Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Januari 2016

Mahasiswa Indonesia Berhasil Kembangkan Kursi Roda Digerakan Sinyal Otak [ video ]

Alat yang digerakkan dengan sinyal otak bukan khayalan. Dua mahasiswa Universitas Bina Nusantara (Binus) ini mengembangkan kursi roda yang digerakkan sinyal otak.

Adalah Jennifer Santoso (21) dan Ivan Halim Parmonangan (21), mahasiswa Semester 7 Teknik Informatika yang membuat proyek skripsi karena melihat banyak sekitarnya membutuhkan kursi roda.



2 Mahasiswa Indonesia Berhasil Kembangkan Kursi Roda Digerakkan Sinyal Otak

"Banyak yang tangannya patah, cacat seluruh tubuh, lumpuh dari leher ke bawah. Kami ingin membuat sistem yang menolong orang lain," tutur Jennifer kala ditemui di Binus Kampus Jalan KH Syahdan, Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (22/1/2016).

Dari observasi penyandang disabilitas di sekitar mereka, ternyata, banyak disabilitas itu otak dan pikirannya masih sehat. Sehingga, Jennifer dan Ivan mengembangkan kursi roda dengan kendali otak. Penelitian ini sebenarnya melanjutkan dan mengembangkan penelitian kakak kelas mereka.


Maka, komponen-komponen utamanya adalah kursi roda dan alat bernama neuroheadset. Neuroheadset adalah alat yang bisa menangkap gelombang listrik otak dan memperkuatnya dalam skala ribuan kali. Neuroheadset ini terhubung ke aplikasi software yang mereka buat di dalam CPU.

"Aplikasi kami akan mengolah sinyal yang diterima dari neuroheadset, lalu difilter untuk mengambil gelombang alfa dan beta, yang kemudian ditransformasi dengan algoritma Fast Fourier Transformation, yang kemudian jadi input untuk mesin," jelas Jennifer.

Aplikasi yang dibuatnya kemudian akan meneruskan sinyal yang sedang diproses ke Arduino Uno yakni papan mikrokontroler, dan diteruskan ke motor driver yang akan digunakan untuk menggerakkan kedua motor DC, motor listrik yang bekerja menggunakan sumber tegangan DC.

Cara kerja kursi roda ini memakai 2 data, dengan electric encephalo graphi (EEG) alias sinyal otak untuk disabilitas yang lehernya tidak bisa bergerak dan dengan gyroskop untuk menangkap sensor gerak, bagi penderita yang masih bisa menggerakkan leher.

Penampakan kursi roda itu,berkelindan kabel-kabel di sebelah kiri yangterhubungkekotakmetalberisimikrokontrolerdanmotordriver, serta ada accu yang diwadahi kotak metal di bawahnya.

Ivan lantas memperagakan kursi roda itu. Dia duduk di atas kursi roda,memakaiwirelessneuroheadset dengan 14 tangkai di yang melingkar di kepala,danmemangkulaptop . Untuk pengguna pertama, aplikasi software harus merekam respon pengguna, sinyal otak untuk bergerak maju, kiri, kanan, memutar kekiridankanandarineuroheadset.

Kemudian, untuk menggerakkan kursi roda, Ivan terlihat fokus sekali. Roda-roda kursi itu bergerak maju, sementara Ivan hanya berpangku tangan. Bila ingin menghentikan kursi roda, cukup dengan kedipan mata, mata kiri, kanan atau kedua mata.

"Apabila tertidur atau panik, kursi roda itu otomatis stop," jelas Jennifer.

Alat dan aplikasi yang mereka namakan Bina Nusantara Wheelchair (BNW)-Kursi Roda dengan Kendali Otak ini mereka kembangkan sejak Februari-Oktober 2015 lalu.

"Yang lama adalah kami mencari cara bagaimana membuat aplikasi ini mudah digunakan untuk pengguna," tutur Jennifer.

Karya mereka meraih juara 2 dalam lomba Pagelaran Mahasiswa Nasional bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (Gemastik) 2015 kategori sistem cerdas. Riset ini juga mengantarkan dosen pembimbing skripsi mereka, Dr Widodo Budiharto, SSi, MKom masuk 15 besar Dosen Berprestasi Nasional. Penelitian ini dibiayai oleh Toray Research Grand dari Jepang.


EEG dan Neuroheadset Teknologi Kunci Pengerak Kursi Roda dengan Sinyal Otak

 Electric encephalo graphi (EEG) dan neuroheadset menjadi kuncinya.

