendarat scara vertikal, dan akan melayang-layang diudara.
Menurut pihak Arizona, hal tersebut akan membuka penerbangan ke berbagai medan yang lebih luas, dari halam belakang dan tahan kasar, hingga dari kapal laut.
Baling-baling yang terletak pada kedua sisi sayap pesawat serta bagian ekor akan membantu mengangkat pesawat untuk terbang, sehingga kemungkinan tidak memerlukan landasan pacu. Mereka mengklaim, kecepatan pesawat ini bisa mencapai 83 mph atau setara 134 km/jam. (PR)
Lensa Kontak untuk Jadi "Superhero"
Sebuah teknologi lensa kontak yang dikembangkan oleh ilmuan Swiss diklaim mamu memberikan visibilitas penggunanya layaknya pahlawan super. Lensa kontak tersebut akan siap digunakan dalam kurun waktu dua tahun kedepan.
Lensa kontak ini memungkinkan penggunakanya untuk memperbesar objek yang dilihatnya hanya dengan mengedipkan mata. Pembesaran gambar yang diijinkan sampai tiga kali lipat.
Lensa kontak ini memiliki dua bagian. Cincin bagian dalam berfungsi sebagai pengatur penglihatan normal. Sementar itu, cincin bagian luarnya dapat digunakan untuk memperbesar pandangan hingga 2,8 kali.
Sebuah kedipan yang dilakukan oleh mata kanan pemakainya, akan mengaktifkan fungsi zoom (memperbesar). Sementara itu jika penggunanya mengedipkan mata sebelah kiri akan mengembalikan pandangan kedalam kondisi normal.
Sang pencetus, Erik Temblay dari Swiss Federal Institut of Technology mengatakan, "timnya berharap teknologi ini akan bisa memenuhi harapan para penyandang tunanetra dan degenerasi makula terkait usia. Kami berharap penelitian ini pada akhirnya akan mewujudkan suatu alat yang bisa menjadi pilihan pagi para penderita kelainan tersebut," ujar Eric seperti dkutip Ibtimes. (PR)
![]() |
| Telescopic Contact Lenses | foto : nbcnews |
Lensa kontak ini memiliki dua bagian. Cincin bagian dalam berfungsi sebagai pengatur penglihatan normal. Sementar itu, cincin bagian luarnya dapat digunakan untuk memperbesar pandangan hingga 2,8 kali.
![]() |
| Sistem Kerja Telescopic Contact Lens |
Sebuah kedipan yang dilakukan oleh mata kanan pemakainya, akan mengaktifkan fungsi zoom (memperbesar). Sementara itu jika penggunanya mengedipkan mata sebelah kiri akan mengembalikan pandangan kedalam kondisi normal.
![]() |
| Telescopic Contact Lenses | foto : nbcnews |
Sang pencetus, Erik Temblay dari Swiss Federal Institut of Technology mengatakan, "timnya berharap teknologi ini akan bisa memenuhi harapan para penyandang tunanetra dan degenerasi makula terkait usia. Kami berharap penelitian ini pada akhirnya akan mewujudkan suatu alat yang bisa menjadi pilihan pagi para penderita kelainan tersebut," ujar Eric seperti dkutip Ibtimes. (PR)
Perangi Kangker Google Ciptakan Kulit Manusia Buatan
Bertekad perangi kangker Google baru-baru ini membuat terobosan baru dibidang kesehatan, yakni dengan menciptakan kulit manusia palsu. Di masa depan, kulit manusia hasil rekayasa ini diklaim dapat menyelamatkan banyak nyawa.
Salahsatu departemen Google, Google X yang dikhususkan untuk membuat terobosan baru dibidang teknologi, mendesain sebuah nanopartikel yang mampu mendeteksi sel kangker. Zat nanopartikel tersebut akan dimasukan kedalam tubuh melalui pil dan menempel pada partikel kangker yang mungkin dimiliki. Setelah itu partikel akan berjalan memalui pembulu darah, lalu kembai ke pergelangan tangan. Partikel kangker tersebut akan menyampaikan informasi melalui gelang dalam bentuk cahaya.
Mengantisipasi perbedaan kulit yang dimiliki setiap orang Google pada akhirnya membuat lengan palsu dengan kulit buatan sebagai senjata untuk membantu partikel kangker tersebut melewati kulit.
