Tampilkan postingan dengan label Pesawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Mei 2016

Pesawat Tenaga Surya "Solar Impulse 2" sukses terbang 16 jam nonstop

Pesawat bertenaga surya Solar Impulse 2, yang sedang dalam perjalanan bersejarah mengelilingi dunia, menyelesaikan putaran kesepuluh penerbangannya, mendarat di Arizona setelah terbang hampir 16 jam dari California pada Selasa (3/5).

Pesawat Tenaga Surya Solar Impulse 2 sukses terbang 16 jam nonstop.jpg

Pesawat eksperimental kurus berkursi tunggal itu tiba Phoenix pukul 20.55 waktu setempat setelah menempuh jarak 1.113 kilometer selama total 15 jam dan 55 menit dari San Francisco melewati Gurun Mojave menurut laman proyek Solar Impulse.

Dengan pesawat biasa jarak itu bisa ditempuh dalam dua jam, tapi Solar Impulse 2 yang hanya mengandalkan energi dari surya membutuhkan waktu jauh lebih lama karena menerbanginya dengan kecepatan seperti mobil, membuat pilotnya sampai harus latihan meditasi dan hipnosis agar bisa tetap terjaga dalam waktu lama.


Salah satu pendiri proyek, Andre Borschberg, mengendarai pesawat itu di kokpitnya yang sangat kecil.

"Saya berhasil mencapai Phoenix, penerbangan yang menakjubkan melewati Gurun Mojave," kata Borschberg di Twitter.

Seperti dilansir kantor berita Reuters, dia dan rekan pilotnya Bertrand Piccard bergantian mengemudikan pesawat itu pada setiap segmen perjalanan yang diharapkan bisa menjadi penerbangan keliling dunia pesawat bertenaga surya pertama.

Sebelumnya Borschberg memiloti pesawat itu dalam penerbangan dari Jepang ke Hawaii melalui Pasifik bulan Juli tahun lalu, berada di udara selama hampir 118 jam.

Penerbangan itu memecahkan rekor terbang solo nonstop selama 76 jam yang dicetak tahun 2006 oleh petualang Amerika Steve Fossett dengan Virgin Atlantic Global Flyer serta mencetak rekor baru lama dan jarak terbang pesawat bertenaga surya.

Tim Swiss yang menerbangkan pesawat itu untuk menggalang dukungan bagi teknologi energi bersih berharap bisa mengakhiri perjalanan keliling dunianya di Abu Dhabi, tempat perjalanan dimulai pada Maret 2015. (Antara)

Selasa, 05 Januari 2016

Kaka Beradik Asal Salatiga Lusuan SMK Kalahkan Doktor Ahli di Kompetisi Desain Komponen Jet Dunia


Kakak beradik, Arfian Fuadi (29) dan M Arie Kurniawan (24), memang cuma lulusan SMK. Mereka belajar desain teknik secara otodidak. Siapa sangka, kemampuan itu ternyata membuatnya mendunia. Mereka mengalahkan doktor dan ahli di perusahaan penerbangan dalam kompetisi.

Dengan peralatan dan modal seadanya, Arfian dan Arie mendirikan perusahaan desain bernama DTECH-ENGINEERING pada tahun 2009. Mereka mencari peluang order melalui situs online. Order datang dari Jerman, lalu dari negara-negara lain.


Braket karya Arfian dan Arie

Pada tahun 2013, kenang Arfian, perusahaan besar General Electric (GE) asal Amerika mengadakan kompetisi Global Challenge untuk membuat desain bracket jet.

"Ada yang ikut hampir 700 orang dari berbagai negara. Adik saya, Arie ikut mengirimkan," ujar Arfian kepada detikcom di rumahnya, Canden, Tingkir, Salatiga, Senin (4/1/2016).





Desain Arfian dan Arie ternyata diminati. Mereka menang dengan menyisihkan peserta lainnya termasuk seorang doktor Swedia yang berpengalaman di Swedish Air Force dan lulusaan Oxford University yang bekerja di perusahaan Airbus.

"Si Arie ikut, kita bisa desain paling ringan dan kuat, bahan dari titanium. Mungkin ide kita waktu itu paling bagus," katanya rendah hati.


Kaka Beradik Asal Salatiga Lusuan SMK Kalahkan Doktor Ahli di Kompetisi Desain Komponen Jet Dunia

Prestasi mereka saat itu ternyata tidak terlalu menggemparkan dunia pendidikan di Indonesia. Meski demikian, Arfian bangga karena GE melalui Handry Satriago selaku CEO General Electric Indonesia memberikan apresiasi. Bahkan kini Handry sudah dianggap sebagai mentor bagi duo kakak beradik itu.



"Kita jadi kenal CEO dan mereka tidak jaim (jaga image) main ke sini, Salatiga. Pokoknya kami jadi mendapat banyak pengalaman. Pak Handry sudah jadi mentor bagi kami," ujarnya.

Kini, Arfian dan Arie memiliki kantor dan 'karyawan' berjumlah 7 orang. Enam di antaranya lulusan SMK. Puluhan order desain dari berbagai negara diterima setiap bulan.  (Detik)

Rabu, 30 September 2015

Meski Tampa Mesin Pesawat ini bisa terbang Hingga ke luar angkasa

Untuk sampai ke luar angkasa, sebuah pesawat tentu membutuhkan mesin atau sebuah roket. Tetapi tidak dengan pesawat bernama Perlan II ini.