"Soal pembacaan pikiran, secara teoritis, otak kita itu memancarkan sinyal, namanya EEG atau electro encephalo graph. Bagaimana sinyal itu tergantung dari apa yang kita pikirkan," demikian kata dosen Ilmu Komputer Universitas Binus, Dr Widodo Budiharto, SSi, MKom ditemui di kampusnya, Jl KH Syahdan, Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (22/1/2016).



Widodo adalah dosen pembimbing skripsi 2 mahasiswa Binus yang mengembangkan kursi roda yang digerakkan sinyal otak, Jennifer Santoso (21) dan Ivan Halim Parmonangan (21).

Sinyal otak alias EEG ini, menurutnya berupa gelombang listrik sebesar 1 mikro Volt atau kurang, yang memancar dari kulit kepala. Besaran sinyal otak itu, tergantung dari tipe kulit dan ketebalan rambut. Untuk menangkap EEG ini, maka dibutuhkan sensor EEG.
Electric encephalo graphi (EEG) dan neuroheadset menjadi kuncinya.

"Soal pembacaan pikiran, secara teoritis, otak kita itu memancarkan sinyal, namanya EEG atau electro encephalo graph. Bagaimana sinyal itu tergantung dari apa yang kita pikirkan," demikian kata dosen Ilmu Komputer Universitas Binus, Dr Widodo Budiharto, SSi, MKom ditemui di kampusnya, Jl KH Syahdan, Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (22/1/2016).

Widodo adalah dosen pembimbing skripsi 2 mahasiswa Binus yang mengembangkan kursi roda yang digerakkan sinyal otak, Jennifer Santoso (21) dan Ivan Halim Parmonangan (21).

Sinyal otak alias EEG ini, menurutnya berupa gelombang listrik sebesar 1 mikro Volt atau kurang, yang memancar dari kulit kepala. Besaran sinyal otak itu, tergantung dari tipe kulit dan ketebalan rambut. Untuk menangkap EEG ini, maka dibutuhkan sensor EEG.

"Dalam aplikasinya, bisa kita terapkan pada berbagai aplikasi, seperti game, atau menggerakkan kursi roda yang maju-mundur. Sensor EEG ini membaca pikiran kita," jelas Widodo.

Nah, dalam pengembangan kursi roda Bina Nusantara Wheelcair (BNW) - Kursi Roda dengan Kendali Otak, sensor EEG yang dipakai bernama "neuroheadset". Widodo membeli neuroheadset ini untuk kepentingan riset anak didiknya, bermerek Emotiv Epoc buatan Australia. Harganya, sekitar Rp1,5 juta.

"Neuroheadset ini fungsinya menguatkan sinyal otak dalam orde ribuan kali," imbuh dia.

Sinyak otak 1 mikro Volt atau kurang ini, jelas tak bisa menggerakkan benda. Sinyal ini harus diperbesar menjadi sampai 100 ribu kali, hingga sekitar 5 volt. Nah sinyal yang sudah kuat ini kemudian menjadi input data dalam aplikasi software untuk diklasifikasikan hingga menggerakkan motor.

Ilmu EEG dan neuroheadset ini sebenarnya bukan hal baru. Widodo mengatakan, sejak tahun 1929, seorang ilmuwan sudah berhasil menunjukkan gambaran EEG seorang anak yang dipublikasikan secara ilmiah. Begitupun neuroheadset, alat ini juga bisa dibuat sendiri.

"Alat ini (neuroheadset) sebenarnya gampang dibuat, tidak mahal dan teknologi lama. Kalau buat sendiri paling habis Rp 500 ribu," jelas dia.

Namun, mengapa dirinya tak membuat secara manual, tantangannya adalah pada noise alias sinyal-sinyal otak yang 'berisik'. Alat buatan sendiri, keberisikannya sangat besar dan belum bisa melakukan filter sinyal otak mana yang penting dan dibutuhkan. Neuroheadset ini, imbuhnya, juga belum ada yang diproduksi di Indonesia karena tantangan kesulitan mengurangi 'berisik' itu tadi.

"Kalau perangkat ini kita buat, maka wasting time dan hasilnya tidak optimal," jelas dia.


 (Detik)

Berikut video peragaan kursi roda BNW ini yang diunggah Jennifer di Youtube:




Senin, 23 Maret 2015

Kalkulator Canggih Pendeteksi Serangan Jantung dan Stroke

Serangan jantung dan stroke merupakan kondisi kesehatan yang selama ini sulit diprediksi. Namun, apa jadinya jika ada alat atau aplikasi yang bisa menghitung kapan seseorang  akan  terkena serangan jantung dan juga stroke?. 

