Tampilkan postingan dengan label Riset. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Riset. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Februari 2016

Mahasiswa UGM Ciptakan Alat Perigatan Batas Laut Untuk Nelayan

Salah satu penyebab nelayan kita memasuki wilayah laut negara tetangga adalah ketiadaan informasi batas wilayah. Di laut, memang sulit mengetahui perbatasan wilayah antar negara secara akurat, karena batas bersifat imajiner alias maya. Akibatnya, banyak terjadi kasus pelanggaran perbatasan oleh Nelayan.

Mahasiswa UGM Ciptakan Alat Perigatan Batas Laut Untuk Nelayan.jpg

I Made Sapta Hadi (Sapta), Mahasiswa Jurusan Teknik Geodesi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan ide membuat perangkat yahg mampu memberi peringatan jika kapal sudah dekat garis perbatasan. Gagasan Sapta adalah nelayan perlu dibekali perangkat yang dapat memberi ‘warning’ terhadap potensi pelanggaran batas maritim.

Untuk merealisasikan ide tersebut, Sapta mengajak Bagas Lail Ramadhan dari Jurusan Teknik Geodesi serta Imaddudin A Majid dari Jurusan Teknik Elektro. Ketiganya bekerja sejak Agustus hingga selesai pada November 2015 di bawah bimbingan I Made Andi Arsana, Dosen Jurusan Geodesi UGM.

Perangkat temuan ketiga mahasiswa ini diberi nama Swates. Dalam bahasa Jawa berarti suwanten wates, yang berarti suara perbatasan. Komponen utama Swates terdiri dari alarm dan global positioning system (GPS). Sapta cs menggunakan pemograman bahasa C untuk mengkoneksikan GPS dan Alarm.


Informasi koordinat dari GPS dibaca dan diolah oleh program, output dialirkan ke Alarm. Secara praktis, misalnya, Alarm akan berbunyi pada posisi tertentu sebelum melawati batas maritim. Pengguna bisa mengatur sendiri offset-nya, yaitu jarak tertentu terhadap garis perbatasan. Adapun informasi batas maritim (sebagai baseline) menggunakan titik koordinat batas maritim sesuai dokumen resmi perjanjian perbatasan Indonesia dengan negara tetangga.

Karena menggunakan GPS, Swates dapat digunakan di seluruh wilayah, terutama di laut. Koneksi GPS dengan sinyal satelit selalu bagus selama tidak terhalang oleh objek material, seperti pohon dan gedung. Swates memiliki dimensi 15 x 15 x 8 sentimeter, sehingga mudah dibawa. Untuk sumber daya, cukup menggunakan adaptor atau aki. Biaya pembuatan Swates masih tergolong tinggi, yaitu sekitar Rp500 ribu rupiah. Namun menurut Sapta, biaya tersebut masih dapat ditekan jika diproduksi secara massal. Sapta optimis harga jual Swates dapat terjangkau nelayan.

Berkat keorisinal gagasan dan kemanfaatannya, Swates meraih juara I Lomba Geospasial Inovatif Nasional 2015 di Fakultas Teknik UGM pada November 2015 lalu.

Pembimbing Sapta dan kawan-kawan sekaligus dosen Jurusan Teknik Geodesi UGM, Dr I Made Andi Arsana, sangat terkesan dan bangga dengan karya anak didiknya tersebut.

“Kekuatan penelitian ini ialah pada orisinalitas gagasan yang bersifat aplikatif dengan menggunakan pendekatan dan prinsip ilmu dan teknologi dasar yang cukup sederhana,” kata pria yang juga pengamat perbatasan dan kemaritiman UGM

Menurut Made Andi, melalui inovasi dan gagasan orisinil, pemanfaatan teknologi yang sederhana dapat memberikan manfaat yang nyata, terutama bagi para nelayan agar terhindar dari pelanggaran batas maritim. Meski begitu, Swates yang masih purwarupa ini tentu masih memerlukan penyempurnaan di beberapa bagian, terutama pada kemasannya. Selain itu, perlu ada proses perancangan produk menghasilkan produk yang sesuai dengan kaidah produksi dan tetap tepat guna.

Sebenarnya saat ini telah banyak perangkat GPS atau telepon cerdas dengan fitur penentuan posisi berbasis satelit yang bisa digunakan untuk mengetahui batas wilayah. Namun, harga alat tersebut cukup mahal bagi nelayan. Akhirnya, nelayan tradisional hanya mengandalkan pada pengetahuan astronomi tradisional, yaitu pengamatan bintang yang akurasinya rendah.

“Selain dukungan perangkat seperti Swates, peran aparat keamanan laut tetap diperlukan untuk membantu nelayan memahami batas wilayah. Pengetahuan dasar hukum laut, kedaulatan dan hak berdaulat harus diberikan kepada para nelayan,” pungkasnya. (JMOL)

Minggu, 18 Oktober 2015

Mobil Tenaga Surya Karya ITS Surabaya Berlaga di Darwin-Adelaide

Widya Wahana V buatan ITS Surabaya berlaga dalam ajang lomba balap mobil tenaga surya yang menempuh jarak sejauh 3.000 kilometer dari Darwin ke Adelaide, menyusuri Benua Australia dari utara ke selatan.

Tim Indonesia dengan mobil Widya Wahana V buatan ITS Surabaya. (ABC/Steven Schubert)

Dengan nomor urut 31, tim Widya Wahana V ini merupakan satu dari 46 mobil asal 25 negara yang turut berlaga dalam World Solar Challenge tahun 2015, yang dimulai Minggu (18/10/2015).

Lomba yang mengambil start di Parlemen Negara Bagian Northern Territory (NT) ini merupakan ajang paling bergengsi di dunia bagi balap mobil tenaga surya. Lomba akan berakhir di garis finish di Kota Adelaide.


Tim mobil bernama Stella Lux asal Eidenhoven Belanda, mengambil start di urutan pertama, disaksikan ribuan pengunjung. Mobil itu kemudian melaju melintasi kota Darwin ke arah Jalan Stuart Highway.

Ajang lomba ini sudah berlangsung sejak tahun 1987 lalu, dan kini digelar setiap dua tahun sekali. Para pengembang prototipe mobil tenaga surya di seluruh dunia biasanya turut ambil bagian dan ajang ini, untuk menunjukkan keandalan karya mereka.

Berbagai tantangan harus dihadapi oleh setiap tim. Mobil Persian Gazelle III asal Iran misalnya, yang mendapatkan yel-yel dukungan paling meriah saat meninggalkan garis start, terpaksa berhenti hanya beberapa kilometer setelah jalan.

Pasalnya, mobil buatan Universitas Teheran itu mengalami ban kempes sehingga harus berhenti dan memompa ban tersebut.


