Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin mengatakan pentingnya pengembangan sumber energi baru untuk memenuhi pasokan energi bagi industri dalam negeri. Salah satunya adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berbasis thorium.
Menurut Saleh, tenaga nuklir memiliki potensi menjadi salah satu penyuplai energi listrik di Indonesia, apalagi sumber bahan baku thorium di Indonesia sangat berlimpah, terutama di Bangka Belitung, Kepulauan Riau.
“Sumber bahan baku thorium melimpah di Bangka Belitung. Ini sangat diperlukan, mengingat ke depan kebutuhan energi untuk industri sangat besar dan tentu dengan harga yang kompetitif,” ujarnya di Jakarta, Kamis (5/5/2016).
Kalkulasi yang ada, bahan baku thorium di Bangka Belitung diperkirakan mencapai 170 ribu ton. Dengan perhitungan 1 ton thorium mampu memproduksi 1.000 megawatt (MW) per tahun, maka jumlah bahan baku tersebut bisa mengoperasikan 170 unit pembangkit listrik selama 1.000 tahun.
Dari sisi total biaya produksi, PLTN thorium juga lebih murah karena biayanya hanya USD3 sen per kWh. Sedangkan menggunakan batu bara harganya USD5,6 sen per kWh, gas USD4,8 sen per kWh, tenaga bayu USD18,4 sen per kWh, dan tenaga surya USD23,5 sen per kWh.
Sementara itu, anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Tumiran mendukung usulan tersebut. Menurut dia, penyediaan energi untuk industri sangat mutlak bagi kelangsungan perekonomian, lapangan kerja, dan kemandirian ekonomi.
“Teknologi penyediaan energi terus berkembang dan kita dapat memanfaatkannya sesuai peta potensi energi nasional, termasuk teknologi reaktor yang generasi kini sudah jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. PLTN thorium dapat menyediakan kebutuhan energi yang semakin meninggi," kata dia.
Pria yang juga Dekan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada ini menambahkan, pemanfaatan thorium termasuk diversifikasi energi. Sejalan dengan aktivitas industri yang banyak menyerap investasi dan sumber daya mineral. (Sindo)
Tampilkan postingan dengan label Energi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Energi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 05 Mei 2016
Kamis, 17 September 2015
Siswa SMKN Aceh Ubah Air Untuk Bahan Bakar Sepedah Motor
Siswa SMKN 2 Sinabang, Pulau Simeulue, Aceh, berhasil memodifikasi sepeda motor berbahan bakar air. Hanya dengan satu liter air, motor ini diklaim bisa menempuh jarak 700 kilometer.
Adalah Nanda Alavanta bersama teman-teman sekelasnya di jurusan Teknik Otomotif SMKN 2 Sinabang yang berinisiatif merancang motor berbahan bakar air ini. "Habis waktu sebulan membuat ini. Dari penilitian sampai proses erencangnya," cerita Nanda kepada Okezone di sela pameran Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh ke 56 baru-baru ini.
Motor irit bensin dan ramah lingkungan itu pertama kali dipamerkan Nanda dan timnya dalam Expo Pendidikan yang berlangsung hingga 18 September. Motor ini pun menyedot perhatian banyak pengunjung.
Nanda mengaku sudah menguji ketahanan motor buatannya. Menurutnya, dengan seliter air murni, motor tersebut sanggup berjalan hingga 700 Km dengan kecepatan normal.
"Sudah kami tes keliling pulau (Simeulue), Alhamdulillah baik-baik saja. Yang penting diperhatikan adalah kondisi aki dan kipronya harus oke. Kalau tidak maka jalannya bisa tersendat," sebut siswa Kelas II itu.
Ide membuat bahan bakar air ini muncul dari keinginan Nanda bersama teman-temannya di sekolah. "Kami pengen ada perubahan di sekolah," tuturnya.
Setelah berdiskusi dengan seorang gurunya, Wendi Sebastian, mereka sepakat membuat motor berbahan bakar air. Honda Win-100 butut yang ada di laboratorium otomotif sekolahnya dijadikan sebagai objek eksperimen.
Bahannya sederhana. Botol plastik tahan panas diisi air murni, kemudian disambungkan ke silinder pembakaran menggunakan slang stainless stell. Dua kabel dari baterai aki juga disambungkan ke dalam botol.
Untuk bisa menjalankan mesin maka aki dan air harus di-charge dulu. Caranya cukup dengan menghidupkan motor, dan biarkan dulu mesin menyela. Jika susah hidup perlu dipancing dengan beberapa tetes bensin. Proses charging ini diperlukan untuk memisahkan sulfur atau zar kapur dari air aki dengan unsur hidrogen dan oksigen yang ada dalam air.
Daya aki dan aliran listriknya perlu diperhatikan. Jika aliran listrik bagus, maka sulfur akan menempel dengan sendirinya di stainless steel dan tidak masuk ke dalam silinder. Selanjutnya hidrogen yang merupakan senyawa mudah terbakar, dan oksigen juga terpisah.
Menurut Wendi Sebastian, guru SMKN 2 Sinabang yang mendampingi siswa membuat motor berbahan bakar air, pemisahan hidrogen dan oksigen bisa menimbulkan ledakan jika tersulut api.
"Itulah yang dimanfaatkan untuk pembakaran," ujarnya.
Wendi mengatakan, pengecasan sebaiknya gunakan aki basah. Pasalnya, dalam setiap pengecasan butuh 5 ampere serta aki akan panas dan menguap.
"Kalau menguap airnya berkurang, aki basah bisa kita isi lagi. Kalau aki kering tidak," ujarnya.
Untuk membuat inovasi ini mereka menghabiskan dana sekira Rp1 juta. Semuanya ditanggung Kepala SMKN 2 Sinabang, Safdar SR.
"Bahannya tidak sampai Rp400 ribu, tapi untuk risetnya yang banyak habis biaya," tutur Wendi.
Contohnya, kata Wendi, percobaan memisahkan unsur hidrogen, oksigen dan sulfur gagal hingga tujuh kali. "Tapi tetap kami coba hingga berhasil," sebutnya.
Wendi menilai, motor berbahan bakar air ini bisa menjadi alternatif di masa depan, terutama untuk warga yang tinggal di Pulau Simeulue. "Di sini harga BBM mahal, jadi mungkin ini bisa jadi solusi," katanya.
Untuk tahap awal, lanjut dia, motor berbahan bakar air ini akan dibudayakan di SMK tersebut. Beberapa siswa termasuk Nanda sudah berniat memodifikasi motornya agar bisa menggunakan air sebagai bahan bakar.
"Jika nanti berhasil kami akan siap diminta untuk membantu orang lain yang membutuhkan motor ini," sebutnya. (Okezone)
Adalah Nanda Alavanta bersama teman-teman sekelasnya di jurusan Teknik Otomotif SMKN 2 Sinabang yang berinisiatif merancang motor berbahan bakar air ini. "Habis waktu sebulan membuat ini. Dari penilitian sampai proses erencangnya," cerita Nanda kepada Okezone di sela pameran Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh ke 56 baru-baru ini.
Motor irit bensin dan ramah lingkungan itu pertama kali dipamerkan Nanda dan timnya dalam Expo Pendidikan yang berlangsung hingga 18 September. Motor ini pun menyedot perhatian banyak pengunjung.
Nanda mengaku sudah menguji ketahanan motor buatannya. Menurutnya, dengan seliter air murni, motor tersebut sanggup berjalan hingga 700 Km dengan kecepatan normal.
"Sudah kami tes keliling pulau (Simeulue), Alhamdulillah baik-baik saja. Yang penting diperhatikan adalah kondisi aki dan kipronya harus oke. Kalau tidak maka jalannya bisa tersendat," sebut siswa Kelas II itu.
Ide membuat bahan bakar air ini muncul dari keinginan Nanda bersama teman-temannya di sekolah. "Kami pengen ada perubahan di sekolah," tuturnya.
Setelah berdiskusi dengan seorang gurunya, Wendi Sebastian, mereka sepakat membuat motor berbahan bakar air. Honda Win-100 butut yang ada di laboratorium otomotif sekolahnya dijadikan sebagai objek eksperimen.
Bahannya sederhana. Botol plastik tahan panas diisi air murni, kemudian disambungkan ke silinder pembakaran menggunakan slang stainless stell. Dua kabel dari baterai aki juga disambungkan ke dalam botol.
Untuk bisa menjalankan mesin maka aki dan air harus di-charge dulu. Caranya cukup dengan menghidupkan motor, dan biarkan dulu mesin menyela. Jika susah hidup perlu dipancing dengan beberapa tetes bensin. Proses charging ini diperlukan untuk memisahkan sulfur atau zar kapur dari air aki dengan unsur hidrogen dan oksigen yang ada dalam air.
Daya aki dan aliran listriknya perlu diperhatikan. Jika aliran listrik bagus, maka sulfur akan menempel dengan sendirinya di stainless steel dan tidak masuk ke dalam silinder. Selanjutnya hidrogen yang merupakan senyawa mudah terbakar, dan oksigen juga terpisah.
Menurut Wendi Sebastian, guru SMKN 2 Sinabang yang mendampingi siswa membuat motor berbahan bakar air, pemisahan hidrogen dan oksigen bisa menimbulkan ledakan jika tersulut api.
"Itulah yang dimanfaatkan untuk pembakaran," ujarnya.
Wendi mengatakan, pengecasan sebaiknya gunakan aki basah. Pasalnya, dalam setiap pengecasan butuh 5 ampere serta aki akan panas dan menguap.
"Kalau menguap airnya berkurang, aki basah bisa kita isi lagi. Kalau aki kering tidak," ujarnya.
Untuk membuat inovasi ini mereka menghabiskan dana sekira Rp1 juta. Semuanya ditanggung Kepala SMKN 2 Sinabang, Safdar SR.
"Bahannya tidak sampai Rp400 ribu, tapi untuk risetnya yang banyak habis biaya," tutur Wendi.
Contohnya, kata Wendi, percobaan memisahkan unsur hidrogen, oksigen dan sulfur gagal hingga tujuh kali. "Tapi tetap kami coba hingga berhasil," sebutnya.