Kalkulator Canggih Pendeteksi Serangan Jantung dan Stroke

National Health Service (NHS) Inggris, baru saja meluncurkan aplikasi kalkulator kontroversial yang konon bisa memperkirakan waktu datangnya serangan jantung atau stroke. 

Para ahli kesehatan mengatakan, alat ini diharapkan akan menjadi  alat bantu "tanda peringatan" bagi semua orang. Kalkulator ini juga akan menjadi pelecut bagi sesorang untuk meninggalkan gaya hidup beresiko. 


Untuk menggunakan kalkulator ini, seseorang diwajibkan untuk memaparkalaan data-data dasar seperti usia, berat badan, tinggi badan, kebiasaan merokok, beberapa rincian medis lain, dan keterangan riwayat keluarga yang pernah mengalami serangan jantung sebelum usia 60 tahun. 

Alat ini bisa diakses secara online disitus resmi NHS atau lewat aplikasi mobil. "Mengerti usia jantung akan menjadi sinyal  bagi seseorang yang mungkin memiliki resiko. Ini akan menjadi tanda untuk bereaksi dan melalukan perubahan gaya hidup,"  ujar Profesor John Deanfield, ahli jantung NHS yang ikut membantu pengembangan alat seperti dikutip dari halaman telegraph. (PR)

Minggu, 15 Maret 2015

Peneliti Temukan Sumber Rasa Sakit di Otak

Penelitian terbaru berhasil menemukan "sensor rasa sakit" sebagai respon pada otak ketika kita menginjak paku payung atau pada saat tulang sikut terbentur benda.

Peneliti melakukan scan pencitraan otak orang yang mengalami rasa sakit akibat waxing dan mereda selama beberapa jam. Mereka mengidentifikasikan sebuah bagian dari otak bernama dorsal posterior insula, yang menjadi aktif saat seseorang merespons rasa sakit yang dialami.


Peneliti Temukan Sumber Rasa Sakit di Otak

"Kami telah mengidentifikasi area pada otak yang bertanggung jawab atas inti 'sakit' dari pengalaman rasa sakit," terang pemimpin penelitian sekaligus profesor ilmu anestetik di University of Oxford, Inggris, Irene Tracey.

Temuan ini kelak bisa membantu dokter mendeteksi sakit pada orang yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik, seperti anak kecil, orang yang sedang koma, atau demensia. Penelitian ini sudah dipublikasikan pada 9 Maret dalam jurnal Nature Neuroscience.


Dalam studi tersebut, Tracey dan rekan-rekannya mengoles krim mengandung zat kimia capsaicin, bahan dalam cabai yang menyebabkan sensasi terbakar, di 17 kaki relawan yang sehat. Peneliti kemudian meletakkan botol air panas atau air dingin di atas kulitnya untuk menambah atau mengurangi rasa sakit masing-masing.

Sementara itu, mereka memindai otak para peserta penelitian dan menanyakan seberapa banyak rasa sakit yang mereka rasakan. Mereka menemukan bahwa dorsal posterior insula lebih bersinar di pemindaian otak ketika partisipan melaporkan rasa sakit yang amat sangat, menyimpulkan bahwa bagian ini merupakan tolok ukur rasa sakit di otak.

Selanjutnya, tim berencana untuk menguji apakah mungkin untuk "mematikan" area otak tersebut pada orang yang menderita sakit keras, khususnya yang sudah mengalami kegagalan dalam pengobatan. (Kompas)

Kamis, 05 Maret 2015

Lensa Kontak untuk Jadi "Superhero"

Sebuah teknologi lensa kontak yang dikembangkan oleh ilmuan Swiss diklaim mamu memberikan visibilitas penggunanya layaknya pahlawan super. Lensa kontak tersebut akan siap digunakan dalam kurun waktu dua tahun kedepan.

Lensa Kontak untuk Jadi "Superhero"
Telescopic Contact Lenses | foto : nbcnews
Lensa kontak ini memungkinkan penggunakanya untuk memperbesar objek yang dilihatnya hanya dengan mengedipkan mata. Pembesaran gambar yang diijinkan sampai tiga kali lipat.