Menurut Kepala Google Life Science, Andrew Conrad diharapkan lengan palsu ini dapat dikembangkan sepenuhnya dalam hitungan tahun. "Memang terdengar aneh zat nanopartikel berenang disekitar tubuh Anda dan mampu berkomunikasi dengan gelang. Namun, lebih aneh lagi jika Anda membiarkan sel-sel kangker mengembang melalui tubuh yang terus mencoba untuk membunuh Anda," ujar Conard sepertidilansir laman PCAutority. (PR)
Salahsatu departemen Google, Google X yang dikhususkan untuk membuat terobosan baru dibidang teknologi, mendesain sebuah nanopartikel yang mampu mendeteksi sel kangker. Zat nanopartikel tersebut akan dimasukan kedalam tubuh melalui pil dan menempel pada partikel kangker yang mungkin dimiliki. Setelah itu partikel akan berjalan memalui pembulu darah, lalu kembai ke pergelangan tangan. Partikel kangker tersebut akan menyampaikan informasi melalui gelang dalam bentuk cahaya.
Mengantisipasi perbedaan kulit yang dimiliki setiap orang Google pada akhirnya membuat lengan palsu dengan kulit buatan sebagai senjata untuk membantu partikel kangker tersebut melewati kulit.
Menurut Kepala Google Life Science, Andrew Conrad diharapkan lengan palsu ini dapat dikembangkan sepenuhnya dalam hitungan tahun. "Memang terdengar aneh zat nanopartikel berenang disekitar tubuh Anda dan mampu berkomunikasi dengan gelang. Namun, lebih aneh lagi jika Anda membiarkan sel-sel kangker mengembang melalui tubuh yang terus mencoba untuk membunuh Anda," ujar Conard sepertidilansir laman PCAutority. (PR)
Kamis, 01 Januari 2015
Automatic Dependent Surveillance-Broadcast System Teknologi Baru untuk Lacak Posisi Pesawat Terbang di Udara
Amerika dan Eropa akan menerapkan sistem Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B), untuk mengirim posisi pesawat secara berkala kepada pengawas lalu lintas udara dan pesawat-pesawat lain di dekatnya.
Tahun 2014 bukanlah tahun yang baik bagi keselamatan penerbangan, karena dua pesawat berbadan lebar jatuh ke laut, bersama 401 penumpang dan awak pesawatnya, karena penyebab yang belum jelas.
Dalam kedua kasus itu, komunikasi dengan pesawat tiba-tiba hilang, sebelum pilot-pilot itu sempat melaporkan permasalahannya. Pesawat-pesawat yang melakukan penerbangan melewati laut dan jauh dari daratan berada di luar jangkauan radar dan sistem radio di darat daratan.
Komunikasi satelit dan teknologi navigasi seperti GPS dan telpon satelit, memungkinkan komunikasi dengan pesawat udara dan menentukan lokasinya.
"Alasan mengapa kita tidak mempunyai teknologi ini di semua tempat adalah biaya," kata Michael Braasch, seorang guru teknik elektronika Universitas Ohio.
“Kemampuan mengirim pesan-pesan melalui penyedia komunikasi satelit memerlukan biaya dan sampai belum lama ini tidak ada kebutuhan mendesak untuk dapat melacak pesawat dari detik ke detik,” kata Michael Braasch.
Pilot-pilot diwajibkan melaporkan posisinya secara berkala, sehingga Pengawas Lalu-lintas udara atau Air Traffic Control (ATC) dapat terus mengetahui lokasi mereka. Namun, Dalam keadaan darurat yang memerlukan keputusan cepat, seringkali pilot tidak punya waktu untuk menelpon.
Pada awal Desember, Persatuan Transportasi Udara Internasional menerbitkan sebuah laporan yang menganjurkan, bahwa setiap pesawat dilengkapi dengan sebuah sistem yang melaporkan posisi pesawat tanpa keterlibatan pilot. Braasch mengatakan, sebagian maskapai penerbangan anggota organisasi itu enggan menerapkan anjuran itu.
“Umumnya adalah karena alasan tambahan biaya dan keharusan memasang sistem yang disetujui. Secara teknologi,tidak ada masalah. Ada sistem navigasi berdasar satelit semacam GPS, ada teknologi komuniasi satelit selama lebih dari 20-25 tahun,” lanjutnya.
Selain itu, sebagian pilot berkeberatan jika ada sistem elekronik mandiri di pesawatnya yang tidak bisa dimatikan jika terjadi kebakaran. Sejauh ini, hanya alat perekam data penerbangan yang disebut “kotak hitam” yang tidak dapat dikontrol pilot.