Wendi menilai, motor berbahan bakar air ini bisa menjadi alternatif di masa depan, terutama untuk warga yang tinggal di Pulau Simeulue. "Di sini harga BBM mahal, jadi mungkin ini bisa jadi solusi," katanya.
Untuk tahap awal, lanjut dia, motor berbahan bakar air ini akan dibudayakan di SMK tersebut. Beberapa siswa termasuk Nanda sudah berniat memodifikasi motornya agar bisa menggunakan air sebagai bahan bakar.
"Jika nanti berhasil kami akan siap diminta untuk membantu orang lain yang membutuhkan motor ini," sebutnya. (Okezone)
Rabu, 02 September 2015
Manfaatkan Angin dan Air Siswa SMA ini Ciptakan Pembangkit Listrik "Winner Voice"
Dua siswa asal SMAN 2 Semarang menciptakan pembangkit listrik yang menanfaatkan energi angin dan pelepasan vortex atau aliran air yang berputar.
Zufar Maulana Ihsan dan Fa'iq Amanullah Utomo memberi nama temuannya ini dengan Winner Voice (Wind Energy and Vortex Induced Energy). Alat temuannya ini masuk dalam kategori Finalis National Young Inventors Award (NYIA) ke-8 Tahun 2015 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Menurut Fa'iq "Alat ini tentang pembangkit listrik yang mengambil energi angin dan pelepasan vortex. Dalam satu alat ada dua benda yang bisa mengekstrak dari dua elemen berbeda yakni air dan angin," jelasnya saat berbincang dengan detikcom.
Ada beberapa bagian di alat ini yakni pertama pembaur (diffuser) terbuat dari alumunium yang memiliki beban yang relatif ringan, tahan karat dan mudah dibentuk. Kedua baling-baling dari fiber glass yang memiliki kekuatan baik dan tahan lama dan mudah dibentuk. Ketiga tiang penyangga terbuat dari stainless stell yang meliki kekuatan dan daya tahan yang besar, tahan terhadap air dan penyebab korosif. Keempat magnet jenis neomydium magnet (Nd2Fe14B) yang terkuat dengan tingkat magnet yang tahan lama. Alat ini difungsikan untuk dipasang di tengah laut dan memanfaatkan arus air laut.
"Kita memanfaatkan arus, bisa dipasang di laut atau sungai. Selama ada arus itu bsia menghasilkan vortex yakni sebuah pola aliran karena disebabkan air dan udara yang terdorong oleh sesuai dan berbentuk lingkaran itu bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik," ucap Fa'iq.
"Cara kerjanya yakni ada arus dihalangi sama silinder berbentuk horizontal maka bisa membentuk pusaran atau vortex bagian atas dan bagian bawah. Pusaran yang berbentuk bergantian atas bawah dan naik turun itu kita hubungkan ke batang penghubung yang dihubungkan ke generator, batangnya dari alumunium agar tahan terhadap akrat karena di laut, dari generator itu bisa mengalirkan listrik yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan warga," tambahnya.
Menurut Fa'iq penggunaan energi angin dan pelepasan vortex ini ramah lingkungan dan termasuk dalam kategori sumber daya energi terbarukan (renewable). Sehingga manfaatnya akan bisa dirasakan dalam jangka waktu yang panjang. Fa'iq dan Zufar juga ingin mengatakan bahwa vortex bukan hanya dianggap sebagai hal yang negatif yang bisa merusak tetapi juga bisa bermanfaat.
"Selama ini vortex itu dianggap merusak jadi kami ingin membuat vortex ini bisa memiliki fungsi untuk menggerakan generator dan menghasilkan listrik," tuturnya.
Dalam pameran di LIPI beberapa waktu lalu, Fa'iq dan Zufar hanya menampilkan maket temuannya yang butuh waktu 3-4 bulan itu. Dia tidak menampilkan bentuk yang asli karena untuk membuat pembangkit listrik ini membutuhkan biaya yang sangat besar dan sejumlah ahli teknisi.
"Kita masih membutuhkan bantuan karena penelitian ini masih pioner belum banyak yang tahu dan masih butuh bantuan untuk pengembangan alat lebih lanjut selain itu juga membutuhkan pembimbing penelitian terkait perhitungan teknisnya," kata dia. (detik)
Zufar Maulana Ihsan dan Fa'iq Amanullah Utomo memberi nama temuannya ini dengan Winner Voice (Wind Energy and Vortex Induced Energy). Alat temuannya ini masuk dalam kategori Finalis National Young Inventors Award (NYIA) ke-8 Tahun 2015 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Menurut Fa'iq "Alat ini tentang pembangkit listrik yang mengambil energi angin dan pelepasan vortex. Dalam satu alat ada dua benda yang bisa mengekstrak dari dua elemen berbeda yakni air dan angin," jelasnya saat berbincang dengan detikcom.
Ada beberapa bagian di alat ini yakni pertama pembaur (diffuser) terbuat dari alumunium yang memiliki beban yang relatif ringan, tahan karat dan mudah dibentuk. Kedua baling-baling dari fiber glass yang memiliki kekuatan baik dan tahan lama dan mudah dibentuk. Ketiga tiang penyangga terbuat dari stainless stell yang meliki kekuatan dan daya tahan yang besar, tahan terhadap air dan penyebab korosif. Keempat magnet jenis neomydium magnet (Nd2Fe14B) yang terkuat dengan tingkat magnet yang tahan lama. Alat ini difungsikan untuk dipasang di tengah laut dan memanfaatkan arus air laut.
"Kita memanfaatkan arus, bisa dipasang di laut atau sungai. Selama ada arus itu bsia menghasilkan vortex yakni sebuah pola aliran karena disebabkan air dan udara yang terdorong oleh sesuai dan berbentuk lingkaran itu bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik," ucap Fa'iq.
"Cara kerjanya yakni ada arus dihalangi sama silinder berbentuk horizontal maka bisa membentuk pusaran atau vortex bagian atas dan bagian bawah. Pusaran yang berbentuk bergantian atas bawah dan naik turun itu kita hubungkan ke batang penghubung yang dihubungkan ke generator, batangnya dari alumunium agar tahan terhadap akrat karena di laut, dari generator itu bisa mengalirkan listrik yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan warga," tambahnya.
Menurut Fa'iq penggunaan energi angin dan pelepasan vortex ini ramah lingkungan dan termasuk dalam kategori sumber daya energi terbarukan (renewable). Sehingga manfaatnya akan bisa dirasakan dalam jangka waktu yang panjang. Fa'iq dan Zufar juga ingin mengatakan bahwa vortex bukan hanya dianggap sebagai hal yang negatif yang bisa merusak tetapi juga bisa bermanfaat.
"Selama ini vortex itu dianggap merusak jadi kami ingin membuat vortex ini bisa memiliki fungsi untuk menggerakan generator dan menghasilkan listrik," tuturnya.
Dalam pameran di LIPI beberapa waktu lalu, Fa'iq dan Zufar hanya menampilkan maket temuannya yang butuh waktu 3-4 bulan itu. Dia tidak menampilkan bentuk yang asli karena untuk membuat pembangkit listrik ini membutuhkan biaya yang sangat besar dan sejumlah ahli teknisi.
"Kita masih membutuhkan bantuan karena penelitian ini masih pioner belum banyak yang tahu dan masih butuh bantuan untuk pengembangan alat lebih lanjut selain itu juga membutuhkan pembimbing penelitian terkait perhitungan teknisnya," kata dia. (detik)
Minggu, 22 Maret 2015
Samsung Guru 1107 Ponsel Tenaga Surya Pertama Didunia
Pernahkan Anda mengalami kehabisan batrai ponsel saat berpergian didaerah terpencil dan tidak ada akses dengan listrik untuk mengisi ulang ponsel, lalu kita membayangkan seandanya saja ponsel ini bisa mengisi ualng batrainya dengan menanfaatkan sinar matahari.
Tahukan anda jika Samsung pernah mewujudkan ponsel seperti kasus diatas. Ya, Perusahaan ponsel asal Korea Selatan ini pernah mengembangkan ponsel bertenaga surya.
Dikutip dari Phone Arena, Senin, 23 Maret 2015, ponsel bertenaga surya Samsung merupakan ponsel berbasis surya pertama di dunia. Ponsel tersebut adalah Samsung guru E1107.
Ponsel bertenaga surya itu dirilis pertama kali pada 2009. Pada ponsel ini, Samsung menyematkan pelat sel surya pada bagian belakang ponsel. Jadi saat bagian sel tersebut terpapar sinar matahari, sel akan menghasilkan energi listrik yang bisa mengisi ulang baterai ponsel.
Sel surya tersebut memang tak banyak memberikan daya, namun setidaknya cukup dalam keadaan darurat atau solusi seringnya mati listrik di beberapa negara. Untuk mengisi daya, ponsel juga cukup melakukan panggilan suara selama 5 hingga 10 menit.
Ponsel Guru E1107 bukan satu-satunya ponsel surya yang dimiliki Samsung. Pada tahun yang sama, 2009, raja Android itu juga merilis ponsel surya lain, Samsung Blue Earth.
Sama dengan versi Samsung Guru, versi Blue Earth juga memiliki sel surya di bagian belakang. Paparan sinar matahari selama sejam, bisa diubah menjadi 10 menit talk time.
Blue Earth memang berbeda dengan versi Samsung Guru. Ponsel Blue Earth menawarkan fitur lain misalnya bisa terkoneksi dengan internet, YouTube dan jejaring sosial. Samsung Blue Earth juga bisa terhubung dengan Wi-Fi atau 3G serta fitur GPS bisa menentukan lokasi penggunaan ponsel.
Kini sudah cukup lama Samsung belum mengeluarkan ponsel surya lagi. Menarik ditunggu apakah dalam tahun-tahun mendatang, Samsung bakal merilis ponsel surya lainnya. (Vivanews)
Tahukan anda jika Samsung pernah mewujudkan ponsel seperti kasus diatas. Ya, Perusahaan ponsel asal Korea Selatan ini pernah mengembangkan ponsel bertenaga surya.