Lensa kontak ini memiliki dua bagian. Cincin bagian dalam berfungsi sebagai pengatur penglihatan normal. Sementar itu, cincin bagian luarnya dapat digunakan untuk memperbesar pandangan hingga 2,8 kali.

Sistem Kerja Telescopic Contact Lens

Sebuah kedipan yang dilakukan oleh mata kanan pemakainya, akan mengaktifkan fungsi zoom (memperbesar). Sementara itu jika penggunanya mengedipkan mata sebelah kiri akan mengembalikan pandangan kedalam kondisi normal. 

Lensa Kontak untuk Jadi "Superhero"
Telescopic Contact Lenses | foto : nbcnews

Sang pencetus, Erik Temblay dari Swiss Federal Institut of Technology mengatakan, "timnya berharap teknologi ini akan bisa memenuhi harapan para penyandang tunanetra dan degenerasi makula terkait usia.  Kami berharap penelitian ini pada akhirnya akan mewujudkan suatu alat yang bisa menjadi pilihan pagi para penderita kelainan tersebut," ujar Eric seperti dkutip Ibtimes. (PR)

Perangi Kangker Google Ciptakan Kulit Manusia Buatan

Bertekad perangi kangker Google baru-baru ini membuat terobosan baru dibidang kesehatan, yakni dengan menciptakan kulit manusia palsu. Di masa depan, kulit manusia hasil rekayasa ini diklaim dapat menyelamatkan banyak nyawa.

Perangi Kangker Google Ciptakan Kulit Manusia Buatan

Salahsatu departemen Google, Google X yang dikhususkan untuk membuat terobosan baru dibidang teknologi, mendesain sebuah nanopartikel yang mampu mendeteksi sel kangker. Zat nanopartikel tersebut akan dimasukan kedalam tubuh melalui pil dan menempel pada partikel kangker yang mungkin dimiliki. Setelah itu partikel akan berjalan memalui pembulu darah, lalu kembai ke pergelangan tangan. Partikel kangker tersebut akan menyampaikan informasi melalui gelang dalam bentuk cahaya.

Mengantisipasi perbedaan kulit yang dimiliki setiap orang Google pada akhirnya membuat lengan palsu dengan kulit buatan sebagai senjata untuk membantu  partikel kangker tersebut melewati kulit. 

Menurut Kepala Google Life Science, Andrew Conrad diharapkan lengan palsu ini dapat dikembangkan sepenuhnya dalam hitungan tahun. "Memang terdengar aneh zat nanopartikel berenang disekitar tubuh Anda dan mampu berkomunikasi dengan gelang. Namun, lebih aneh lagi jika Anda membiarkan sel-sel kangker mengembang melalui tubuh yang terus mencoba untuk membunuh Anda," ujar Conard sepertidilansir laman PCAutority. (PR)

Senin, 08 Desember 2014

Ilmuwan Indonesia berhasil ciptakan pil kontrasepsi untuk pria

Kabar gembira datang dari dunia kedokteran Indonesia, Seorang Propesor dari Universitas Airlangga berhasil menemukan pil kontrasepsi yang khusus diciptakan untuk pria. Adalah Profesor Bambang Prajogo berhasil menciptakan Pil kontrasepsi yang mirip dengan pil KB untuk wanita ini terbukti 99% efektif untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.

Profesor Bambang Prajogo - Ilmuwan Indonesia berhasil ciptakan pil kontrasepsi untuk pria
Profesor Bambang Prajogo | foto : thejakartapost.com

Profesor Bambang Prajogo menuturkan "Selama ini Anda mengenal bahwa pil KB hanya khusus diperuntukkan untuk wanita. Namun nyatanya kekayaan alam Indonesia sendiri menyimpan bahan alami yang menjadi bahan utama pembuat pil ini. Bahan alami tersebut adalah tanaman gendarussa, salah satu keluarga semak di Indonesia. Uniknya, sudah berabad-abad yang lalu tanaman ini telah digunakan oleh pria Papua menjadi alat kontrasepsi. Mereka merebus tanaman ini bersama dengan teh dan kemudian meminum airnya," jelasnya.


Butuh waktu hingga 30 tahun bagi Profesor Prayogo untuk menemukan bahwa enzim di dalam tanaman ini mampu mengganggu produksi enzim penting dalam sperma, dimana enzim ini mampuh melemahkan sperma, dan membuat sperma tidak mampu menembus sel terus selama proses pembuahan. "Disarankan, pria mengonsumsi pil ini satu jam sebelum berhubungan badan."