Mobil asal Iran harus memompa ban setelah jalan beberapa km dari garis start.jpg
Mobil asal Iran harus memompa ban setelah jalan beberapa km dari garis start.
(ABC/Steven Schubert)

Hal serupa juga dialami mobil K.I.T Golden Eagle 5.1 buatan Jepang, yang terpaksa berhenti tak lama setelah start.

Meskipun kebanyakan peserta berasal dari tim yang berbasis di universitas, namun ada pula tim yang menampilkan mobil buatan siswa SMA, seperti mobil Liberty Solar Car dari Texas, AS.

"Kami berhasil memacu mobil kami pada kecepatan 51 km perjam sebelumnya. Dan kami berharap bisa memacunya lebih cepat sedikit pada hari ini," kata Cameron Mutis dari tim Liberty, kepada ABC, Minggu (18/10/2015).


Mobil Sunswift buatan University of NSW, Australia, turut ambil bagian dari lomba tahun ini
Mobil Sunswift buatan University of NSW, Australia, turut ambil bagian dari lomba tahun ini. (ABC/Steven Schubert)

Bianca Koppen dari Tim Nuon, Belanda, yang merupakan juara bertahan, menjelaskan timnya tidak begitu perduli meskipun tidak mengambil posisi paling depan saat start.

Tim ini menurunkan mobil Nuna8 yang merupakan ciptaan 15 mahasiswa dalam ajang tahun ini.


Mobil Tenaga Surya Karya ITS Surabaya Berlaga di Darwin-Adelaide
Inilah 46 mobil tenaga surya asal 25 negara yang berlaga dalam lomba balap dari Darwin ke Adelaide menempuh jarak 3.000 km. (ABC/Steven Schubert)

"Dua tahun lalu kami start pada urutan ke-20 dan kami berhasil menjadi juara. Jadi posisi start tidak berpengaruh saya kira," katanya.

Ia menjelaskan, timnya kali ini mempersiapkan kendaraan mereka selama 14 bulan. (Detik)

Rabu, 09 September 2015

Terrafugia TF-X, mobil terbang masadepan

Terrafugia TF-X merupakan mobil terbang masa depan yang telah diimpikan oleh banyak orang. Kendaraan futuristik yang dirancang oleh perusahaan Terrafugia Boston, Amerika Serikat.

Terrafugia TF-X, mobil terbang masadepan

Mobil terbang ini mampuh menanpung empat penumpang dan untuk menerbangkannya tidak tergantung pada jalan atau landasan pacu karena kendaraan ini mampu lepas landas secara vertikal.

TF-X memiliki tenanga yang berasal dari energi listrik yang digabungkan dengan mesin berkekuatan 300 brake horse power berbahan bakar bensin. Dorongan saat mengangkasa dihasillkan dari kipas di bagian belakang dan baling-baling di ujung kedua sayap.


 
Terrafugia TF-X, mobil terbang masadepan

Saat melesat di udara kendaran ini mampuh mencapai kecepatan 321 km/jam dan mampuh menempuh jarak sejauh 800 Kilometer. Dengan TF-X, Anda mampuh bepergian dari Jakarta menuju Surabaya dengan waktu kurang dari tiga jam dalam sekali jalan.

Kendaraan ini baru akan mulai diproduksi pada pertengahan dekade mendatang, artinya kita harus menunggu delapan hingga duabelas tahun lagi untuk mendapatkan kendaraan ini. Terrafugia mengakui masih ada bebebrapa kendala kecil yang harus diperbaiki pada kendaraan ini. Masalah lain seputar pembuatan TF-X ialah soal keselamatan dan undang-undang. Kedua isu ini memainkan peranan signifikan dalam upaya pembuatan mobil terbang pada masa sebelumnya.


Terrafugia TF-X, mobil terbang masadepan

Terrafugia mengklaim bahwa ‘secara statistic TF-X ‘seharusnya lebih aman ketimbang mengendarai kendaraan modern’. Lalu, belajar mengemudikan TF-X hanya memerlukan lima jam latihan.

Hal ini bisa terwujud berkat sistem otopilot yang canggih. Begitu mengudara, TF-X akan terbang sendiri, walau pengendara bisa mengambil alih kendali. TX-X juga bisa mendarat otomatis tanpa campur tangan manusia.

Jika ada suatu insiden, TF-X bisa mengeluarkan parasut yang mampu menahan bobot sebuah mobil.


Terrafugia TF-X, mobil terbang masadepan

Secara teori, gagasan TF-X tampak tiada cacat. Namun, mencoba meyakinkan khalayak umum dan pembuat undang-undang bahwa menerbangkan mobil-pesawat pribadi benar-benar aman akan menjadi tantangan di masa depan.

Terrafugia belum memastikan berapa bandrol dari kendaraan ini, namun demikian mereka mengindikasikan bahwa harga TF-X bisa jadi setara dengan harga mobil Bugatti Veyron. (BBC)

Rabu, 02 September 2015

Manfaatkan Angin dan Air Siswa SMA ini Ciptakan Pembangkit Listrik "Winner Voice"

Dua siswa asal SMAN 2 Semarang menciptakan pembangkit listrik yang menanfaatkan energi angin dan pelepasan vortex atau aliran air yang berputar.

Zufar Maulana Ihsan dan Fa'iq Amanullah Utomo memberi nama temuannya ini dengan Winner Voice (Wind Energy and Vortex Induced Energy). Alat temuannya ini masuk dalam kategori Finalis National Young Inventors Award (NYIA) ke-8 Tahun 2015 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).


Manfaatkan Angin dan Air Siswa SMA ini Ciptakan Pembangkit Listrik "Winner Voice"

Menurut Fa'iq "Alat ini tentang pembangkit listrik yang mengambil energi angin dan pelepasan vortex. Dalam satu alat ada dua benda yang bisa mengekstrak dari dua elemen berbeda yakni air dan angin," jelasnya saat berbincang dengan detikcom.


Ada beberapa bagian di alat ini yakni pertama pembaur (diffuser) terbuat dari alumunium yang memiliki beban yang relatif ringan, tahan karat dan mudah dibentuk. Kedua baling-baling dari fiber glass yang memiliki kekuatan baik dan tahan lama dan mudah dibentuk. Ketiga tiang penyangga terbuat dari stainless stell yang meliki kekuatan dan daya tahan yang besar, tahan terhadap air dan penyebab korosif. Keempat magnet jenis neomydium magnet (Nd2Fe14B) yang terkuat dengan tingkat magnet yang tahan lama. Alat ini difungsikan untuk dipasang di tengah laut dan memanfaatkan arus air laut.