![]() |
| Samsung Guru 1107 Ponsel Tenaga Surya Pertama Didunia |
Dikutip dari Phone Arena, Senin, 23 Maret 2015, ponsel bertenaga surya Samsung merupakan ponsel berbasis surya pertama di dunia. Ponsel tersebut adalah Samsung guru E1107.
Ponsel bertenaga surya itu dirilis pertama kali pada 2009. Pada ponsel ini, Samsung menyematkan pelat sel surya pada bagian belakang ponsel. Jadi saat bagian sel tersebut terpapar sinar matahari, sel akan menghasilkan energi listrik yang bisa mengisi ulang baterai ponsel.
Sel surya tersebut memang tak banyak memberikan daya, namun setidaknya cukup dalam keadaan darurat atau solusi seringnya mati listrik di beberapa negara. Untuk mengisi daya, ponsel juga cukup melakukan panggilan suara selama 5 hingga 10 menit.
Ponsel Guru E1107 bukan satu-satunya ponsel surya yang dimiliki Samsung. Pada tahun yang sama, 2009, raja Android itu juga merilis ponsel surya lain, Samsung Blue Earth.
Sama dengan versi Samsung Guru, versi Blue Earth juga memiliki sel surya di bagian belakang. Paparan sinar matahari selama sejam, bisa diubah menjadi 10 menit talk time.
Blue Earth memang berbeda dengan versi Samsung Guru. Ponsel Blue Earth menawarkan fitur lain misalnya bisa terkoneksi dengan internet, YouTube dan jejaring sosial. Samsung Blue Earth juga bisa terhubung dengan Wi-Fi atau 3G serta fitur GPS bisa menentukan lokasi penggunaan ponsel.
Kini sudah cukup lama Samsung belum mengeluarkan ponsel surya lagi. Menarik ditunggu apakah dalam tahun-tahun mendatang, Samsung bakal merilis ponsel surya lainnya. (Vivanews)
Senin, 16 Maret 2015
Comro, BTS Temuan Anak Bandung untuk Keperluan Konser
Lima anak Bandung dari Service Quality Center Telkomsel menelurkan sebuah alat bernama Comro (Compact Mobile Base Station Radio on Dense Area).
Alat ini memiliki fungsi yang sama seperti mobil BTS besar yang biasanya kita temukan di konser musik dan acara hiburan lainnya. Bedanya, alat ini memiliki ukuran jauh lebih kecil, sehingga lebih hemat tempat dan praktis.
Yuyun yang merupakan salah satu perancang alat ini menjelaskan "Kan biasanya mobil BTS itu besar-besar. Dayanya juga besar dan makan tempat banyak banget. Ini (Comro) kita buat lebih compact, supaya bisa dipakai di outdoor dan indoor".
Menurut Yuyun, ada beberapa komponen yang biasanya disematkan pada BTS besar, yang dilepas dari Comro. "Biasanya power supply-nya yang besar, yang ada generator dan sebagainya. Kalau di sini kita langsung pada modul-modulnya saja. Perangkat LTE-nya juga termasuk di situ," Yuyun menjelaskan.
Produk yang diberi nama "Comro" ini memang telah menggunakan jaringan 4G untuk pengoperasiannya. Ke depannya, Yuyun dan kawanannya berencana membuat BTS yang lebih kecil lagi. "Saat ini memang cuma bisa segini, nanti kita buat lebih kecil lagi," ia mengimbuhkan.
BTS Radio adalah infrastruktur telekomunikasi yang memfasilitasi komunikasi nirkabel antara piranti komunikasi dan jaringan operator. Selain digunakan pada acara-acara musik dan hiburan, alat ini penting pula digunakan untuk siaran televisi di luar studio.
Biasanya, mobil BTS memiliki ukuran yang cukup besar sehingga hanya bisa digunakan untuk acara outdoor. Selain itu, penggunaan dayanya pun lebih besar.
Dicoret-coret oleh Ridwan Kamil
Melihat anak muda Bandung yang kreatif dan solutif, Wali Kota Bandung Ridwan kamil pun menanggapi dengan positif. Menurutnya, kreativitas anak Bandung memang tak perlu diragukan lagi.
"Wah, jadi sekarang kalau mau konser bisa pakai yang lebih praktis, ya?," begitu kata pria yang kerap disapa Kang Emil ini ketika melihat Comro.
Sontak, Kang Emil pun menuliskan rentetan kata untuk menggambarkan rasa bangganya kepada para penggodok Comro. "Karya luar biasa oleh anak Bandung," begitu tulisan yang dipatrikan pada badan Comro.
Melihat respon positif dari pemkot, Yuyun dan kawanannya pun berencana akan memperbanyak jumlah Comro. Untuk sementara, alat ini baru tersedia dua buah. Satu di Bandung dan satu lainnya di Jakarta.
"Kalau lihat antusias Bang Emil tadi, kita semangat bakal bikin lebih banyak lagi supaya bisa dipakai di tempat yang lebih banyak," katanya. (Kompas)
Alat ini memiliki fungsi yang sama seperti mobil BTS besar yang biasanya kita temukan di konser musik dan acara hiburan lainnya. Bedanya, alat ini memiliki ukuran jauh lebih kecil, sehingga lebih hemat tempat dan praktis.
![]() |
| Comro, BTS Temuan Anak Bandung untuk Keperluan Konser |
Yuyun yang merupakan salah satu perancang alat ini menjelaskan "Kan biasanya mobil BTS itu besar-besar. Dayanya juga besar dan makan tempat banyak banget. Ini (Comro) kita buat lebih compact, supaya bisa dipakai di outdoor dan indoor".
Menurut Yuyun, ada beberapa komponen yang biasanya disematkan pada BTS besar, yang dilepas dari Comro. "Biasanya power supply-nya yang besar, yang ada generator dan sebagainya. Kalau di sini kita langsung pada modul-modulnya saja. Perangkat LTE-nya juga termasuk di situ," Yuyun menjelaskan.
Produk yang diberi nama "Comro" ini memang telah menggunakan jaringan 4G untuk pengoperasiannya. Ke depannya, Yuyun dan kawanannya berencana membuat BTS yang lebih kecil lagi. "Saat ini memang cuma bisa segini, nanti kita buat lebih kecil lagi," ia mengimbuhkan.
BTS Radio adalah infrastruktur telekomunikasi yang memfasilitasi komunikasi nirkabel antara piranti komunikasi dan jaringan operator. Selain digunakan pada acara-acara musik dan hiburan, alat ini penting pula digunakan untuk siaran televisi di luar studio.
Biasanya, mobil BTS memiliki ukuran yang cukup besar sehingga hanya bisa digunakan untuk acara outdoor. Selain itu, penggunaan dayanya pun lebih besar.
Dicoret-coret oleh Ridwan Kamil
Melihat anak muda Bandung yang kreatif dan solutif, Wali Kota Bandung Ridwan kamil pun menanggapi dengan positif. Menurutnya, kreativitas anak Bandung memang tak perlu diragukan lagi.
"Wah, jadi sekarang kalau mau konser bisa pakai yang lebih praktis, ya?," begitu kata pria yang kerap disapa Kang Emil ini ketika melihat Comro.
![]() |
| Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menuliskan kekagumannya terhadap COMRO |
Sontak, Kang Emil pun menuliskan rentetan kata untuk menggambarkan rasa bangganya kepada para penggodok Comro. "Karya luar biasa oleh anak Bandung," begitu tulisan yang dipatrikan pada badan Comro.
Melihat respon positif dari pemkot, Yuyun dan kawanannya pun berencana akan memperbanyak jumlah Comro. Untuk sementara, alat ini baru tersedia dua buah. Satu di Bandung dan satu lainnya di Jakarta.
"Kalau lihat antusias Bang Emil tadi, kita semangat bakal bikin lebih banyak lagi supaya bisa dipakai di tempat yang lebih banyak," katanya. (Kompas)
Senin, 09 Maret 2015
Ilmuan Ubah Air Kencing Jadi Sumber Listrik Abadi
Ilmuwan Universitas Bristol dan Oxfam, berhasil menciptakan alat daur ulang air kencing menjadi energi listrik. Alat berbentuk tiolet memanfaat kan teknologi microbial fuel cell (MFC).
Menurut sang pencipta, profesor Ioannis Ieropoulos, teknologi MFC menggunakan bakteri pemakan urin untuk bisa menghasilkan listrik. Bakteri tadi akan mengonsumsi urin dan menghasilkan energi dalam bentuk listrik. Lalu, listrik yang dihasilkan disimpan dalam baterai khusus.
"MFC bekerja dengan memakan urin, hal ini diperlukan untuk pertumbuhan bakteri di dalamnya. Teknologi ini termasuk teknologi ramah lingkungan yang tidak membutuhkan bahan bakar atau menghasilkan zat sisa yang berbahaya," ujar profesor Ieropoulos, Daily Mail (05/03).
Kedepannya, pengguna toilet bisa melihat listrik yang disimpan dalam toilet lewat sebuah monitor sederhana. Bahkan, pengguna kelak bisa mengisi daya smartphone langsung di toilet.
Dan karena menggunakan kencing, teknologi ini bisa terus digunakan selama ada manusia yang butuh ke toilet. Alhasil, banyak ilmuwan yang menyebut ini adalah teknologi penghasil listrik abadi.
Teknologi MFC pun sangat murah. Hanya dibutuhkan dana Rp 20 ribu untuk membuat MFC skala kecil yang bisa diaplikasikan di berbagai toilet di seluruh dunia.
Sumber : Merdeka.com
Menurut sang pencipta, profesor Ioannis Ieropoulos, teknologi MFC menggunakan bakteri pemakan urin untuk bisa menghasilkan listrik. Bakteri tadi akan mengonsumsi urin dan menghasilkan energi dalam bentuk listrik. Lalu, listrik yang dihasilkan disimpan dalam baterai khusus.
"MFC bekerja dengan memakan urin, hal ini diperlukan untuk pertumbuhan bakteri di dalamnya. Teknologi ini termasuk teknologi ramah lingkungan yang tidak membutuhkan bahan bakar atau menghasilkan zat sisa yang berbahaya," ujar profesor Ieropoulos, Daily Mail (05/03).