"Kesuburan pria bisa kembali setelah mereka tidak mengonsumsi pil ini selama beberapa bulan," lanjutnya.

Diminati Industri Farmasi Amerika SerikatProfesor Prayogo melanjutkan bahwa sebenarnya telah banyak perusahaan farmasi besar di Amerika Serikat yang bersedia membayar jutaan dolar untuk membeli penemuan dan hak paten yang dimilikinya. Namun dia menolak hal tersebut dan menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintahan Indonesia yang saat ini melakukan penelitian lanjutan untuk memverifikasi temuan tersebut. 

Sumber : Merdeka

Selasa, 07 Oktober 2014

Mengenal Little Moe, Robot Mungil Pembunuh Virus Ebola

Perusahaan pembasmi kuman asal San Antonia, AS, Xenex. Berhasil membuat robot anti virus ebola yang belakangan ini meresahkan penduduk Dunia. 


Little Moe, Robot Mungil Pembunuh Virus Ebola

Robot kecil sekitar setengah meter yang diberi nama Little Moe ini mampuh membersihkan ruangan dari virus berbahaya dalam hitungan menit. Litte Moe diproyeksikan menjaga ruangan di rumah sakit di Dallas, yang merawat seorang yang diduga terinfeksi Ebola.

Diharapkan dengan robot ini, rumah sakit itu bebas Ebola. Robot ini memang dikhususkan untuk membasmi kuman dalam ruangan, yang saat ini tengah muncul Ebola di AS.


Melansir Daily Mail, Rabu 8 Oktober 2014, Litte Moe saat ini tengah disiagakan pada 250 rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Amerika Serikat, termasuk rumah sakit di Dallas tersebut.

Kinerja Little Moe tak main-main. Robot ini menggunakan xenon, gas tak beracun yang tak berwarna, untuk menghasilkan sinar ultraviolet yang nantinya digunakan menghancurkan virus.

Robot ini menyebarkan 1,5 tekanan per detik sampai area tiga meter setiap arah untuk membunuh virus Ebola. Saat sinar ultraviolet dipaparkan, Robot akan mengeluarkan sinar biru mirip kilatan.

Dilaporkan cahaya yang dihasilkan robot ini sangat terang, 25 ribu kali lebih terang dari sinar matahari.

"Robot kami menjamin ruang akan aman untuk pasien berikutnya, dengan menghancurkan kuman pada permukaan yang sensitif serta mampu membersihkan sudut dan celah ruangan," jelas juru bicara Xenex.

Disebutkan teknologi yang memanfaatkan sinar ultraviolet untuk mensterilkan ruangan, sebenarnya sudah ada dalam beberapa dekade. Tetapi, kemampuan pada robot Litte Moe menawarkan hal yang lebih canggih. Robot ini memiliki pemrosesan yang cepat dengan menggunakan xenon yang ditempatkan pada air raksa.

Basmi Ebola 2 menit

Sebagai perbandingan, mesin ultraviolet berbasis air raksa biasa butuh waktu satu jam untuk membasmi kuman dalam ruangan. Sedangkan robot Litte Moe hanya butuh waktu dua menit saja. 

"Misi kami selalu untuk menghilangkan patogen yang menyebabkan infeksi dan berdampak pada kesehatan serta kehidupa jutaan pasien serta keluarga mereka. Dan, Ebola tak berbeda dengan pembasmian kuman lainnya," jelas Xenex dalam pernyataannya.

Juru bicara itu mengatakan virus Ebola sebenarnya mudah untuk dibunuh dibandingkan penyakit lainnya yang kebal pembasmian kuman. Robot ini berbiaya US$104 ribu sekitar Rp1,7 miliar.

Virus Ebola yang muncul sejak 1976, telah menyebar menjadi wabah simultan di Sudan dan Republik Demokratik Kongo.

Virus itu kini telah muncul di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Spanyol. Gejala Ebola meliputi demam, kelemahan terus menerus, nyeri otot, sakit kepala, sakit tenggorokan diikuti dengan muntah-muntah, diare, ruam, ginjal dan gangguan fungsi hati. Dalam beberapa kasus terjadi pendarahan internal dan eksternal.

Ebola memiliki masa inkubasi panjang hingga 21 hari, artinya orang yang tertular dapat tak menyadari dirinya terinfeksi sampai munculnya gejala tersebut.