"Kita memanfaatkan arus, bisa dipasang di laut atau sungai. Selama ada arus itu bsia menghasilkan vortex yakni sebuah pola aliran karena disebabkan air dan udara yang terdorong oleh sesuai dan berbentuk lingkaran itu bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik," ucap Fa'iq.

Manfaatkan Angin dan Air Siswa SMA ini Ciptakan Pembangkit Listrik "Winner Voice"

"Cara kerjanya yakni ada arus dihalangi sama silinder berbentuk horizontal maka bisa membentuk pusaran atau vortex bagian atas dan bagian bawah. Pusaran yang berbentuk bergantian atas bawah dan naik turun itu kita hubungkan ke batang penghubung yang dihubungkan ke generator, batangnya dari alumunium agar tahan terhadap akrat karena di laut, dari generator itu bisa mengalirkan listrik yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan warga," tambahnya.

Menurut Fa'iq penggunaan energi angin dan pelepasan vortex ini ramah lingkungan dan termasuk dalam kategori sumber daya energi terbarukan (renewable). Sehingga manfaatnya akan bisa dirasakan dalam jangka waktu yang panjang. Fa'iq dan Zufar juga ingin mengatakan bahwa vortex bukan hanya dianggap sebagai hal yang negatif yang bisa merusak tetapi juga bisa bermanfaat.

"Selama ini vortex itu dianggap merusak jadi kami ingin membuat vortex ini bisa memiliki fungsi untuk menggerakan generator dan menghasilkan listrik," tuturnya.

Dalam pameran di LIPI beberapa waktu lalu, Fa'iq dan Zufar hanya menampilkan maket temuannya yang butuh waktu 3-4 bulan itu. Dia tidak menampilkan bentuk yang asli karena untuk membuat pembangkit listrik ini membutuhkan biaya yang sangat besar dan sejumlah ahli teknisi.

"Kita masih membutuhkan bantuan karena penelitian ini masih pioner belum banyak yang tahu dan masih butuh bantuan untuk pengembangan alat lebih lanjut selain itu juga membutuhkan pembimbing penelitian terkait perhitungan teknisnya," kata dia.  (detik)

Jokowi Resmikan Satelit 'Maritim' LAPAN A2

Satelit equatorial pertama buatan Indonesia yakni LAPAN A2, Akan diresmikan Presiden Joko Widodo. Satelit ini akan dipergunakan untuk pemantauan kemaritiman Indonesia.

Menurut agenda yang diperoleh pada Kamis (3/9/2015) Presiden Jokowi akan menyampaikan sambutan pada pukul 09.00 WIB di Pusat Teknologi Satelit LAPAN, Jl Cagak Satelit Km 04, Rancabungur, Bogor, Jawa Barat. Satelit tersebut akan diluncurkan dengan menumpang roket dari India esok hari.


Jokowi Resmikan Satelit 'Maritim' LAPAN A2

LAPAN A2 sebenarnya sudah selesai pada tahun 2012 dengan tahap perancangan, pembuatan, dan pengujian di dalam negeri. LAPAN A2 berbeda dengan 'kakaknya' yakni LAPAN A1/LAPAN-TUBSAT karena telah menggunakan teknologi satelit mikro, sehingga selangkah lebih maju.

Sementara LAPAN A1 sendiri sudah diluncurkan pada tahun 2007 atas kerja sama dengan TU Berlin, Jerman. Proses perakitan LAPAN A1 ketika itu di Jerman dan kini masih berada di orbit pada ketinggian 630 kilometer. Tetapi masa operasional LAPAN A1 sudah berakhir pada 2013.

LAPAN A2 nantinya akan diorbitkan dekat dengan equator atau garis khatulistiwa dengan inklinasi 6° pada ketinggian 650 kilometer. Misi dari satelit berbobot 78 kilogram tersebut adalah memantau permukaan bumi, identifikasi kapal laut, dan komunikasi radio amatir (ORARI).

Satelit karya anak bangsa ini dibenamkan kamera analog dengan resolusi 5 meter dan kamera digital dengan resolusi 4 meter. Satelit ini pun siap untuk menjelajahi Indonesia sebanyak 14 kali dalam sehari.

LAPAN A2 juga dibekali dengan Spaceborne Receiver Automatic Identification System dengan cakupan ribuan kilometer. Tentu saja teknologi ini ditujukan untuk memantau lalu lintas kapal, operasi keamanan laut, perikanan, dan eksplorasi sumber daya kelautan Indonesia. (Detik)

Minggu, 02 Agustus 2015

Lexus Kembangkan Papan Terbang Marty McFly

Masih ingat ketika Marty McFly, di film Back to The Future 2, berjalan dengan papan terbang? Lexus mencoba mewujudkannya tahun ini.

Produsen otomotif dari Toyota Motor itu dikabarkan sedang mengembangkan sebuah papan terbang yang terinspirasi dari film tersebut. Sebagai buktinya, Lexus menampilkan sebuah video tentang papan terbang itu, yang bernama Slide.


Slide, hoverboard atau papan terbang buatan Lexus
Slide, hoverboard atau papan terbang buatan Lexus

Video promo yang diposting di YouTube itu menampilkan Slide bisa membawa siapapun yang berdiri di atasnya untuk berpindah tempat. Penggunaannya hampir sama dengan memakai skateboard.

"Slide bisa terbang dengan mengandalkan superkonduktor dingin dari nitrogen cair. Ditambah bantuan magnet permanen. Di atasnya terdapat sebuah papan dari bambu untuk sandaran kaki," ujar juru bicara Lexus, dalam video tersebut.


Dilansir dari PC World, 24 Juni 2015, superkonduktor pada Slide mampu menciptakan levitasi magnetik. Sebuah Cryotat, atau perangkat untuk mengatur suhu udaha rendah, mendinginkan nitrogen cair di papan tersebut dan membuat superkonduktor selalu dingin. Ketika superkonduktor bersuhu dingin, dia menciptakan arus listrik yang dapat menahan magnet, sehingga papan bisa mengapung tanpa harus bersentuhan dengan dasarnya.

Ini artinya, untuk bisa terbang menggunakan Hoverboard, dibutuhkan permukaan jalan yang serba terbuat dari magnet. Jikat terbuat dari aspal, jangan harap papan itu bisa mengapung.

Slide diklaim tidak membutuhkan baterai atau suplai energi. Dia hanya membutuhkan magnet yang ditanam di permukaan agar bisa membuat papan mengapung, dengan memanfaatkan pertolakan antarmagnet di papan dan di permukaan.

Pihak Lexus mengatakan jika perangkat ini belum akan dijual di pasaran. Namun mereka memastikan jika uji coba akan dilakukan beberapa pekan ke depan di Barcelona. (VivaNews)

Rabu, 25 Maret 2015

Ilmuwan Rusia Ciptakan Jubah kamuflase Canggih Untuk Tetara

Perkembangan teknologi militer berkembang dengan cepat seiring dengan kubutuhan yang mendukung operasi militer dilapangan, salah satunya adalah baju atau jubah pelindung prajurit.