Kedepannya, pengguna toilet bisa melihat listrik yang disimpan dalam toilet lewat sebuah monitor sederhana. Bahkan, pengguna kelak bisa mengisi daya smartphone langsung di toilet.
Dan karena menggunakan kencing, teknologi ini bisa terus digunakan selama ada manusia yang butuh ke toilet. Alhasil, banyak ilmuwan yang menyebut ini adalah teknologi penghasil listrik abadi.
Teknologi MFC pun sangat murah. Hanya dibutuhkan dana Rp 20 ribu untuk membuat MFC skala kecil yang bisa diaplikasikan di berbagai toilet di seluruh dunia.
Sumber : Merdeka.com
Minggu, 14 Desember 2014
Peneliti UGM Temukan Mikroalga Lokal Sumber Bioenergi
Eko Agus Suyono SSi., MAppSC adalah Peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) telah berhasil menemukan sumber energi alternatif terbaru, sumber energi ini dihasilkan dari pengolahan mikroalga untuk diolah menjadi bioetanol sebagai salah satu solusi dengan semakin menipisnya energi yang dihasilkan dari fosil.
Mikroalga menjadi pilihan Eko dalam penelitian ini karena keberadaan mikroalga cukup berlimpah, mengingat dua pertiga wilayah Indonesia merupakan laut. Dengan demikian pengolahan mikroalga menjadi bioetanol bisa dijadikan salah satu upaya untuk mengelola kekayaan sumber daya laut Indonesia yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Biodiversitas mikroalga yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi bioenergi, salah satuya adalah Tetraselmis sp,” ujar Eko di Yogyakarta, Minggu 14 Desember 2014.
Berdasarkan hasil penelitianya, bioetanol potensial diproduksi dari hidrolisis biomassa Tetraselmis sp. strain Ancol dan fermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae (strain Etanol Red) sebesar 0,36 g etanol/g biomassa setelah inkubasi 48 jam. Hasil ini setara dengan hasil bioetanol tertinggi yang pernah dilaporkan dalam publikasi penelitian yang dilakukan di Korea,
“Tetraselmis sp strain Ancol merupakan sumber karbohidrat yang potensial untuk produksi bioetanol,” kata Eko.
Dari hasil penelitian, Eko melanjutkan, sampai saat ini setidaknya terdapat 6 spesies Tetraselmis sp. yang sudah berhasil diisolasi dari perairan di Indonesia. Semua spesies tersebut masih belum dianalisis potensinya sebagai penghasil bioetanol. Sehingga diperlukan penelitian untuk dikembangkan sebagai sumber bioetanol.
Sementara dari hasil analisis filogenetik, didapatkan dua clades dari strain Tetraselmis yang diisolasi dari Indonesia dan luar Indonesia. Clade pertama terdiri dari strain Ancol, Cilegon, Manado, Vancouver Island (Canada), dan Northumberland (UK). Clade kedua terdiri dari strain California (USA).
Kandungan karbohidrat dalam biomassa Tetraselmis sp strain Ancol dapat ditingkatkan dengan mengatur rasio Nitrogen: Fosfor sebesar 37: 1 di bawah penyinaran 12 jam terang dan 12 jam gelap dengan kandungan karbohidrat per liter dan karbohidrat per sel tertinggi pada Tetraselmis sp. strain Ancol masing-masing sebesar 0,33 g/L dan 158 pg/sel.
Dikatakan Eko Agus Suyono, mikroalga merupakan organisme yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk bahan bakar nabati. Penggunaan mikroalga sebagai bahan baku untuk bahan bakar nabati relatif tidak bersaing dengan tanaman produktif penghasil pangan dan hampir tidak mengurangi luas lahan untuk tanaman pangan.
“Organisme ini mempunyai efisiensi fotosintesis yang tinggi dan mempunyai pertumbuhan yang lebih singkat dari tanaman pangan lainnya,” katanya.
Sumber : VivaNews
Mikroalga menjadi pilihan Eko dalam penelitian ini karena keberadaan mikroalga cukup berlimpah, mengingat dua pertiga wilayah Indonesia merupakan laut. Dengan demikian pengolahan mikroalga menjadi bioetanol bisa dijadikan salah satu upaya untuk mengelola kekayaan sumber daya laut Indonesia yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Biodiversitas mikroalga yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi bioenergi, salah satuya adalah Tetraselmis sp,” ujar Eko di Yogyakarta, Minggu 14 Desember 2014.
Berdasarkan hasil penelitianya, bioetanol potensial diproduksi dari hidrolisis biomassa Tetraselmis sp. strain Ancol dan fermentasi menggunakan Saccharomyces cerevisiae (strain Etanol Red) sebesar 0,36 g etanol/g biomassa setelah inkubasi 48 jam. Hasil ini setara dengan hasil bioetanol tertinggi yang pernah dilaporkan dalam publikasi penelitian yang dilakukan di Korea,
“Tetraselmis sp strain Ancol merupakan sumber karbohidrat yang potensial untuk produksi bioetanol,” kata Eko.
Dari hasil penelitian, Eko melanjutkan, sampai saat ini setidaknya terdapat 6 spesies Tetraselmis sp. yang sudah berhasil diisolasi dari perairan di Indonesia. Semua spesies tersebut masih belum dianalisis potensinya sebagai penghasil bioetanol. Sehingga diperlukan penelitian untuk dikembangkan sebagai sumber bioetanol.
Sementara dari hasil analisis filogenetik, didapatkan dua clades dari strain Tetraselmis yang diisolasi dari Indonesia dan luar Indonesia. Clade pertama terdiri dari strain Ancol, Cilegon, Manado, Vancouver Island (Canada), dan Northumberland (UK). Clade kedua terdiri dari strain California (USA).
Kandungan karbohidrat dalam biomassa Tetraselmis sp strain Ancol dapat ditingkatkan dengan mengatur rasio Nitrogen: Fosfor sebesar 37: 1 di bawah penyinaran 12 jam terang dan 12 jam gelap dengan kandungan karbohidrat per liter dan karbohidrat per sel tertinggi pada Tetraselmis sp. strain Ancol masing-masing sebesar 0,33 g/L dan 158 pg/sel.
Dikatakan Eko Agus Suyono, mikroalga merupakan organisme yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk bahan bakar nabati. Penggunaan mikroalga sebagai bahan baku untuk bahan bakar nabati relatif tidak bersaing dengan tanaman produktif penghasil pangan dan hampir tidak mengurangi luas lahan untuk tanaman pangan.
“Organisme ini mempunyai efisiensi fotosintesis yang tinggi dan mempunyai pertumbuhan yang lebih singkat dari tanaman pangan lainnya,” katanya.
Sumber : VivaNews
Senin, 08 Desember 2014
Kompor Unik, Mampu Isi Baterai Smartphone dan Kurangi Resiko Kangker
Mahasiswa asal Filipina Jacqueline Nguyen dan Mark Webb berhasil membuat kompor tungku unik uang diberi nama K2 cook stove. Selain berfungsi untuk memasak, kompor ini juga dapat diguakan untuk mengisi baterai smartphone, selain itu kompor ini juga di klaim minim emisi yang mana bisa mengurangi penyebab kanker.
Ide pembuatan kompor K2 cook stove ini dicetuskan setelah kedua orang ini berkunjung ke Filipina dan melihat masih banyak keluarga yang menggunakan kompor tungku berbahan bakar kayu dan plastik yang menghasilkan banyak asap. Padahal asap yang mengandung banyak zat karsinogenik dan zat berbahaya lainnya ini telah menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia, lebih tinggi dari HIV dan malaria.
Webb mengklaim jika kompor K2 Cook Stove ini lebih ramah lingkungan dengan menghasilkan asap 95 persen lebih sedikit daripada kompor tungku biasa. Hal ini karena kompor ini dibuat dengan desain geometris yang unik dan dibekali sistem penyedot udara berupa kipas listrik.
Kipas ini berfungsi untuk meniup udara ke api hingga menciptakan reaksi konveksi lebih besar yang membuat kompor yang lebih hemat bahan bakar. Selain itu, akibat tekanan angin ini, karbon monoksida yang menjadi zat karsinogenik juga bisa diubah menjadi karbondioksida yang. Webb juga menyebutkan jika K2 Cook Stove ini membutuhkan 50 persen kayu dan plastik lebih sedikit untuk menghasilkan jumlah panas yang sama panas.
Tak hanya itu saja, energi panas yang diproduksi kompor ini selain berfungsi untuk mematangkan makanan yang dimasak di atasnya juga bisa diubah menjadi sumber energi listrik yang bisa untuk mengisi baterai smartphone.
Kompor K2 Cook Stove ini juga dilengkapi generator thermoelectric yang dapat mengubah perpindahan panas antar lempengan generator menjadi muatan listrik. Muatan listrik ini kemudian disalurkan ke dalam regulator tegangan untuk menghasilkan arus yang stabil.
Rencananya kompor K2 Cook Stove ini akan dipasarkan ke China terlebih dahulu dan tak menutup kemungkinan untuk di pasarkan di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Filipina yang menjadi inspirasi pembuatnya. Untuk harganya sendiri, K2 Cook Stove ini bakal diedarkan dengan harga USD 50 atau sekitar Rp 600 ribuan. (Merdeka)
![]() |
| K2 Cook Stove |
Ide pembuatan kompor K2 cook stove ini dicetuskan setelah kedua orang ini berkunjung ke Filipina dan melihat masih banyak keluarga yang menggunakan kompor tungku berbahan bakar kayu dan plastik yang menghasilkan banyak asap. Padahal asap yang mengandung banyak zat karsinogenik dan zat berbahaya lainnya ini telah menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia, lebih tinggi dari HIV dan malaria.
Webb mengklaim jika kompor K2 Cook Stove ini lebih ramah lingkungan dengan menghasilkan asap 95 persen lebih sedikit daripada kompor tungku biasa. Hal ini karena kompor ini dibuat dengan desain geometris yang unik dan dibekali sistem penyedot udara berupa kipas listrik.