Sumber : VivaNews

Senin, 15 September 2014

Mahasiswa Ubaya Berhasil Ciptakan Helm Anti Kantuk

Kristiawan Manik dan Ricky Nathaniel Joevan, Dua mahasiswa Program Kekhususan Teknik Manufaktur Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya), berhasil menciptakan inovasi baru berupa helm anti kantuk yang praktis, murah, dan tidak mengubah bentuk helm.

Helm anti-kantuk buatan mereka berdua memanfaatkan denyut nadi, ini merupakan terobosan baru dimana  Helm anti-kantuk yang sudah beredar saat ini menggunakan gelombang syaraf otak.


Mahasiswa Ubaya Berhasil Ciptakan Helm Anti Kantuk


Menurut Ricky, helm anti-kantuk yang memanfaatkan gelombang syaraf otak memiliki harga yang mahal, karena harga dari alat deteksi gelombang syaraf otak itu lebih dari Rp 10 juta, sedangkan alat buatan tim Ubaya yang dinamai "Anti-Drowsing System (Androsys)" itu hanya Rp500 ribu.

Ide pembuatan alat ini berawal ketika Ricki dan Joevan mendapat tugas Mata Kuliah Design Project dari dosen pembimbing, Sunardi Tjandra ST MT, lalu kami mencari ide. Idenya dari nonton televisi terkait berita kecelakaan lalu lintas yang penyebab utamanya didominasi rasa kantuk," katanya.


Ia menjelaskan "Androsys" memanfaatkan denyut nadi sebagai sensor kantuk seseorang ketika mengemudi. "Denyut nadi seseorang itu normalnya 80 denyut/menit dan kalau lebih rendah dari itu berarti orang itu mengantuk," katanya.

Meski denyut nadi normal adalah 80 denyut/menit, namun denyut nadi mengantuk pada setiap orang bisa berbeda. "Bisa saja ada orang yang mengantuk pada 60 denyut/menit, tapi alat itu bisa disesuaikan dengan ukuran setiap orang," katanya.

Cara kerja Androsys bermula dari alat sensor (mikro-kontroler) untuk ukuran denyut nadi pengemudi kendaraan yang tidak sampai 80 denyut/menit dan terpasang pada bagian tubuh seseorang yang memiliki urat nadi.

"Bisa saja dipasang pada leher, tapi nantinya akan kami hubungkan dengan tali helm untuk mendukung program safety riding dari kepolisian, lalu alat sensor ini menghasilkan output untuk vibrator yang terpasang pada batok kepala dari helm dan akhirnya bergetar secara berkala untuk mencegah kantuk seorang pengemudi," katanya.

Ia mengatakan vibrator itu dipasang pada bagian dalam helm (di atas kepala/ubun-ubun) melalui pelubangan kecil tanpa mengurangi fungsi keamanan helm standar. "Produk kami itu mendapat dana hibah Rp9,5 juta dari Kemdikbud melalui PKM-KC (Program Kreativitas Karsa Cipta)," katanya.



Meraih Medali Emas diajang IIID UiTM Malaysia
 
Kristiawan Manik dan Ricky Nathaniel Joevan mengikutsertakan temuannya ini dalam ajang "International Invention Inovation and Design (IIID)" di Universiti Teknologi Mara (UiTM) Segamat, Johor, Malaysia, 20 Agustus.

"Hasilnya, produk kami dinyatakan sebagai temuan baru dan sukses dinobatkan menjadi peraih medali emas untuk kategori Invention. Itu jauh melebihi target kami. Harapannya, kami akan mengembangkan Androsys untuk pengemudi bus dan truk yang sering jalan malam," katanya.

Menanggapi prestasi anak didiknya, dosen pembimbing Sunardi Tjandra menilai keunggulan Androsys terletak pada harga yang murah dan tidak mengubah struktur helm. "Produk mereka juga dibutuhkan pasar untuk saat ini," katanya.  (Antara)

Selasa, 29 April 2014

Dunia Akui Kehebatan Produk Nuklir Kesehatan Besutan PT Batan Tekno (Persero)

PT Batan Tekno (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak bidang nuklir nasional telah mampu mengembangkan dan memproduksi produk nuklir kesehatan dengan pengayaan uranium tingkat rendah. Produk yang dihasilkan adalah radioisotop.

Dunia Akui Kehebatan Produk Nuklir Kesehatan Besutan PT Batan Tekno (Persero)

Produk ini sangat bermanfaat pada dunia kesehatan, digunakan untuk radioterapi menyembuhkan penyakit seperti kanker,
penyempitan pembuluh darah," Kata Direktur Utama Batan Tekno Yudiutomo Imardjoko pada acara Indonesia Green Infrastructure Summit 2014 di Pacific Place, Jakarta, Selasa (29/4/2014).