Ilmuwan Rusia Ciptakan Jubah kamuflase Canggih Untuk Tetara

Dimasa depan seragam tempur prajurit modern akan menggunkan bahan komposit yang ringan, dan memiliki fungsi seperti melindungi tubuh tentara dari ledakan senjata api, menyamarkan kehadiran tentara dalam spektrum radiasi tertentu, memblokir radiasi dalam spektrum ultraviolet dan inframerah, sehingga tentara tak akan terlihat oleh sensor termal. Kini, ilmuwan tengah menyusun material yang dapat memperkuat fitur tersebut.

Pasukan Rusia sudah mendapatkan perlengkapan canggih dari kompleks ‘tentara masa depan’ Ratnik (Prajurit), yang terdiri dari berbagai elemen termasuk pakaian tempur.


Menurut Russian Advanced Research Projects Foundation, seragam tempur prajurit yang ada saat ini belum memberikan keamanan dan kenyamanan yang dibutuhkan oleh tentara, sehingga perlu diciptakan material pakaian tempur baru demi keamanan dan kenyamanan para prajurit.

Sebagai langkah awal Russian Advanced Research Projects Foundation dan Universitas Negeri Saratov telah membangun Laboratorium Special-Purpose Materials guna mengembangkan material canggih untuk pakaian tempur para tentara. Berdasarkan kemampuan perlindungannya, material ini akan melampaui semua bahan pakaian tempur yang sudah ada saat ini.

Research Projects Foundation berusaha untuk mewujudkan basis teknologi untuk menciptakan material baru untuk pembuatan kain yang sangat halus menggunakan electrospinning. Dengan teknologi ini, diharapkan dapat menciptakan kain sintetis yang sangat halus dengan kemampuan perlindungan yang unik.

Singkatnya, dalam beberapa tahun ke depan militer Rusia akan memiliki ‘jubah tak terlihat’. Berkat struktur kainnya yang unik, material ini akan sangat ringan dan tidak menghambat sistem pernafasan pengguna, sehingga pakaian ini dapat digunakan oleh tentara sepanjang waktu. Saat ini, pakaian tempur kompleks Ratnik hanya dapat digunakan selama 48 jam. (rbth)

Sabtu, 21 Maret 2015

"Cyborg Cockroaches" Kecoa Pintar Pencari Korban Bencana

Pernahkan Anda membayangkan jika Kecoa suatu saat nanti menjadi pahlawan tatkala terjadi bencana yang tidak bisa sepenuhnya diatasi oleh manusia.?

Kecoa "Cyborg Cockroaches" suatu hari nanti dapat digunakan untuk membantu manusia mencari korban kecelakaan seperti masuk kedalam reruntuhan tambang bawah tanah guna mencari korban selamat atau melakukan tugas berbahaya seperti memasuki pembangkit listrik tenaga nuklir.

"Cyborg Cockroaches" Kecoa Pintar Pencari Korban Bencana
Cyborg Cockroaches menggendong peralatan elektronik yang dapat mengendalikan pergerakannya. | foto : Carlos Sanchez/livescience

Tim peneliti menggunakan kecoa hidup yang telah dilengkapi dengan elektrode untuk menstimulasi saraf pada antena kecoa tersebut.  Para peneliti dapat mengendalikan arah pergerakan kecoa dari jarak jauh. 


"Meski kecoa dianggap hama rumah, kegunaannya masih lebih baik bila dibandingkan dengan robot berukuran kecil yang pernah diciptakan," kata Hong Liang, imluan asal Texas A&M University Collage Station, Texas, AS, seperti dikutif Livesience. Ia menambahkan, alat pengendali jarak jauh membuat operator dapat memerintahkan kecoa pergi kemana saja, termasuk lokasi bencana yang membahayakan manusia.

Liang dan tim memasang elektorde pada saraf kecoa jenis amerika (Periplaneta americana) dan kecoa jenis discoid (Bleberus discoidalis). Meski nampak kejam karena menggunakan kecoa dan mengotrol kebebasan kehidupannya, namun waktu istirahat tetap diberikan kepada kecoa tersebut.

Senin, 16 Maret 2015

Comro, BTS Temuan Anak Bandung untuk Keperluan Konser

Lima anak Bandung dari Service Quality Center Telkomsel menelurkan sebuah alat bernama Comro (Compact Mobile Base Station Radio on Dense Area).

Alat ini memiliki fungsi yang sama seperti mobil BTS besar yang biasanya kita temukan di konser musik dan acara hiburan lainnya. Bedanya, alat ini memiliki ukuran jauh lebih kecil, sehingga lebih hemat tempat dan praktis.


Comro, BTS Temuan Anak Bandung untuk Keperluan Konser
Comro, BTS Temuan Anak Bandung untuk Keperluan Konser

Yuyun yang merupakan salah satu perancang alat ini menjelaskan "Kan biasanya mobil BTS itu besar-besar. Dayanya juga besar dan makan tempat banyak banget. Ini (Comro) kita buat lebih compact, supaya bisa dipakai di outdoor dan indoor".

Menurut Yuyun, ada beberapa komponen yang biasanya disematkan pada BTS besar, yang dilepas dari Comro. "Biasanya power supply-nya yang besar, yang ada generator dan sebagainya. Kalau di sini kita langsung pada modul-modulnya saja. Perangkat LTE-nya juga termasuk di situ," Yuyun menjelaskan.


Produk yang diberi nama "Comro" ini memang telah menggunakan jaringan 4G untuk pengoperasiannya. Ke depannya, Yuyun dan kawanannya berencana membuat BTS yang lebih kecil lagi. "Saat ini memang cuma bisa segini, nanti kita buat lebih kecil lagi," ia mengimbuhkan.

BTS Radio adalah infrastruktur telekomunikasi yang memfasilitasi komunikasi nirkabel antara piranti komunikasi dan jaringan operator. Selain digunakan pada acara-acara musik dan hiburan, alat ini penting pula digunakan untuk siaran televisi di luar studio.

Biasanya, mobil BTS memiliki ukuran yang cukup besar sehingga hanya bisa digunakan untuk acara outdoor. Selain itu, penggunaan dayanya pun lebih besar.

Dicoret-coret oleh Ridwan Kamil

Melihat anak muda Bandung yang kreatif dan solutif, Wali Kota Bandung Ridwan kamil pun menanggapi dengan positif. Menurutnya, kreativitas anak Bandung memang tak perlu diragukan lagi.