Kipas ini berfungsi untuk meniup udara ke api hingga menciptakan reaksi konveksi lebih besar yang membuat kompor yang lebih hemat bahan bakar. Selain itu, akibat tekanan angin ini, karbon monoksida yang menjadi zat karsinogenik juga bisa diubah menjadi karbondioksida yang. Webb juga menyebutkan jika K2 Cook Stove ini membutuhkan 50 persen kayu dan plastik lebih sedikit untuk menghasilkan jumlah panas yang sama panas.
![]() |
| Jacqueline Nguyen dan Mark Webb Menemani Seorang Ibu yang tengah memasak dengan menggunakan kompor K2 cook stove |
Tak hanya itu saja, energi panas yang diproduksi kompor ini selain berfungsi untuk mematangkan makanan yang dimasak di atasnya juga bisa diubah menjadi sumber energi listrik yang bisa untuk mengisi baterai smartphone.
Kompor K2 Cook Stove ini juga dilengkapi generator thermoelectric yang dapat mengubah perpindahan panas antar lempengan generator menjadi muatan listrik. Muatan listrik ini kemudian disalurkan ke dalam regulator tegangan untuk menghasilkan arus yang stabil.
Rencananya kompor K2 Cook Stove ini akan dipasarkan ke China terlebih dahulu dan tak menutup kemungkinan untuk di pasarkan di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Filipina yang menjadi inspirasi pembuatnya. Untuk harganya sendiri, K2 Cook Stove ini bakal diedarkan dengan harga USD 50 atau sekitar Rp 600 ribuan. (Merdeka)
Rabu, 03 September 2014
BPPT dan PTPN V Manfaatkan Limbah Sawit Menjadi Biomassa
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan PT Perkebunan Nusantara V menandatangani MOU kerjasama mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Biomassa dari tandan kosong sawit dan Pembangkit Listrik Biogas dari limbah sawit.
Kepala BPPT Dr Marzan A Iskandar menjelaskan bahwa "BPPT telah berpengalaman membangun berbagai jenis pembangkit listrik. Saat ini BPPT juga sedang meriset Pembangkit Listrik berbahan baku limbah pertanian bersama Jepang,"
Lebih lanjut Marzan mengatakan bahwa Dengan memiliki pembangkit listrik berbahan baku limbah pertaniannya sendiri, PTPN V selain akan memanfaatkan limbah yang seharusnya terbuang, juga akan menghemat bahan bakar fosil untuk keperluan listrik pabrik pengolahan minyak sawitnya maupun kebutuhan listrik warga sekitar.
Pihaknya juga akan bekerjasama dalam riset rancang bangun alat pemisah asam lemak bebas (ALB) yang merupakan pengotor dan menurunkan kualitas produk minyak sawit, tujuannya agar minyak sawit yang diekspor PTPN V tidak jatuh harganya di pasar internasional.
Sementara itu, Dirut PTPN V Fauzi Yusuf menyatakan, buah kelapa sawit yang diolah menjadi minyak sawit oleh pabriknya, hanya 36 persen berasal dari kebun PTPN V sendiri, sisanya 64 persen dibeli dari perkebunan sawit rakyat, sehingga alat pemisah ALB akan menguntungkan petani sawit juga.
"Selain itu ALB yang dihasilkan dapat diproses menjadi biodiesel untuk menyuplai kebutuhan minyak solar untuk genset PTPN V maupun untuk kendaraan operasional kami," katanya.
Pihaknya, lanjut dia, juga bekerja sama dengan BPPT dalam riset dan pengembangan industri hulu dan hilir kelapa sawit yang meningkatkan nilai tambah produk sawit dengan berbagai produk turunannya, seperti bahan baku industri kimia, sabun, perlengkapan kosmetik dan lainnya.
"Sejak beberapa tahun lalu hingga kini Indonesia nomor satu penghasil minyak kelapa sawit dunia, tapi Malaysia-lah yang nomor satu dalam penguasaannya. Seharusnya kita juga jadi nomor satu dalam penguasaan produk-produk turunan sawit. Ini berarti penguasaan pasar dan penguasaan teknologi," katanya.
PTPN V adalah satu dari 15 BUMN perkebunan dan menguasai 95 ribu hektare lahan dimana 85 ribu hektare di antaranya merupakan perkebunan sawit dan karet.
Sumber : http://www.antaranews.com/berita/365656/bppt-ptpn-v-kembangkan-pltu-biomassa-limbah-sawit
Kepala BPPT Dr Marzan A Iskandar menjelaskan bahwa "BPPT telah berpengalaman membangun berbagai jenis pembangkit listrik. Saat ini BPPT juga sedang meriset Pembangkit Listrik berbahan baku limbah pertanian bersama Jepang,"
Lebih lanjut Marzan mengatakan bahwa Dengan memiliki pembangkit listrik berbahan baku limbah pertaniannya sendiri, PTPN V selain akan memanfaatkan limbah yang seharusnya terbuang, juga akan menghemat bahan bakar fosil untuk keperluan listrik pabrik pengolahan minyak sawitnya maupun kebutuhan listrik warga sekitar.
Pihaknya juga akan bekerjasama dalam riset rancang bangun alat pemisah asam lemak bebas (ALB) yang merupakan pengotor dan menurunkan kualitas produk minyak sawit, tujuannya agar minyak sawit yang diekspor PTPN V tidak jatuh harganya di pasar internasional.
Sementara itu, Dirut PTPN V Fauzi Yusuf menyatakan, buah kelapa sawit yang diolah menjadi minyak sawit oleh pabriknya, hanya 36 persen berasal dari kebun PTPN V sendiri, sisanya 64 persen dibeli dari perkebunan sawit rakyat, sehingga alat pemisah ALB akan menguntungkan petani sawit juga.
"Selain itu ALB yang dihasilkan dapat diproses menjadi biodiesel untuk menyuplai kebutuhan minyak solar untuk genset PTPN V maupun untuk kendaraan operasional kami," katanya.
Pihaknya, lanjut dia, juga bekerja sama dengan BPPT dalam riset dan pengembangan industri hulu dan hilir kelapa sawit yang meningkatkan nilai tambah produk sawit dengan berbagai produk turunannya, seperti bahan baku industri kimia, sabun, perlengkapan kosmetik dan lainnya.
"Sejak beberapa tahun lalu hingga kini Indonesia nomor satu penghasil minyak kelapa sawit dunia, tapi Malaysia-lah yang nomor satu dalam penguasaannya. Seharusnya kita juga jadi nomor satu dalam penguasaan produk-produk turunan sawit. Ini berarti penguasaan pasar dan penguasaan teknologi," katanya.
PTPN V adalah satu dari 15 BUMN perkebunan dan menguasai 95 ribu hektare lahan dimana 85 ribu hektare di antaranya merupakan perkebunan sawit dan karet.
Sumber : http://www.antaranews.com/berita/365656/bppt-ptpn-v-kembangkan-pltu-biomassa-limbah-sawit
Kamis, 26 Juni 2014
Ilmuan Ciptakan Baterai Organik Berbasis Air
Nayaran Peneliti dari University of Southern California, Amerika Serikat, mengembangkan baterai organik berbasis air sebagai solusi energi di masa depan.
Nayaran mengembangkan baterai alternatif bersama dengan koleganya, Surya Prakash, profesor kimia dan Direktur USC Loker Hydrocarbon Research Institute serta tiga peneliti Bo Yang, Lena Hoober-Burkhardt, dan Fang Wang dari USC.
Baterai ini dikembangkan tanpa menggunakan bahan logam atau bahan beracun, batrai ini diharapkan dapat memberikan manfaat efisiensi tenaga dan mampu menghasilkan energi yang lebih besar sehingga mampu mendukung daya bagi pembangkit listrik.
Batrai ini lebih tahan lama, juga bernilai ekonomis. Narayan menjelaskan "Baterai organik ini mampuh bertahan selama 15 ribu siklus pengisian ulang, dari perkiraan umur 15 tahun,". Dengan kemampuan siklus itu, baterai alternatif itu memiliki siklus 5 kali lipat, sebab pada baterai Lithium ion akan bertahan dalam 1.000 siklus dan dengan biaya 10 kali lebih banyak untuk produksi.
Prakash mengatakan baterai alternatif itu akan mengubah peta penyimpanan energi listrik, dalam hal kesederhanaan, biaya, keandalan dan keberlanjutan.
Baterai itu mengurangi kendala dalam baterai yang dipasok dari sumber energi alternatif. Misalnya baterai yang dihasilkan dari tenaga solar terbatas karena tergantung saat turbin bersinar. Kondisi itu tentu tidak dapat diandalkan bagi pembangkit listrik. Nah baterai alami itu akan menjadi solusi tantangan seperti yang dialami pada pembangkit tenaga surya.
"Penyimpanan energi dalam skala 'mega' merupakan masalah penting di masa depan energi terbarukan. Sebab di masa depan memerlukan solusi murah dan ramah lingkungan," jelas Narayan.
Baterai baru itu menjalankan prinsip aliran redoks, ini merupakan desain yang mirip dalam sel bahan bakar. Aliran ini dilengkapi dengan dua tangki bahan elektroaktif yang dilarutkan dalam air.
Tangki ini dapat disesuaikan sebesar yang diperlukan guna meningkatkan jumlah energi energi sistem.
Disebutkan kunci terobosan itu terpusat pada bahan elektroaktif. Sementara desain baterai sebelumnya menggunakan logam atau bahan kimia beracun, peneliti ingin menemukan senyawa organik yang dapat dlarutkan dalam air.
Sistem itu, menurut peneliti akan menciptakan dampak minimal terhadap lingkungan. Dan pada produk akhir akan lebih terjangkau.
Melalui kombinasi desain trial dan error, peneliti menemukan beberapa kuinon alami, senyawa organik yang teroksidasi, sesuai dengan yang dibutuhkan.
Kuinon ditemukan dalam tanaman, jamur, bakteri dan beberapa hewan. Senyawa ini juga terlibat di dalam fotosintesis dan pernafasan sel.
"Ini merupakan jenis molekul yang menggunakan alam untuk mentranfer energi," jelas Narayan.