Kita patut bangga ternyata radioisotop produksi BUMN bidang nuklir ini juga diakui kehebatannya oleh lembaga dunia. Radioisotop Batan Tekno merupakan produk nuklir dengan pengayaan uranium paling rendah untuk keperluan kesehatan. Yudiutomo Imardjoko mengungkapkan "Kita satu-satunya yang pakai tingkat uranium pengayaan tingkat rendah. Tahun lalu kita menangkan the best di dunia yang pakai pengayaan uranium tingkat rendah," sebutnya.



Batan Tekno merupakan satu-satunya perusahaan yang memproduksi radioisotop di Asia dimana produksi radioisotop ini sudah diekspor ke Malaysia, Vietnam, Bangladesh, Filiphina, Vietnam, Bangladesh hingga Tiongkok.

Meski berjaya di luar negeri, radioisotop buatan Batan Tekno kurang memperoleh tempat khusus di dalam negeri. Baru 16 rumah sakit tanah air yang memakai radioisotop buatan Indonesia ini. Padahal di luar negeri produk radioisotop Indonesia sangat diburu dan diakui keandalannya.

"Dukungan pemerintah juga rendah. Baru 16 Rumah Sakit di Indonesia yang pakai produk ini. Kalau di luar negeri banyak yang pakai," paparnya. 



Harga Lebih Murah dibanding Produk Luar Negeri

PT Batan Tekno (Persero) memproduksi radioisotop dengan sistem pengayaan uranium rendah. Harganya pun lebih rendah daripada harga negara lain. Di dalam negeri setidaknya 16 rumah sakit
yang mendapatkan pasokan radioisotop dari Batan Tekno, seperti RS PAD, Siloam, dan RS Harapan Kita, telah mengunakan produk ini 100 currie per minggunya.

Harga radioisotop yang dijual Batan Tekno kepada rumah sakit di Indonesia itu lebih murah ketimbang harga yang ditawarkan negara asing kepada Indonesia. Harga radioisotop Batan sebesar US$800 per currie, sedangkan harga dari Amerika, Afrika Selatan, dan Eropa, sebesar US$1.400-2.500 per currie.

"Harganya juga naik turun. Kalau impor terus, kan kasihan," kata dia.

Selain memasok ke dalam negeri, Batan Tekno pun memasok radioisotop ke negara-negara lainnya, seperti rumah sakit Malaysia dan Bangladesh. Sebab, di sana rumah sakit yang memiliki fasilitas radioaktif lebih banyak daripada di Indonesia.

"Malaysia saja ada 28 rumah sakit, Filipina ada 22 rumah sakit, dan Thailand ada 24 rumah sakit. Harganya pun kami jual mahal. Ke Malaysia (misalnya) US$1.200 per currie," kata dia.



Sumber Referensi:
  • Detik Finance
  • VivaNews

Minggu, 16 Maret 2014

CityZen Sciences Luncurkan Kain Pendeteksi Kesehatan


 
CityZen Sciences berhasil meluncurkan kain temuan terbarunya berupa kain berteknologi tinggi. Kain yang dinamai Smart Sensing ini dapat memantau kesehatan dan tingkat kelelahan pemakainya.

Perusahaan yang berada di Perancis ini pada awalnya menciptakan kain tersebut untuk kebutuhan atlet, namun menurut CEO CityZen Sciences aplikasi ini telah dibuat lebih meluas.


Kain ini memiliki pendetek mikro dan memiliki kemampuan untuk mengukur tingkat denyut jantung, panas tubuh dan pernapasan. Lengkap dengan teknologi GPS yang juga dapat mendeteksi lokasi berikut semua gerakan yang menggunakannya, lalu semua data akan dikirim ke smartphone yang terbubung dengan kain ini.

Senin, 19 Agustus 2013

Tim Peneliti UNAIR Kembangkan Pil KB Untuk Pria

Tim Peneliti Tumbuhan Gandarusa dari Universitas Airlangga (Unair) berhasil meneliti bahan Pil Keluarga Berencana (KB)  khusus bagi pria yang terbuat dari tanaman Gandarusa asal Papua.