Braasch mengatakan, setelah bencana pesawat Malaysia Airlines bulan March lalu, jelas bahwa sesuatu harus dilakukan.
“Kita kehilangan sebuah pesawat berbadan lebar dan kita tidak tahu pesawat itu berada di mana dan dalam dunia sekarang ini, itu benar-benar tidak masuk akal,” imbuhnya.
Amerika dan Eropa sedang bersiap-siap untuk menerapkan sebuah sistem yang disebut Automatic Dependent Surveillance - Broadcast (ADS-B), yang didesain untuk mengirim posisi pesawat secara berkala, kepada pengawas lalu lintas udara dan pesawat-pesawat lain di dekatnya.
Sistem itu akan diwajibkan bagi sebagian pesawat di Eropa selambat-lambatnya tahun 2017 dan di Amerika selambat-lambatnya tahun 2020.
Sumber : Voa Indonesia
Tahun 2014 bukanlah tahun yang baik bagi keselamatan penerbangan, karena dua pesawat berbadan lebar jatuh ke laut, bersama 401 penumpang dan awak pesawatnya, karena penyebab yang belum jelas.
![]() |
| Petugas radar dan sonar di pesawat milik Angkatan Udara Australia AP-3C Orion dalam misi pencarian pesawat Malaysia Airlines MH370 di Samudera India |
Dalam kedua kasus itu, komunikasi dengan pesawat tiba-tiba hilang, sebelum pilot-pilot itu sempat melaporkan permasalahannya. Pesawat-pesawat yang melakukan penerbangan melewati laut dan jauh dari daratan berada di luar jangkauan radar dan sistem radio di darat daratan.
Komunikasi satelit dan teknologi navigasi seperti GPS dan telpon satelit, memungkinkan komunikasi dengan pesawat udara dan menentukan lokasinya.
"Alasan mengapa kita tidak mempunyai teknologi ini di semua tempat adalah biaya," kata Michael Braasch, seorang guru teknik elektronika Universitas Ohio.
“Kemampuan mengirim pesan-pesan melalui penyedia komunikasi satelit memerlukan biaya dan sampai belum lama ini tidak ada kebutuhan mendesak untuk dapat melacak pesawat dari detik ke detik,” kata Michael Braasch.
Pilot-pilot diwajibkan melaporkan posisinya secara berkala, sehingga Pengawas Lalu-lintas udara atau Air Traffic Control (ATC) dapat terus mengetahui lokasi mereka. Namun, Dalam keadaan darurat yang memerlukan keputusan cepat, seringkali pilot tidak punya waktu untuk menelpon.
Pada awal Desember, Persatuan Transportasi Udara Internasional menerbitkan sebuah laporan yang menganjurkan, bahwa setiap pesawat dilengkapi dengan sebuah sistem yang melaporkan posisi pesawat tanpa keterlibatan pilot. Braasch mengatakan, sebagian maskapai penerbangan anggota organisasi itu enggan menerapkan anjuran itu.
“Umumnya adalah karena alasan tambahan biaya dan keharusan memasang sistem yang disetujui. Secara teknologi,tidak ada masalah. Ada sistem navigasi berdasar satelit semacam GPS, ada teknologi komuniasi satelit selama lebih dari 20-25 tahun,” lanjutnya.
Selain itu, sebagian pilot berkeberatan jika ada sistem elekronik mandiri di pesawatnya yang tidak bisa dimatikan jika terjadi kebakaran. Sejauh ini, hanya alat perekam data penerbangan yang disebut “kotak hitam” yang tidak dapat dikontrol pilot.
Braasch mengatakan, setelah bencana pesawat Malaysia Airlines bulan March lalu, jelas bahwa sesuatu harus dilakukan.
“Kita kehilangan sebuah pesawat berbadan lebar dan kita tidak tahu pesawat itu berada di mana dan dalam dunia sekarang ini, itu benar-benar tidak masuk akal,” imbuhnya.
Amerika dan Eropa sedang bersiap-siap untuk menerapkan sebuah sistem yang disebut Automatic Dependent Surveillance - Broadcast (ADS-B), yang didesain untuk mengirim posisi pesawat secara berkala, kepada pengawas lalu lintas udara dan pesawat-pesawat lain di dekatnya.
Sistem itu akan diwajibkan bagi sebagian pesawat di Eropa selambat-lambatnya tahun 2017 dan di Amerika selambat-lambatnya tahun 2020.
Sumber : Voa Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)








.jpg)