Ia menambahkan sejauh ini kuinon dibutuhkan bagi baterai yang diproduksi dari hidrokarbon alami. Di masa depan, ada kemungkinan untuk mendapatkan molekul ini dari karbon dioksida.
Temuan ini telah dijukan dalam sebuah paten desain baterai. Studi sudah dipublikasikan dalam Journal of the Electrochemical Society edisi 20 Juni.
Sumber : VivaNews.com
Nayaran mengembangkan baterai alternatif bersama dengan koleganya, Surya Prakash, profesor kimia dan Direktur USC Loker Hydrocarbon Research Institute serta tiga peneliti Bo Yang, Lena Hoober-Burkhardt, dan Fang Wang dari USC.
![]() |
| Sri Narayan (foto : usc.edu) |
Baterai ini dikembangkan tanpa menggunakan bahan logam atau bahan beracun, batrai ini diharapkan dapat memberikan manfaat efisiensi tenaga dan mampu menghasilkan energi yang lebih besar sehingga mampu mendukung daya bagi pembangkit listrik.
Batrai ini lebih tahan lama, juga bernilai ekonomis. Narayan menjelaskan "Baterai organik ini mampuh bertahan selama 15 ribu siklus pengisian ulang, dari perkiraan umur 15 tahun,". Dengan kemampuan siklus itu, baterai alternatif itu memiliki siklus 5 kali lipat, sebab pada baterai Lithium ion akan bertahan dalam 1.000 siklus dan dengan biaya 10 kali lebih banyak untuk produksi.
Prakash mengatakan baterai alternatif itu akan mengubah peta penyimpanan energi listrik, dalam hal kesederhanaan, biaya, keandalan dan keberlanjutan.
Baterai itu mengurangi kendala dalam baterai yang dipasok dari sumber energi alternatif. Misalnya baterai yang dihasilkan dari tenaga solar terbatas karena tergantung saat turbin bersinar. Kondisi itu tentu tidak dapat diandalkan bagi pembangkit listrik. Nah baterai alami itu akan menjadi solusi tantangan seperti yang dialami pada pembangkit tenaga surya.
"Penyimpanan energi dalam skala 'mega' merupakan masalah penting di masa depan energi terbarukan. Sebab di masa depan memerlukan solusi murah dan ramah lingkungan," jelas Narayan.
Baterai baru itu menjalankan prinsip aliran redoks, ini merupakan desain yang mirip dalam sel bahan bakar. Aliran ini dilengkapi dengan dua tangki bahan elektroaktif yang dilarutkan dalam air.
Tangki ini dapat disesuaikan sebesar yang diperlukan guna meningkatkan jumlah energi energi sistem.
Disebutkan kunci terobosan itu terpusat pada bahan elektroaktif. Sementara desain baterai sebelumnya menggunakan logam atau bahan kimia beracun, peneliti ingin menemukan senyawa organik yang dapat dlarutkan dalam air.
Sistem itu, menurut peneliti akan menciptakan dampak minimal terhadap lingkungan. Dan pada produk akhir akan lebih terjangkau.
Melalui kombinasi desain trial dan error, peneliti menemukan beberapa kuinon alami, senyawa organik yang teroksidasi, sesuai dengan yang dibutuhkan.
Kuinon ditemukan dalam tanaman, jamur, bakteri dan beberapa hewan. Senyawa ini juga terlibat di dalam fotosintesis dan pernafasan sel.
"Ini merupakan jenis molekul yang menggunakan alam untuk mentranfer energi," jelas Narayan.
Ia menambahkan sejauh ini kuinon dibutuhkan bagi baterai yang diproduksi dari hidrokarbon alami. Di masa depan, ada kemungkinan untuk mendapatkan molekul ini dari karbon dioksida.
Temuan ini telah dijukan dalam sebuah paten desain baterai. Studi sudah dipublikasikan dalam Journal of the Electrochemical Society edisi 20 Juni.
Sumber : VivaNews.com
Selasa, 11 Maret 2014
Indonesia Akan Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut
DPR RI akhirnya menyetujui Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Kebijakan Energi Nasional, PP tersebut merupakan usulan Dewan Energi Nasional (DEN).
Anggota DEN Mukhtasor dalam rilisnya mengungkapkan, target sasaran penyediaan dan pemanfaatan energi dalam kebijakan ini adalah terpenuhinya penyediaan energi primer sekitar 400 MTOE pada tahun 2025 dan sekitar 1.000 MTOE pada tahun 2050.
Selain itu, penyediaan kapasitas pembangkit listrik sekitar 115 GW ditargetkan terpenuhi pada tahun 2025 dan pada tahun 2050 menjadi sekitar 430 GW.
Dalam kebijakan ini, persentase energi baru dan terbarukan dalam bauran energi nasional sebesar 23% ditargetkan tercapai pada tahun 2025 dan menjadi 31% pada tahun 2050.
“Menurut amanat Kebijakan Energi Nasional, pemanfaatan sumber daya energi terbarukan, termasuk di dalamnya energi laut, diarahkan untuk ketenagalistrikan," kata dia.
"Sebagai langkah awal, pemanfaatan sumber energi laut didorong dengan membangun proyek percontohan (pilot project) yang terhubung dengan jaringan listrik,” lanjut Mukhtasor yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Energi Laut Indonesia (ASELI) dan Guru Besar di Fakultas Teknologi Kelautan ITS, Jum'at (7/3).
Mukhtasor menjelaskan, untuk menyambut tantangan pembangunan pilot project energi laut yang perencanaannya dimulai pada tahun 2014, ditargetkan proyek percontohan pembangkit listrik energi laut dimulai dengan kapasitas 3 MW dari jenis arus laut, dan 10 MW dari jenis panas laut.
Sementara itu Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)Susilo Siswoutomo menambahkan, pemerintah siap melaksanakan amanat Kebijakan Energi Nasional yang baru dikeluarkan oleh DEN dan disetujui oleh DPR, termasuk didalamnya adalah tentang amanat energi laut tersebut. (JN)
Anggota DEN Mukhtasor dalam rilisnya mengungkapkan, target sasaran penyediaan dan pemanfaatan energi dalam kebijakan ini adalah terpenuhinya penyediaan energi primer sekitar 400 MTOE pada tahun 2025 dan sekitar 1.000 MTOE pada tahun 2050.
Selain itu, penyediaan kapasitas pembangkit listrik sekitar 115 GW ditargetkan terpenuhi pada tahun 2025 dan pada tahun 2050 menjadi sekitar 430 GW.
Dalam kebijakan ini, persentase energi baru dan terbarukan dalam bauran energi nasional sebesar 23% ditargetkan tercapai pada tahun 2025 dan menjadi 31% pada tahun 2050.
“Menurut amanat Kebijakan Energi Nasional, pemanfaatan sumber daya energi terbarukan, termasuk di dalamnya energi laut, diarahkan untuk ketenagalistrikan," kata dia.
"Sebagai langkah awal, pemanfaatan sumber energi laut didorong dengan membangun proyek percontohan (pilot project) yang terhubung dengan jaringan listrik,” lanjut Mukhtasor yang juga menjabat sebagai Ketua Asosiasi Energi Laut Indonesia (ASELI) dan Guru Besar di Fakultas Teknologi Kelautan ITS, Jum'at (7/3).
Mukhtasor menjelaskan, untuk menyambut tantangan pembangunan pilot project energi laut yang perencanaannya dimulai pada tahun 2014, ditargetkan proyek percontohan pembangkit listrik energi laut dimulai dengan kapasitas 3 MW dari jenis arus laut, dan 10 MW dari jenis panas laut.
Sementara itu Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)Susilo Siswoutomo menambahkan, pemerintah siap melaksanakan amanat Kebijakan Energi Nasional yang baru dikeluarkan oleh DEN dan disetujui oleh DPR, termasuk didalamnya adalah tentang amanat energi laut tersebut. (JN)
Sabtu, 10 Agustus 2013
PLN Kembangkan Listrik Dari Limbah Kelapa Sawit
Pemerintah Indonesia melalui PLN terus berupaya mencari sumber Energi Baru dan Terbarukan (EBT) atau Renewable Energy guna memenuhi kebutuhan pasokan kebutuhan listrik rakyat Indonesia yang terus meningkat.
PLN berencana akan memanfaatkan limbah kelapa sawit sebagai sumber utama pembangkit listrik. Banyaknya perkebunan kelapa sawit di Indonesia tentau sangat menguntukngkan dalam memberikan pasokan bahan baku limbah kelapa sawit yang sangat melimpah untuk dimanfaatkan menjadi sumber energi ini.
Kelapa Sawit selain menghasilkan produk utama berupa minyak goreng ternyata juga menghasilkan Bahan Bakar yg dinamakan Biodiesel dari Gas Methane, tentusaja selain bahan bakunya yang berlimpah energi ini dinilai sangat ramah lingkungan dan tentusaja ini sesuai dengan komitmen PLN untuk mewujudkan Energi Baru dan Terbarukan (EBT).
Untuk mewujudkan rencana itu bulan juni 2013 PLN yang diwakili General Manager PLN Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Kalselteng) melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT Atman Energy untuk rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLT Biomassa) berkapasitas 2 Mega Watt (MW) di kabupaten Sampit, propinsi Kalimantan Tengah.
Dikutip dari situs pln.co.id, GM PLN Kalselteng, Yuddy Setyo Wicaksono menjelaskan bahwa “Sampit merupakan sistem kelistrikan yang terpisah atau isolated dari sistem kelistrikan Kalimantan Tengah dengan beban puncak sistem kelistrikan Sampit saat ini mencapai 24 Mega Watt”.
Wicaksono juga menambahkan “Jika PLT Biomassa berkapasitas 2 Mega Watt ini beroperasi, maka potensi penghematan yang bisa diraih PLN dari pengurangan penggunaan Bahan Bakar Minyak adalah sekitar 34 miliar rupiah dengan asumsi harga produksi listrik menggunakan BBM adalah 2.800 Rp/kWh. Sedangkan harga pembelian listrik swasta yang dihasilkan dari PLT Biomassa adalah 1.170 Rp/kWh sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM No. 4 tahun 2012".