Bahan Pil KB untuk Pria dari Tumbuhan Gandarusa Asal Papua
Bahan Pil KB untuk Pria dari Tumbuhan Gandarusa Asal Papua  | foto : bumi-herbal.com

Dikutip dari Antara 18 Agustus 2013, peneliti Gandarusa dari Universitas Airlangga Dr Bambang Prajogo menuturkan bahwa "Penelitiannya sudah selesai".

Tim peneliti telah menyerahkan ekstrak ethanol terpurifikasi dari Gandarusa kepada petinggi suatu perusahaan farmasi. Untuk selanjutnya ekstrak tersebut akan dilanjutkan pada tahap industri setelah berhasil mendapatkan izin edar dari badan terkait.


Dr Bambang juga menjelaskan bahwa "Pil KB itu nanti sejenis fitofarmaka (obat/herbal yang sudah menjalani uji pada manusia). Kami melakukan penelitian sejak tahun 1985, dan selesai tahun 2013 atau 28 tahun, tapi itu sudah percepatan, karena penelitian di luar negeri bisa sampai 100 tahun," katanya.

Pihaknya menemukan tanaman itu di pedalaman Papua yang sudah dimanfaatkan masyarakat adat setempat untuk menunda kehamilan. Kemudian pihaknya meneliti.

"Saya melalukan penelitian dalam empat fase. Fase pertama untuk orang biasa yang sifatnya umum, lalu fase kedua penelitian kepada objek, yakni pasangan usia subur (PUS)," katanya.

Untuk fase kedua, penelitian dilakukan pada 120 PUS dengan minum pil KB pria itu selama 108 hari, dan hasilnya 100 persen berhasil (tidak hamil).

"Fase ketiga penelitian pada 350 PUS dengan minum selama 30 hari, dan hasilnya 99,96 persen berhasil, kemudian saya serahkan kepada industri, tapi saya akan mengembangkan terus hingga fase keempat dengan waktu minum semakin pendek hingga 15 hari minum," katanya.

Menurut dia, gandarusa di Papua dimanfaatkan masyarakat adat setempat hanya selang waktu beberapa jam dari mengonsumsi.  (ANT)

Selasa, 09 Juli 2013

Teknik Tes Darah Terkini Mampu Prediksi Umur Seseorang

Tim Peneliti King College, Inggris, menemukan teknik baru dalam tes darah, teknik ini diyakini bisa memprediksi seberapa cepat seseorang akan bertambah tua. Hasil dari penelitian ini seakan membuka jalan untuk pengembangan pengobatan penyakit yang berhubungan dengan proses penuaan seseorang.

Teknik Tes Darah Terkini Mampu Prediksi Umur Seseorang

Berdasarkan informasi yang dilansir Telegraph, 10 Juli 2013, tim peneliti berhasil mengidentifikasi penanda kimia yang dikenal sebagai metabolit di dalam darah manusia, yang berhubungan erat dengan penuaan.

Dari hasil penelitian berhasil diidentifikasikan bahwa salah satu dari 22 metabolit yang ditemukan di dalam darah manusia bisa menunjukkan kondisi penuaan manusia. Tim Peneliti yakin, dengan teknik baru dalam tes darah ini, manusia bisa megindetifikasi masalah penuaan.


Peneliti utama di King College,
Ana Valdes menuturkan bahwa 22 metabolit yang terkait dengan penuaan terdeteksi ada di dalam darah. "Dengan begitu, di masa depan kita bisa memprediksi umur dan penuaan seseorang dari sampel darahnya," ujar Valdes. "Metabolit ini sangat unik, berhubungan kuat dengan usia dan penyakit seseorang," tandasnya.

Dia menjelaskan, metabolit secara spesifik juga berkaitan dengan fungsi paru-paru, kepadatan mineral pada tulang, serta berat pada saat manusia lahir.  "Itu semua bisa digunakan untuk mengetahui kondisi penuaan seseorang," ujar Valdes.

Indikasi Berat badan

Sementara itu, Tim Spector, Kepala Departemen Penelitian di King College mengatakan, para ilmuwan telah lama mengetahui berat badan seseorang pada saat lahir bisa menentukan kesehatan seseorang pada usia pertengahan dan tua.

"Orang yang lahir dengan berat badan rendah maka akan sangat rentan terhadap penyakit pada usia pertengahan dan tuanya," kata Spector.

"Dengan penemuan terbaru ini, maka membuka jalur baru untuk mengungkapkan penyakit seseorang pada saat berusia tua," ujar Spector.

Untuk mengetahui lebih detail, penelitian ini sudah diterbitkan di International Journal of Epidemiology. | Viva News