"Wah, jadi sekarang kalau mau konser bisa pakai yang lebih praktis, ya?," begitu kata pria yang kerap disapa Kang Emil ini ketika melihat Comro.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menuliskan kekagumannya terhadap COMRO
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menuliskan kekagumannya terhadap COMRO

Sontak, Kang Emil pun menuliskan rentetan kata untuk menggambarkan rasa bangganya kepada para penggodok Comro. "Karya luar biasa oleh anak Bandung," begitu tulisan yang dipatrikan pada badan Comro.

Melihat respon positif dari pemkot, Yuyun dan kawanannya pun berencana akan memperbanyak jumlah Comro. Untuk sementara, alat ini baru tersedia dua buah. Satu di Bandung dan satu lainnya di Jakarta.

"Kalau lihat antusias Bang Emil tadi, kita semangat bakal bikin lebih banyak lagi supaya bisa dipakai di tempat yang lebih banyak," katanya.  (Kompas)

Kamis, 05 Maret 2015

Lensa Kontak untuk Jadi "Superhero"

Sebuah teknologi lensa kontak yang dikembangkan oleh ilmuan Swiss diklaim mamu memberikan visibilitas penggunanya layaknya pahlawan super. Lensa kontak tersebut akan siap digunakan dalam kurun waktu dua tahun kedepan.

Lensa Kontak untuk Jadi "Superhero"
Telescopic Contact Lenses | foto : nbcnews
Lensa kontak ini memungkinkan penggunakanya untuk memperbesar objek yang dilihatnya hanya dengan mengedipkan mata. Pembesaran gambar yang diijinkan sampai tiga kali lipat.

Lensa kontak ini memiliki dua bagian. Cincin bagian dalam berfungsi sebagai pengatur penglihatan normal. Sementar itu, cincin bagian luarnya dapat digunakan untuk memperbesar pandangan hingga 2,8 kali.

Sistem Kerja Telescopic Contact Lens

Sebuah kedipan yang dilakukan oleh mata kanan pemakainya, akan mengaktifkan fungsi zoom (memperbesar). Sementara itu jika penggunanya mengedipkan mata sebelah kiri akan mengembalikan pandangan kedalam kondisi normal. 

Lensa Kontak untuk Jadi "Superhero"
Telescopic Contact Lenses | foto : nbcnews

Sang pencetus, Erik Temblay dari Swiss Federal Institut of Technology mengatakan, "timnya berharap teknologi ini akan bisa memenuhi harapan para penyandang tunanetra dan degenerasi makula terkait usia.  Kami berharap penelitian ini pada akhirnya akan mewujudkan suatu alat yang bisa menjadi pilihan pagi para penderita kelainan tersebut," ujar Eric seperti dkutip Ibtimes. (PR)

Perangi Kangker Google Ciptakan Kulit Manusia Buatan

Bertekad perangi kangker Google baru-baru ini membuat terobosan baru dibidang kesehatan, yakni dengan menciptakan kulit manusia palsu. Di masa depan, kulit manusia hasil rekayasa ini diklaim dapat menyelamatkan banyak nyawa.

Perangi Kangker Google Ciptakan Kulit Manusia Buatan

Salahsatu departemen Google, Google X yang dikhususkan untuk membuat terobosan baru dibidang teknologi, mendesain sebuah nanopartikel yang mampu mendeteksi sel kangker. Zat nanopartikel tersebut akan dimasukan kedalam tubuh melalui pil dan menempel pada partikel kangker yang mungkin dimiliki. Setelah itu partikel akan berjalan memalui pembulu darah, lalu kembai ke pergelangan tangan. Partikel kangker tersebut akan menyampaikan informasi melalui gelang dalam bentuk cahaya.

Mengantisipasi perbedaan kulit yang dimiliki setiap orang Google pada akhirnya membuat lengan palsu dengan kulit buatan sebagai senjata untuk membantu  partikel kangker tersebut melewati kulit. 

Menurut Kepala Google Life Science, Andrew Conrad diharapkan lengan palsu ini dapat dikembangkan sepenuhnya dalam hitungan tahun. "Memang terdengar aneh zat nanopartikel berenang disekitar tubuh Anda dan mampu berkomunikasi dengan gelang. Namun, lebih aneh lagi jika Anda membiarkan sel-sel kangker mengembang melalui tubuh yang terus mencoba untuk membunuh Anda," ujar Conard sepertidilansir laman PCAutority. (PR)

Rabu, 10 Desember 2014

Siswa SMA Semarang Ciptakan Rompi Antipeluru dari Sabut Kelapa

Berawal dari hobi bermain game sederhana, Aristio Kevin Ardyaneira Pratama (16) siswa kelas XI dan M. Iqbal Fauzi (15) siswa kelas XI MIA 5 SMAN 3 Semarang, Jawa Tengah berhasil mengubah sabut kelapa menjadi rompi antipeluru yang ramah lingkungan.

Aristio Kevin Ardyaneira Pratama  dan M. Iqbal Fauzi siswa kelas XI MIA 5 SMAN 3 Semarang Tengah memperlihatkan Stab-resistant and Ballistic Vest Made from Coconut Fiber Ciptaannya
foto : VIVAnews/Dwi Royanto

Hasil kreativitas yang diberi nama Stab-resistant and Ballistic Vest Made from Coconut Fiber ini bahkan telah diikut sertakan dalam berbagai ajang bergengsi seperti ajang 2nd International Science Project Olympiad (ISPrO) 2014 di Jakarta dan memperoleh medali perak. Kemudian di ajang Karyacipta Teknologi Tepat Guna di Semarang juga menyabet juara dua.

Berbahan Baku Sabut Kelapa

Kedua siswa berbakat di SMA 3 itu telah melakukan penelitian selama berulang kali selama enam bulan, beberapa kali gagal hingga akhirnya berhasil membuat rompi rompi anti peluru yang berkualitas baik
. Pemilihan bahan sabut, kelapa dipilih karena dinilai memiliki tekstur kuat menahan berbagai hantaman dari luar.


"Sabut kelapa kami pakai karena saat ditarik-tarik ternyata kuat, " kata Kevin di SMA 3 Semarang, Rabu 10 Desember 2014.

Pada percobaan tahap pertama sempat gagal, karena rompi antik berbahan sabut itu masih bisa ditembus peluru. Saat itu mereka masih memilih bahan fiber, sabut kelapa, dan plat seng pada percobaan pertama.

"Dulu masih ada seng-nya, sekarang sudah tidak pakai. Kami juga pernah coba pakai kain celana jeans tapi malah berat," kata Kevin yang menceritakan bahwa penelitian itu dlakukan selama enam bulan.