Semoga saja rencana PLN untuk memanfaatkan limbah kelapa sawit sebagai sumber energi listrik ini segera dapat diwujudkan, mengingat pontensinya cukup menjanjikan jika benar-benar diterapkan di Indonesia. Seperti kita ketahui di pulau Sumatra juga banyak perlebunan kelapa sawit yang tentu saja limbanya dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik di pulau tersebut.
PLN berencana akan memanfaatkan limbah kelapa sawit sebagai sumber utama pembangkit listrik. Banyaknya perkebunan kelapa sawit di Indonesia tentau sangat menguntukngkan dalam memberikan pasokan bahan baku limbah kelapa sawit yang sangat melimpah untuk dimanfaatkan menjadi sumber energi ini.
Kelapa Sawit selain menghasilkan produk utama berupa minyak goreng ternyata juga menghasilkan Bahan Bakar yg dinamakan Biodiesel dari Gas Methane, tentusaja selain bahan bakunya yang berlimpah energi ini dinilai sangat ramah lingkungan dan tentusaja ini sesuai dengan komitmen PLN untuk mewujudkan Energi Baru dan Terbarukan (EBT).
Untuk mewujudkan rencana itu bulan juni 2013 PLN yang diwakili General Manager PLN Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (Kalselteng) melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT Atman Energy untuk rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLT Biomassa) berkapasitas 2 Mega Watt (MW) di kabupaten Sampit, propinsi Kalimantan Tengah.
Dikutip dari situs pln.co.id, GM PLN Kalselteng, Yuddy Setyo Wicaksono menjelaskan bahwa “Sampit merupakan sistem kelistrikan yang terpisah atau isolated dari sistem kelistrikan Kalimantan Tengah dengan beban puncak sistem kelistrikan Sampit saat ini mencapai 24 Mega Watt”.
Wicaksono juga menambahkan “Jika PLT Biomassa berkapasitas 2 Mega Watt ini beroperasi, maka potensi penghematan yang bisa diraih PLN dari pengurangan penggunaan Bahan Bakar Minyak adalah sekitar 34 miliar rupiah dengan asumsi harga produksi listrik menggunakan BBM adalah 2.800 Rp/kWh. Sedangkan harga pembelian listrik swasta yang dihasilkan dari PLT Biomassa adalah 1.170 Rp/kWh sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM No. 4 tahun 2012".
Semoga saja rencana PLN untuk memanfaatkan limbah kelapa sawit sebagai sumber energi listrik ini segera dapat diwujudkan, mengingat pontensinya cukup menjanjikan jika benar-benar diterapkan di Indonesia. Seperti kita ketahui di pulau Sumatra juga banyak perlebunan kelapa sawit yang tentu saja limbanya dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik di pulau tersebut.
Selasa, 23 Juli 2013
Ilmuan Sulap Urin Menjadi Energi Alternatif untuk Mengisi Baterai Ponsel
Tim ilmuwan dari University of Bristol dan Bristol Robotics Laboratory berhasil mengembangkan penemuan terbaru yang memanfaatkan urine untuk mengisi ulang baterai ponsel.
Penemuannya mampu menghasilkan daya yang cukup untuk memungkinkan pesan SMS, web browsing dan membuat panggilan telepon singkat.
Tim berhasil menciptakan sebuah metode untuk memanfaatkan bakteri yang tumbuh pada anoda serat karbon yang dimanipulasi untuk menguraikan urin dalam silinder keramik untuk menghasilkan sejumlah kecil muatan listrik, yang kemudian disimpan pada kapasitor.
Dilansir timesofmalta.com pada 18 juli 2013. Ieropoulos salah seorang peneliti menuturkan "Kami benar-benar akan menggunakan limbah untuk menciptakan sebuah energi baru," ujar salah satu insinyur yang terlibat dalam proyek tersebut.
Namun saat ini ukuran sel batrai masih terlalu besar untuk dibawa, Para peneliti selanjutnya memiliki rencana untuk mengembangkan penemuan tersebut dalam bentuk MFC (fuel power stack), sehingga alat ini akan menjadi praktis praktis dan dapat dibawa kemanapun dengan mudah tanpa takut kehabisan daya.
Proyek ini didanai oleh Engineering and Physical Sciences Research Council, Gates Foundation and the Technology Strategy Board.
Ieropoulos percaya bahwa teknologi memiliki potensi masa depan yang akan diinstal ke dalam kamar mandi untuk memanfaatkan urin dan menghasilkan listrik yang cukup.
Dia menambahkan: "Kami sedang penawaran untuk pendanaan untuk bekerja bersama mitra di AS dan Afrika Selatan untuk mengembangkan toilet cerdas.
Source : vr-zone.com, timesofmalta.com
Penemuannya mampu menghasilkan daya yang cukup untuk memungkinkan pesan SMS, web browsing dan membuat panggilan telepon singkat.
![]() |
| Ioannis Ieropoulos dilaboratorium Bristol Robotics Laboratory. foto : timesofmalta.com |
Tim berhasil menciptakan sebuah metode untuk memanfaatkan bakteri yang tumbuh pada anoda serat karbon yang dimanipulasi untuk menguraikan urin dalam silinder keramik untuk menghasilkan sejumlah kecil muatan listrik, yang kemudian disimpan pada kapasitor.
Dilansir timesofmalta.com pada 18 juli 2013. Ieropoulos salah seorang peneliti menuturkan "Kami benar-benar akan menggunakan limbah untuk menciptakan sebuah energi baru," ujar salah satu insinyur yang terlibat dalam proyek tersebut.
Namun saat ini ukuran sel batrai masih terlalu besar untuk dibawa, Para peneliti selanjutnya memiliki rencana untuk mengembangkan penemuan tersebut dalam bentuk MFC (fuel power stack), sehingga alat ini akan menjadi praktis praktis dan dapat dibawa kemanapun dengan mudah tanpa takut kehabisan daya.
Proyek ini didanai oleh Engineering and Physical Sciences Research Council, Gates Foundation and the Technology Strategy Board.
Ieropoulos percaya bahwa teknologi memiliki potensi masa depan yang akan diinstal ke dalam kamar mandi untuk memanfaatkan urin dan menghasilkan listrik yang cukup.
Dia menambahkan: "Kami sedang penawaran untuk pendanaan untuk bekerja bersama mitra di AS dan Afrika Selatan untuk mengembangkan toilet cerdas.
Source : vr-zone.com, timesofmalta.com
Senin, 15 Juli 2013
Batrai Lithium Indonesia Untuk Mobil Listrik, Tank, Kapal Selam dan Pesawat Terbang
Perusahaan Indonesia berhasil mengembangkan batrai litium untuk Mobil Listrik, Tank, Kapal Selam dan Pewasat Terbang
Mimpi untuk mewujudkan mobil listrik nasional bukan isapan jempol semata, kerja nyata untuk mewujudkan mimpi ini telah dilalkukan beberapa tahun belakangan ini, beberapa ahli otomotif dari berbagai instansi (Akademisi, Lembaga Riset Negara, BUMN dan Swasta) telah berkerja keras menciptakan berbagai prototype mobil listrik.
Hasilnya sangat membanggakan beberapa prototype mobil listrik berhasil diciptakan diantaranya mobil listrik Tucuxi salah satu hasil karya tim "Pendawa Putra Petir" yang dipelopori mentri BUMN Dahlan Iskan. disamping itu beberapa instansi lainnya berhasil menciptakan mobil listrik diantaranya LIPI, PT. Pindad, dan bebrapa Perancang Mobil listrik dari Kampus-kampus di Indonesia berhasil menciptakan prototype mobil listrik Nasional.
Tahun lalu ketika mobil listrik generasi pertama diluncurkan oleh Tim Putra Petir BUMN, memang masih menyisakan pekerjaan penting yang harus dilakukan, baterai mobil tersebut masih impor dari Tiongkok. Belum menggunakan baterai buatan alsi Indonesia. Selama ini Indonesia baru mampu memproduksi baterai biasa. Padahal untuk mobil listrik tidak mungkin menggunakan biasa, karena ukuran batrai terlalu besar dan bobotnyapun terlalu berat untuk digunakan pada mobil listrik. Dengan lithium untuk kekuatan yang sama hanya diperlukan ukuran yang kecil, hanya 30 persen baterai biasa. Beratnya pun hanya sepertiga berat baterai biasa. Dan yang lebih penting dengan baterai lithium proses charging-nya bisa cepat.
Atas gagasan dan dorongan mentri BUMN Dahlan Iskan taklama setelah peluncuran tiga mobil listrik jenis city car karya Dasep Ahmadi, Dahlan Iskan berharap ada salah satu perusahaan batrai yang berpotensi dan mampu memproduksi baterai lithium di dalam negeri mulai mengembangkan batrai jenis ini. Gagasan Metri BUMN ini ternyata diduking olah PT Nipress Tbk di Bogor untukk mengembangkan batrai jenis ini. Pengalamannya memproduksi baterai sudah puluhan tahun. Pasarnya tidak hanya di dalam negeri. Ekspornya sudah merambah dunia sampai Eropa.
Perusahaan publik ini tertantang untuk ambil bagian mewujudkan gagasan besar itu, dengan mengembangkan baterai lithium. PT Nipress, menyatakan sanggup menanamkan investasi puluhan miliar rupiah dan sanggup meluncurkan produk baterai lithium pertama di bulan Juli 2013.
Ini bertepatan dengan perencanaan lahirnya mobil listrik Putra Petir generasi kedua. Yakni mobil listrik yang disiapkan untuk dipamerkan dan digunakan dalam forum APEC di Bali awal Oktober depan.
Dengan keberhasilan Indonesia memproduksi baterai lithium maka hampir 50 persen persoalan mobil listrik nasional teratasi. 50 persennya lagi sebagian besar bisa diadakan di dalam negeri. Seperti pembuatan body dan interiornya. Motor listriknya pun sudah akan bisa diproduksi di dalam negeri.
PT. Nipress mengembangkan beberapa sistem modul batrai litium ini. Ada modul untuk bus listrik, ada modul untuk mobil listrik jenis MPV, ada modul untuk city car, dan ada modul untuk mobil sport.