Perlan II adalah pesawat yang dikembangkan oleh Einar Enevoldson, seorang pilot tes terbang NASA. Penelitian untuk membuat Perlan II pun dilakukan sejak tahun 1992 silam.


Meski Tampa Mesin Pesawat ini bisa terbang Hingga ke luar angkasa

Hasilnya, jadilah sebuah pesawat terbang layang atau 'glider' yang diciptakan untuk memecahkan rekor ketinggian sebuah pesawat tanpa mesin. Di penerbangan pertamanya yang dilakukan menjelang akhir September lalu, Perlan II mampu terbang hingga ketinggian 1,5 kilometer!

Namun, pencapaian itu masih sangat jauh dari target mereka tahun 2016 nanti, yakni membuat Perlan II terbang di ketinggian 27.430 kilometer, atau biasa ilmuwan sebut tepian luar angkasa. Bahkan, ketinggian itu mengalahkan rekor dunia saat ini yang dicatatkan oleh pesawat bermesin jet 'BlackBird'.


Pertanyaannya, bagaimana sebuah pesawat tanpa mesin bisa terbang setinggi itu? Jawabannya sederhana, angin.

Ya, Perlan II didesain untuk terbang menggunakan angin layaknya sebuah layang-layang. Sekilas, cara terbang Perlan II mirip seperti berselancar. Bedanya, bukannya berselancar di atas angin Perlan II bisa dikatakan nebeng aliran angin untuk bisa sampai di ketinggian tertentu.

Nah, untuk bisa terbang mendekati luar angkasa itu, Perlan II akan melakukan penerbangan pemecahan rekor di skitar Kutub Utara. Sebab, menurut penelitian aliran angin di daerah kutub bisa sangat kencang, hingga kecepatan 260 knot, memungkinkan Perlan II untuk terbang bersama aliran angin itu hingga lapisan atmosfer tertinggi yang bisa capainya dengan perkiraan kecepatan hingga 643 kilometer per jam!

Jika percobaan pemecahan rekor itu berhasil, maka selanjutnya Perlan II akan dipakai sebagai pesawat untuk penelitian ozon, cuaca, dan iklim. Mengingat pesawat ramping ini tanpa mesin, ilmuwan tidak perlu khawatir Perlan II akan menimbulkan pencemaran udara. (Merdeka)

Kamis, 05 Maret 2015

Skyprowler Pesawat yang tak butuh Landasan Pacu

Perusahaan Arizona Amerika Serikat mengembangkan pesawat terbang dengan konsep dan teknologi terbaru. Pesawat ini tidak membutuhkan landasan pacu seperti layaknya helikopter.

Pesawat yang diberi nama Skyprowler ini memiliki empat baling-baling horizontal sehingga memungkinkan pesawat untuk lepas landas dan mendarat scara vertikal, dan akan melayang-layang diudara. 


Skyprowler Pesawat yang tak butuh Landasan Pacu

Menurut pihak Arizona, hal tersebut akan membuka penerbangan ke berbagai medan yang lebih luas, dari halam belakang dan tahan kasar, hingga dari kapal laut.


Baling-baling yang terletak pada kedua sisi sayap pesawat serta bagian ekor akan membantu mengangkat pesawat untuk terbang, sehingga kemungkinan tidak memerlukan landasan pacu. Mereka mengklaim, kecepatan pesawat ini bisa mencapai 83 mph atau setara 134 km/jam. (PR)

Senin, 07 Juli 2014

Amerika Kembangkan Helikopter Futuristik Berkemampuan Super

Ambisi Amerika Serikat untuk tetap menjadi negara dengan peralatan militer tercanggih memang tidak pernah surut, meski kondisi dunia masih relatif terasa cukup aman dan tidak terlalu banyak perang terjadi di seluruh belahan bumi, Amerika Serikat masih terus mengembangkan teknologi militer mereka. Dan yang terbaru adalah sebuah helikopter super.

Helikopter super AVX
Helikopter super AVX
 
Pentagon diketahui telah memesan beberapa unit helikopter berkemampuan super rancangan produsen pesawat terbang asal negara bagian Texas, AVX, dengan total anggaran dana hingga USD 100 miliar atau sekitar Rp 1000 triliun lebih!


Helikopter buatan AVX diprediksi akan menjadi pesawat udara futuristik dengan beragam fungsi, yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan sipil maupun militer. Dengan bantuan dua buah baling-baling dengan sistem 'tumpuk' dan masin-masing satu kipas pendorong di bagian kiri dan kanannya, helikopter AVX mampu terbang dengan top speed hingga 230 knot atau 426 kilometer per jam.


Helikopter super AVX

Helikopter AVX yang memiliki kemampuhan terbang cepat dan gesit ini diproyeksikan untuk menggantikan helikopter tipe Black Hawk yang selama ini menjadi andalan tentara Amerika Serikat.

Satu helikopter AVX dapat mengangkut 12 personil tentara dan 4 kru tambahan serta beban hingga 5.9000 kilogram. Sedangkan total berat 'bersih' dari helikopter ini mencapai 12.000 kg. Terdapat dua pintu samping untuk para penumpang dan pintu utama di bagian belakang untuk memasukkan atau menjatuhkan persenjataan.

Firma tersebut juga menambahkan mereka mengusung desain gabungan dari beberapa desainer pesawat terbang dan helikopter berpengalaman untuk mengurangi biaya pengembangan. Alhasil, harga per unit helikopter tipe kargo dan 'penyerang' ini bisa menjadi lebih murah. (Merdeka)