Sempat gagal pada empat kali percobaan. Namun semangat anak bangsa itu tak patah arang. Hasilnya positif. Percobaan kelima dan enam mereka berhasil. Peluru milik TNI/Polri dari pistol jenis M-1911 kaliber 0.45 inci yang dilontarkan dengan jarak 3 meter ternyata bisa memantul.

"Uji coba ini berhasil, setelah pelurunya mental dan kelebihan lainnya, rompi ini tidak bisa ditembus benda tajam," ucap  dia.

Semakin hari temuan mereka itu sudah mengalami kemajuan pesat. Dari prototipe pertama yang memiliki tebal 2,5 sentimeter dan berat 6 kilogram, saat ini lapisan antipeluru dari sabut kelapa itu hanya setebal 1,35 sentimeter dan berat 3 kilogram untuk dua lempeng di depan dan belakang rompi.

Tak tanggung-tanggung, kedua bocah cerdas itu selalu bekerjasama dengan TNI, Polisi, dan Perbakin untuk melakukan setiap uji coba rompi antipeluru ajaib tersebut. Mereka berharap temuan itu, bisa dikembangkan dan bisa menahan jenis peluru yang lebih berat. Sehingg ke depan, produk mereka bisa dimanfaatkan TNI maupun Polri.

Untuk biaya pembuatan lempengan rompi sendiri, kata dia, cukup murah dan dapat dibuat dalam waktu singkat. Mereka hanya butuh Rp800 ribu dalam mendapatkan setiap bahan yang diinginkan.

"Jika dibandingkan dengan rompi antipeluru baja memang produk kami lebih mahal tetapi jauh lebih ringan," kata Iqbal. (VivaNews)

Senin, 08 Desember 2014

Ilmuwan Indonesia berhasil ciptakan pil kontrasepsi untuk pria

Kabar gembira datang dari dunia kedokteran Indonesia, Seorang Propesor dari Universitas Airlangga berhasil menemukan pil kontrasepsi yang khusus diciptakan untuk pria. Adalah Profesor Bambang Prajogo berhasil menciptakan Pil kontrasepsi yang mirip dengan pil KB untuk wanita ini terbukti 99% efektif untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.

Profesor Bambang Prajogo - Ilmuwan Indonesia berhasil ciptakan pil kontrasepsi untuk pria
Profesor Bambang Prajogo | foto : thejakartapost.com

Profesor Bambang Prajogo menuturkan "Selama ini Anda mengenal bahwa pil KB hanya khusus diperuntukkan untuk wanita. Namun nyatanya kekayaan alam Indonesia sendiri menyimpan bahan alami yang menjadi bahan utama pembuat pil ini. Bahan alami tersebut adalah tanaman gendarussa, salah satu keluarga semak di Indonesia. Uniknya, sudah berabad-abad yang lalu tanaman ini telah digunakan oleh pria Papua menjadi alat kontrasepsi. Mereka merebus tanaman ini bersama dengan teh dan kemudian meminum airnya," jelasnya.


Butuh waktu hingga 30 tahun bagi Profesor Prayogo untuk menemukan bahwa enzim di dalam tanaman ini mampu mengganggu produksi enzim penting dalam sperma, dimana enzim ini mampuh melemahkan sperma, dan membuat sperma tidak mampu menembus sel terus selama proses pembuahan. "Disarankan, pria mengonsumsi pil ini satu jam sebelum berhubungan badan."


"Kesuburan pria bisa kembali setelah mereka tidak mengonsumsi pil ini selama beberapa bulan," lanjutnya.

Diminati Industri Farmasi Amerika SerikatProfesor Prayogo melanjutkan bahwa sebenarnya telah banyak perusahaan farmasi besar di Amerika Serikat yang bersedia membayar jutaan dolar untuk membeli penemuan dan hak paten yang dimilikinya. Namun dia menolak hal tersebut dan menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintahan Indonesia yang saat ini melakukan penelitian lanjutan untuk memverifikasi temuan tersebut. 

Sumber : Merdeka

Senin, 15 September 2014

Mahasiswa Ubaya Berhasil Ciptakan Helm Anti Kantuk

Kristiawan Manik dan Ricky Nathaniel Joevan, Dua mahasiswa Program Kekhususan Teknik Manufaktur Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya), berhasil menciptakan inovasi baru berupa helm anti kantuk yang praktis, murah, dan tidak mengubah bentuk helm.

Helm anti-kantuk buatan mereka berdua memanfaatkan denyut nadi, ini merupakan terobosan baru dimana  Helm anti-kantuk yang sudah beredar saat ini menggunakan gelombang syaraf otak.


Mahasiswa Ubaya Berhasil Ciptakan Helm Anti Kantuk


Menurut Ricky, helm anti-kantuk yang memanfaatkan gelombang syaraf otak memiliki harga yang mahal, karena harga dari alat deteksi gelombang syaraf otak itu lebih dari Rp 10 juta, sedangkan alat buatan tim Ubaya yang dinamai "Anti-Drowsing System (Androsys)" itu hanya Rp500 ribu.

Ide pembuatan alat ini berawal ketika Ricki dan Joevan mendapat tugas Mata Kuliah Design Project dari dosen pembimbing, Sunardi Tjandra ST MT, lalu kami mencari ide. Idenya dari nonton televisi terkait berita kecelakaan lalu lintas yang penyebab utamanya didominasi rasa kantuk," katanya.


Ia menjelaskan "Androsys" memanfaatkan denyut nadi sebagai sensor kantuk seseorang ketika mengemudi. "Denyut nadi seseorang itu normalnya 80 denyut/menit dan kalau lebih rendah dari itu berarti orang itu mengantuk," katanya.

Meski denyut nadi normal adalah 80 denyut/menit, namun denyut nadi mengantuk pada setiap orang bisa berbeda. "Bisa saja ada orang yang mengantuk pada 60 denyut/menit, tapi alat itu bisa disesuaikan dengan ukuran setiap orang," katanya.

Cara kerja Androsys bermula dari alat sensor (mikro-kontroler) untuk ukuran denyut nadi pengemudi kendaraan yang tidak sampai 80 denyut/menit dan terpasang pada bagian tubuh seseorang yang memiliki urat nadi.

"Bisa saja dipasang pada leher, tapi nantinya akan kami hubungkan dengan tali helm untuk mendukung program safety riding dari kepolisian, lalu alat sensor ini menghasilkan output untuk vibrator yang terpasang pada batok kepala dari helm dan akhirnya bergetar secara berkala untuk mencegah kantuk seorang pengemudi," katanya.

Ia mengatakan vibrator itu dipasang pada bagian dalam helm (di atas kepala/ubun-ubun) melalui pelubangan kecil tanpa mengurangi fungsi keamanan helm standar. "Produk kami itu mendapat dana hibah Rp9,5 juta dari Kemdikbud melalui PKM-KC (Program Kreativitas Karsa Cipta)," katanya.