Dengan ditentukannya modul baterai lithium ini maka siapa pun yang ingin memproduksi mobil listrik tidak perlu lagi bingung. Terutama dalam penempatan baterainya. Ikuti saja standar modul yang ditetapkan produsen lithium tersebut.
Mengembangkan Batrai Tank, Kapal Selam dan Pesawat Terbang
Menurut Richard Tandiono, selaku Direktur Operasional PT Nipress Tbk, menuturkan "Visi kami berubah sejak 2008. Kami tak ingin hanya disebut pemroduksi aki mobil dan sepeda motor, tetapi all about batteries. Selain baterai lithium untuk mobil listrik, kami juga sedang mengembangkan baterai untuk kendaraan militer,” ungkapnya.
Saat ini PT Nipress telah berkolaborasi dengan TNI AL untuk mengembangkan baterai kapal selam. Produksinya sudah berjalan dan rencananya pada 2025 sudah selesai memroduksi 18 baterai masing-masing seberat 240 ton untuk 18 kapal selam.
Kerjasama juga dijalin dengan TNI AD dan AU dengan penyediaan baterai khusus untuk tank, kendaraan amfibi, dan pesawat terbang. "Kami juga dipercaya memroduksi baterai untuk menggerakkan torpedo yang akan kami realisasikan di 2016. Sedangkan baterai untuk helikopter dan pesawat di 2015,” tegas Richard.
Selain itu, perusahaan juga mengembangkan stationary battery (baterai untuk penyimpanan energi), misalnya cadangan energi untuk emergency lighting gedung, BTS berbagai provider, atau untuk mem-back up energi di data centre yang tak boleh sekali pun berkedip. Nipress juga sudah siap dengan penyediaan baterai untuk energi terbarukan seperti peranti penyimpan energi matahari atau pun angin.
Sumber Referensi:
Mimpi untuk mewujudkan mobil listrik nasional bukan isapan jempol semata, kerja nyata untuk mewujudkan mimpi ini telah dilalkukan beberapa tahun belakangan ini, beberapa ahli otomotif dari berbagai instansi (Akademisi, Lembaga Riset Negara, BUMN dan Swasta) telah berkerja keras menciptakan berbagai prototype mobil listrik.
![]() |
| Baterai lithium yang sudah diproduksi PT Nipres Tbk | kompasotomotif |
Hasilnya sangat membanggakan beberapa prototype mobil listrik berhasil diciptakan diantaranya mobil listrik Tucuxi salah satu hasil karya tim "Pendawa Putra Petir" yang dipelopori mentri BUMN Dahlan Iskan. disamping itu beberapa instansi lainnya berhasil menciptakan mobil listrik diantaranya LIPI, PT. Pindad, dan bebrapa Perancang Mobil listrik dari Kampus-kampus di Indonesia berhasil menciptakan prototype mobil listrik Nasional.
Tahun lalu ketika mobil listrik generasi pertama diluncurkan oleh Tim Putra Petir BUMN, memang masih menyisakan pekerjaan penting yang harus dilakukan, baterai mobil tersebut masih impor dari Tiongkok. Belum menggunakan baterai buatan alsi Indonesia. Selama ini Indonesia baru mampu memproduksi baterai biasa. Padahal untuk mobil listrik tidak mungkin menggunakan biasa, karena ukuran batrai terlalu besar dan bobotnyapun terlalu berat untuk digunakan pada mobil listrik. Dengan lithium untuk kekuatan yang sama hanya diperlukan ukuran yang kecil, hanya 30 persen baterai biasa. Beratnya pun hanya sepertiga berat baterai biasa. Dan yang lebih penting dengan baterai lithium proses charging-nya bisa cepat.
![]() |
| Metri BUMN Dahlan Iskan tenganh mengendari mobil listrik TUCUXI |
Atas gagasan dan dorongan mentri BUMN Dahlan Iskan taklama setelah peluncuran tiga mobil listrik jenis city car karya Dasep Ahmadi, Dahlan Iskan berharap ada salah satu perusahaan batrai yang berpotensi dan mampu memproduksi baterai lithium di dalam negeri mulai mengembangkan batrai jenis ini. Gagasan Metri BUMN ini ternyata diduking olah PT Nipress Tbk di Bogor untukk mengembangkan batrai jenis ini. Pengalamannya memproduksi baterai sudah puluhan tahun. Pasarnya tidak hanya di dalam negeri. Ekspornya sudah merambah dunia sampai Eropa.
Perusahaan publik ini tertantang untuk ambil bagian mewujudkan gagasan besar itu, dengan mengembangkan baterai lithium. PT Nipress, menyatakan sanggup menanamkan investasi puluhan miliar rupiah dan sanggup meluncurkan produk baterai lithium pertama di bulan Juli 2013.
Ini bertepatan dengan perencanaan lahirnya mobil listrik Putra Petir generasi kedua. Yakni mobil listrik yang disiapkan untuk dipamerkan dan digunakan dalam forum APEC di Bali awal Oktober depan.
Dengan keberhasilan Indonesia memproduksi baterai lithium maka hampir 50 persen persoalan mobil listrik nasional teratasi. 50 persennya lagi sebagian besar bisa diadakan di dalam negeri. Seperti pembuatan body dan interiornya. Motor listriknya pun sudah akan bisa diproduksi di dalam negeri.
PT. Nipress mengembangkan beberapa sistem modul batrai litium ini. Ada modul untuk bus listrik, ada modul untuk mobil listrik jenis MPV, ada modul untuk city car, dan ada modul untuk mobil sport.
Dengan ditentukannya modul baterai lithium ini maka siapa pun yang ingin memproduksi mobil listrik tidak perlu lagi bingung. Terutama dalam penempatan baterainya. Ikuti saja standar modul yang ditetapkan produsen lithium tersebut.
Mengembangkan Batrai Tank, Kapal Selam dan Pesawat Terbang
Menurut Richard Tandiono, selaku Direktur Operasional PT Nipress Tbk, menuturkan "Visi kami berubah sejak 2008. Kami tak ingin hanya disebut pemroduksi aki mobil dan sepeda motor, tetapi all about batteries. Selain baterai lithium untuk mobil listrik, kami juga sedang mengembangkan baterai untuk kendaraan militer,” ungkapnya.
![]() |
| Aktivitas di pabrik PT Nipress Tbk di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. | Kompasotomotif |
Saat ini PT Nipress telah berkolaborasi dengan TNI AL untuk mengembangkan baterai kapal selam. Produksinya sudah berjalan dan rencananya pada 2025 sudah selesai memroduksi 18 baterai masing-masing seberat 240 ton untuk 18 kapal selam.
Kerjasama juga dijalin dengan TNI AD dan AU dengan penyediaan baterai khusus untuk tank, kendaraan amfibi, dan pesawat terbang. "Kami juga dipercaya memroduksi baterai untuk menggerakkan torpedo yang akan kami realisasikan di 2016. Sedangkan baterai untuk helikopter dan pesawat di 2015,” tegas Richard.
Selain itu, perusahaan juga mengembangkan stationary battery (baterai untuk penyimpanan energi), misalnya cadangan energi untuk emergency lighting gedung, BTS berbagai provider, atau untuk mem-back up energi di data centre yang tak boleh sekali pun berkedip. Nipress juga sudah siap dengan penyediaan baterai untuk energi terbarukan seperti peranti penyimpan energi matahari atau pun angin.
Sumber Referensi:
Senin, 08 Juli 2013
Solar Powered Window, Power Charger Ramah Lingkungan Bertenaga Surya
Masadepan energi listrik dunia secara perlahan memasuki era baru, pengunaan bahan bakar fosil untuk menghasilkan energi sepertinya tengah berada diujung perjalanannya, seiring dengan terus menipisnya cadangan bahan bakar fosil didunia para peneliti menyadari pentingnya mencari solusi sumber energi dengan memanfaatkan sumber daya yang melimpah seperti cahaya matahari.
Adalah Boa Oh dan Kyuho Song berhasil membuat sebuah perangkat penghasil energi yang diberi nama Solar Powered Window Socket, dengan memanfaatkan energi matahari alat ini ditempelkan pada sebuah kaca jendela yang dapat meyerap energi matahari. Sistem kerja alat portabel ini adalah menyerap energi matahari melalui panelsurya dan meyimpan energinya dalam sebuah batre berkapasitas 1000mAh, alat ini membutuhkan waktu 5 jam untuk mengisi penuh batrainya.
Melalui colokan yang terdapat pada bagian belakan perangkat ini arus listrik dapat dialirkan langsung kedalam perangkat elektronikyang kita miliki.

Perangkat ini dapat dimanfaatkan utuk mengisi ulang power gadget yang kita miliki seperti ponsel. alat seperti ini sepertinya sangat berguna yah untuk memenuhi keperluan kita sehari-hari. semoga saja ada peneliti Indonesia yang merancang peralatan portabel seperti ini. (GW)
![]() |
| Solar Powered Window Socket |
Adalah Boa Oh dan Kyuho Song berhasil membuat sebuah perangkat penghasil energi yang diberi nama Solar Powered Window Socket, dengan memanfaatkan energi matahari alat ini ditempelkan pada sebuah kaca jendela yang dapat meyerap energi matahari. Sistem kerja alat portabel ini adalah menyerap energi matahari melalui panelsurya dan meyimpan energinya dalam sebuah batre berkapasitas 1000mAh, alat ini membutuhkan waktu 5 jam untuk mengisi penuh batrainya.
Melalui colokan yang terdapat pada bagian belakan perangkat ini arus listrik dapat dialirkan langsung kedalam perangkat elektronikyang kita miliki.

Perangkat ini dapat dimanfaatkan utuk mengisi ulang power gadget yang kita miliki seperti ponsel. alat seperti ini sepertinya sangat berguna yah untuk memenuhi keperluan kita sehari-hari. semoga saja ada peneliti Indonesia yang merancang peralatan portabel seperti ini. (GW)
Langganan:
Postingan (Atom)



