Meraih Medali Emas diajang IIID UiTM Malaysia
 
Kristiawan Manik dan Ricky Nathaniel Joevan mengikutsertakan temuannya ini dalam ajang "International Invention Inovation and Design (IIID)" di Universiti Teknologi Mara (UiTM) Segamat, Johor, Malaysia, 20 Agustus.

"Hasilnya, produk kami dinyatakan sebagai temuan baru dan sukses dinobatkan menjadi peraih medali emas untuk kategori Invention. Itu jauh melebihi target kami. Harapannya, kami akan mengembangkan Androsys untuk pengemudi bus dan truk yang sering jalan malam," katanya.

Menanggapi prestasi anak didiknya, dosen pembimbing Sunardi Tjandra menilai keunggulan Androsys terletak pada harga yang murah dan tidak mengubah struktur helm. "Produk mereka juga dibutuhkan pasar untuk saat ini," katanya.  (Antara)

Rabu, 03 September 2014

Doormatics Keset Penghisap Debu Karya Mahasiswa ITS

Rizky Nafiar Rafiandi, dan rekan-rekannya dari ITS Surabaya berhasil menciptakan keset  serbaguna yang memiliki fungsi sebagai penghisap debu, sehingga kotoran yang ada tidak lengket di permukaan, melainkan langsung terhisap.


Doormatics Keset Penghisap Debu Karya Mahasiswa ITS Foto: dok.ITS

Menurut Rizky ide pebuatan alat ini Berawal dari pengalaman pribadi ketika membersihkan lantai, tiba-tiba adik Rizky datang dan mengotori kembali lantai tersebut
Meski pada saat itu, adiknya sudah membersihkan kaki di keset, namun karena keset tersebut juga berdebu, maka lantai kembali kotor. Karena itu dirinya ingin membuat keset yang secara otomatis menyerap kotoran.


Untuk mewujudkan alat itu,
rizky mengajak teman-teman membuatnya bersama-sama, lalu mengajukan proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti). akhirnya tim pun mendapatkan dana sebesar Rp7,5 juta dari Ditjen Dikti untuk mewujudkan sebuah alat yang kemudian diberi nama "Doormatics" ini. Menurut Rizky  "Inovasi itu dapat menekan pengeluaran biaya gaji karyawan dalam suatu perusahaan, karena mengurangi jumlah petugas cleaning service," katanya.

Mahasiswa jurusan Teknik Elektro ITS itu mengungkapkan proses pembuatan keset serbaguna tersebut menggandeng salah satu bengkel di daerah Semolowaru, Surabaya, karena ada beberapa kendala terkait pembuatan keset serbaguna ini.

"Salah satu kendalanya adalah hambatan dalam mengoptimalkan kinerja keset ini. Saat pembuatannya, kami mengalami kesulitan dalam meningkatkan daya hisap debu pada keset. Kami juga kesusahan dalam membuat konstruksi mekaniknya," katanya.

Dengan bantuan bengkel itulah, Rizky dan timmnya akhirnya berhasil menciptakan Doormatics yang membutuhkan daya listrik sekitar 380 watt. "Kamu akhirnya juga lolos mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-27 di Semarang," katanya.


Sumber : (antaranews.com | okezone.com)

Rabu, 27 Agustus 2014

Indonesia Ingin Kembangkan Sistemnya Aplikasi Satelit Navigasi

Meski saat ini Indonesia baru mampu menguasai aplikasi satelit navigasi, tapi tidak menutup kemungkinan ke depan SDM tanah air mampuh mengembangkan sistem aplikasi satelit navigasi secara mandiri. 


Indonesia Ingin Kembangkan Sistemnya Aplikasi Satelit Navigasi


"Kita baru menguasai aspek aplikasi satelit navigasi," kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin. Pernyataan ini disampaikan pada pembukaan pelatihan internasional tentang sistem satelit navigasi global (Global Navigation Satellite System/GNSS) di Jakarta, Selasa 26 Agustus 2014.
 
Thomas mengatakan, pengembangan satelit di Indonesia fokus pada sistem satelit penginderaan jauh dan satelit komunikasi. Hal itu sesuai dengan rencana dan strategi Lapan hingga tahun 2019.


"Kemungkinan setelah 2019 kita akan kembangkan sistem navigasi ini," kata Thomas.

Lebih lanjut dia mengatakan, sistem GNSS sudah lama digunakan untuk navigasi misalnya Amerika dengan sistem GPS, Eropa dengan sistem yang dinamakan Galileo, dan Tiongkok dengan Baidu.

Saat ini Indonesia belum menjadi anggota penuh dari organisasi keantariksaan Asia Pasifik (Asia Pasific Space Cooperation organization/APSCO) tapi baru sebagai negara penandatangan.

Pelatihan internasional yang digelar APSCO untuk pertama kalinya di Jakarta itu diikuti perwakilan dari negara anggota APSCO yaitu Bangladesh, Tiongkok, Iran, Mongolia, Pakistan, Peru, Italia, Turki, dan Indonesia.

Menurut Thomas, pelatihan tersebut sangat penting untuk meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia masing-masing negara anggota APSCO di bidang teknologi sistem navigasi dan pemanfaatannya.


Sumber : Antaranews.com

Selasa, 16 Juli 2013

Ilmuan Ciptakan Temukan Paving Block Anti Polusi Udara

Polusi udara didaerah perkotaan selalu jadi masalah utama, banyaknya kendaraan yang melintas dijalan menjadi salah satu sumber utamanya. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencari solusi mengatasi masalah ini, mulai dari penanaman pohon, uji emisi kendaraan, bahkan rencana penggunaan mobil listrik secara masal yang terbukti raham lingkungan dan bebas emisi pun tengah dikampanyekan. 

 
Ilmuan Belanda Temukan Paving Block Anti Polusi Udara
Trotoar jalan di Hengalo, Belanda telah dipasangi Paving Block Anti Polusi Udara | huffingtonpost.com


Sebuah terobosan baru datang dari sejumlah ilmuwan Eindhoven University of Technology, Belanda, berhasil membuat paving block (bata beton) untuk jalan dan trotoar yang mampu menyerap polusi udara. Penemuan yang telah dipublikasikan pada Journal of Hazardous Materials Paving block ini diklaim mampu mengurangi polusi udara hingga 45 persen.

Teknologi ini telah diujicoba pada sebuah blok jalan di kota Hengalo, Belanda.  Pemasangan teknologi ini pun tidak membutuhkan peralatan khusus, selain materi paving yang telah disemprot lapisan titanium oksida. Bahan ini mampu menyerap dan menghilangkan polutan dari udara untuk kemudian mengubahnya menjadi zat tidak berbahaya.
 

Nitrogen oksida (NOx) merupakan sebutan umum mono-nitrogen oksida NO dan NO2 (nitrogen monoksida dan nitrogen dioksida). Zat ini merupakan jenis gas beracun yang dihasilkan dari reaksi nitrogen dan oksigen saat proses pembakaran dalam mesin kendaraan bermotor. Hal ini yang menyebabkan tingkat polutan nitrogen oksida di kota besar yang padat kendaraan, sangat tinggi. Gas ini juga yang berperan dalam terciptanya hujan asam serta ozon troposfer. (Viva| Huffingtonpost)

Senin, 15 Juli 2013

Batrai Lithium Indonesia Untuk Mobil Listrik, Tank, Kapal Selam dan Pesawat Terbang

Perusahaan Indonesia berhasil mengembangkan batrai litium untuk Mobil Listrik, Tank, Kapal Selam dan Pewasat Terbang

Mimpi untuk mewujudkan mobil listrik nasional bukan isapan jempol semata, kerja nyata untuk mewujudkan mimpi ini telah dilalkukan beberapa tahun belakangan ini, beberapa ahli otomotif dari berbagai instansi (Akademisi, Lembaga Riset Negara, BUMN dan Swasta) telah berkerja keras menciptakan berbagai prototype mobil listrik. 

Baterai lithium yang sudah diproduksi PT Nipres Tbk
Baterai lithium yang sudah diproduksi PT Nipres Tbk | kompasotomotif

Hasilnya sangat membanggakan beberapa prototype mobil listrik berhasil diciptakan diantaranya mobil listrik Tucuxi salah satu hasil karya tim "Pendawa Putra Petir" yang dipelopori mentri BUMN Dahlan Iskan. disamping itu beberapa instansi lainnya berhasil menciptakan mobil listrik diantaranya LIPI, PT. Pindad, dan bebrapa Perancang Mobil listrik dari Kampus-kampus di Indonesia berhasil menciptakan prototype mobil listrik Nasional.


Tahun lalu ketika mobil listrik generasi pertama diluncurkan oleh Tim Putra Petir BUMN, memang masih menyisakan pekerjaan penting yang harus dilakukan, baterai mobil tersebut masih impor dari Tiongkok. Belum menggunakan baterai buatan alsi Indonesia. Selama ini Indonesia baru mampu memproduksi baterai biasa. Padahal untuk mobil listrik tidak mungkin menggunakan biasa, karena ukuran batrai terlalu besar dan bobotnyapun terlalu berat untuk digunakan pada mobil listrik. Dengan lithium untuk kekuatan yang sama hanya diperlukan ukuran yang kecil, hanya 30 persen baterai biasa. Beratnya pun hanya sepertiga berat baterai biasa. Dan yang lebih penting dengan baterai lithium proses charging-nya bisa cepat.


Metri BUMN Dahlan Iskan tenganh mengendari mobil listrik TUCUXI
Metri BUMN Dahlan Iskan tenganh mengendari mobil listrik TUCUXI

Atas gagasan dan dorongan mentri BUMN Dahlan Iskan taklama setelah peluncuran tiga mobil listrik jenis city car karya Dasep Ahmadi, Dahlan Iskan berharap ada salah satu perusahaan batrai yang berpotensi dan mampu memproduksi baterai lithium di dalam negeri mulai mengembangkan batrai jenis ini. Gagasan Metri BUMN ini ternyata diduking olah PT Nipress Tbk di Bogor untukk mengembangkan batrai jenis ini. Pengalamannya memproduksi baterai sudah puluhan tahun. Pasarnya tidak hanya di dalam negeri. Ekspornya sudah merambah dunia sampai Eropa.

Perusahaan publik ini tertantang untuk ambil bagian mewujudkan gagasan besar itu, dengan mengembangkan baterai lithium. PT Nipress, menyatakan sanggup menanamkan investasi puluhan miliar rupiah dan sanggup meluncurkan produk baterai lithium pertama di bulan Juli 2013.

Ini bertepatan dengan perencanaan lahirnya mobil listrik Putra Petir generasi kedua. Yakni mobil listrik yang disiapkan untuk dipamerkan dan digunakan dalam forum APEC di Bali awal Oktober depan.

Dengan keberhasilan Indonesia memproduksi baterai lithium maka hampir 50 persen persoalan mobil listrik nasional teratasi. 50 persennya lagi sebagian besar bisa diadakan di dalam negeri. Seperti pembuatan body dan interiornya. Motor listriknya pun sudah akan bisa diproduksi di dalam negeri.

PT. Nipress mengembangkan beberapa sistem modul batrai litium ini. Ada modul untuk bus listrik, ada modul untuk mobil listrik jenis MPV, ada modul untuk city car, dan ada modul untuk mobil sport.

Dengan ditentukannya modul baterai lithium ini maka siapa pun yang ingin memproduksi mobil listrik tidak perlu lagi bingung. Terutama dalam penempatan baterainya. Ikuti saja standar modul yang ditetapkan produsen lithium tersebut.



Mengembangkan Batrai Tank, Kapal Selam dan Pesawat Terbang

Menurut Richard Tandiono, selaku Direktur Operasional PT Nipress Tbk, menuturkan "Visi kami berubah sejak 2008. Kami tak ingin hanya disebut pemroduksi aki mobil dan sepeda motor, tetapi all about batteries. Selain baterai lithium untuk mobil listrik, kami juga sedang mengembangkan baterai untuk kendaraan militer,” ungkapnya.

Batrai Tank, Kapal Selam dan Pesawat Terbang Nipress
Aktivitas di pabrik PT Nipress Tbk di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. | Kompasotomotif

Saat ini PT Nipress telah berkolaborasi dengan TNI AL untuk mengembangkan baterai kapal selam. Produksinya sudah berjalan dan rencananya pada 2025 sudah selesai memroduksi 18 baterai masing-masing seberat 240 ton untuk 18 kapal selam.

Kerjasama juga dijalin dengan TNI AD dan AU dengan penyediaan baterai khusus untuk tank, kendaraan amfibi, dan pesawat terbang. "Kami juga dipercaya memroduksi baterai untuk menggerakkan torpedo yang akan kami realisasikan di 2016. Sedangkan baterai untuk helikopter dan pesawat di 2015,” tegas Richard.

Selain itu, perusahaan juga mengembangkan stationary battery (baterai untuk penyimpanan energi), misalnya cadangan energi untuk emergency lighting gedung, BTS berbagai provider, atau untuk mem-back up energi di data centre yang tak boleh sekali pun berkedip. Nipress juga sudah siap dengan penyediaan baterai untuk energi terbarukan seperti peranti penyimpan energi matahari atau pun angin.



Sumber Referensi: