Kristiawan Manik dan Ricky Nathaniel Joevan, Dua mahasiswa Program Kekhususan Teknik Manufaktur Fakultas Teknik Universitas Surabaya (Ubaya), berhasil menciptakan inovasi baru berupa helm anti kantuk yang praktis, murah, dan tidak mengubah bentuk helm.
Helm anti-kantuk buatan mereka berdua memanfaatkan denyut nadi, ini merupakan terobosan baru dimana Helm anti-kantuk yang sudah beredar saat ini menggunakan gelombang syaraf otak.
Menurut Ricky, helm anti-kantuk yang memanfaatkan gelombang syaraf otak memiliki harga yang mahal, karena harga dari alat deteksi gelombang syaraf otak itu lebih dari Rp 10 juta, sedangkan alat buatan tim Ubaya yang dinamai "Anti-Drowsing System (Androsys)" itu hanya Rp500 ribu.
Ide pembuatan alat ini berawal ketika Ricki dan Joevan mendapat tugas Mata Kuliah Design Project dari dosen pembimbing, Sunardi Tjandra ST MT, lalu kami mencari ide. Idenya dari nonton televisi terkait berita kecelakaan lalu lintas yang penyebab utamanya didominasi rasa kantuk," katanya.
Ia menjelaskan "Androsys" memanfaatkan denyut nadi sebagai sensor kantuk seseorang ketika mengemudi. "Denyut nadi seseorang itu normalnya 80 denyut/menit dan kalau lebih rendah dari itu berarti orang itu mengantuk," katanya.
Meski denyut nadi normal adalah 80 denyut/menit, namun denyut nadi mengantuk pada setiap orang bisa berbeda. "Bisa saja ada orang yang mengantuk pada 60 denyut/menit, tapi alat itu bisa disesuaikan dengan ukuran setiap orang," katanya.
Cara kerja Androsys bermula dari alat sensor (mikro-kontroler) untuk ukuran denyut nadi pengemudi kendaraan yang tidak sampai 80 denyut/menit dan terpasang pada bagian tubuh seseorang yang memiliki urat nadi.
"Bisa saja dipasang pada leher, tapi nantinya akan kami hubungkan dengan tali helm untuk mendukung program safety riding dari kepolisian, lalu alat sensor ini menghasilkan output untuk vibrator yang terpasang pada batok kepala dari helm dan akhirnya bergetar secara berkala untuk mencegah kantuk seorang pengemudi," katanya.
Ia mengatakan vibrator itu dipasang pada bagian dalam helm (di atas kepala/ubun-ubun) melalui pelubangan kecil tanpa mengurangi fungsi keamanan helm standar. "Produk kami itu mendapat dana hibah Rp9,5 juta dari Kemdikbud melalui PKM-KC (Program Kreativitas Karsa Cipta)," katanya.
Meraih Medali Emas diajang IIID UiTM Malaysia
Kristiawan Manik dan Ricky Nathaniel Joevan mengikutsertakan temuannya ini dalam ajang "International Invention Inovation and Design (IIID)" di Universiti Teknologi Mara (UiTM) Segamat, Johor, Malaysia, 20 Agustus.
"Hasilnya, produk kami dinyatakan sebagai temuan baru dan sukses dinobatkan menjadi peraih medali emas untuk kategori Invention. Itu jauh melebihi target kami. Harapannya, kami akan mengembangkan Androsys untuk pengemudi bus dan truk yang sering jalan malam," katanya.
Menanggapi prestasi anak didiknya, dosen pembimbing Sunardi Tjandra menilai keunggulan Androsys terletak pada harga yang murah dan tidak mengubah struktur helm. "Produk mereka juga dibutuhkan pasar untuk saat ini," katanya. (Antara)
Senin, 15 September 2014
Rabu, 03 September 2014
Doormatics Keset Penghisap Debu Karya Mahasiswa ITS
Rizky Nafiar Rafiandi, dan rekan-rekannya dari ITS Surabaya berhasil menciptakan keset serbaguna yang memiliki fungsi sebagai penghisap debu, sehingga kotoran yang ada tidak lengket di permukaan, melainkan langsung terhisap.
Menurut Rizky ide pebuatan alat ini Berawal dari pengalaman pribadi ketika membersihkan lantai, tiba-tiba adik Rizky datang dan mengotori kembali lantai tersebut
Meski pada saat itu, adiknya sudah membersihkan kaki di keset, namun karena keset tersebut juga berdebu, maka lantai kembali kotor. Karena itu dirinya ingin membuat keset yang secara otomatis menyerap kotoran.
Untuk mewujudkan alat itu, rizky mengajak teman-teman membuatnya bersama-sama, lalu mengajukan proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti). akhirnya tim pun mendapatkan dana sebesar Rp7,5 juta dari Ditjen Dikti untuk mewujudkan sebuah alat yang kemudian diberi nama "Doormatics" ini. Menurut Rizky "Inovasi itu dapat menekan pengeluaran biaya gaji karyawan dalam suatu perusahaan, karena mengurangi jumlah petugas cleaning service," katanya.
Mahasiswa jurusan Teknik Elektro ITS itu mengungkapkan proses pembuatan keset serbaguna tersebut menggandeng salah satu bengkel di daerah Semolowaru, Surabaya, karena ada beberapa kendala terkait pembuatan keset serbaguna ini.
"Salah satu kendalanya adalah hambatan dalam mengoptimalkan kinerja keset ini. Saat pembuatannya, kami mengalami kesulitan dalam meningkatkan daya hisap debu pada keset. Kami juga kesusahan dalam membuat konstruksi mekaniknya," katanya.
Dengan bantuan bengkel itulah, Rizky dan timmnya akhirnya berhasil menciptakan Doormatics yang membutuhkan daya listrik sekitar 380 watt. "Kamu akhirnya juga lolos mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-27 di Semarang," katanya.
Sumber : (antaranews.com | okezone.com)
![]() |
| Doormatics Keset Penghisap Debu Karya Mahasiswa ITS Foto: dok.ITS |
Menurut Rizky ide pebuatan alat ini Berawal dari pengalaman pribadi ketika membersihkan lantai, tiba-tiba adik Rizky datang dan mengotori kembali lantai tersebut
Meski pada saat itu, adiknya sudah membersihkan kaki di keset, namun karena keset tersebut juga berdebu, maka lantai kembali kotor. Karena itu dirinya ingin membuat keset yang secara otomatis menyerap kotoran.
Untuk mewujudkan alat itu, rizky mengajak teman-teman membuatnya bersama-sama, lalu mengajukan proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ke Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti). akhirnya tim pun mendapatkan dana sebesar Rp7,5 juta dari Ditjen Dikti untuk mewujudkan sebuah alat yang kemudian diberi nama "Doormatics" ini. Menurut Rizky "Inovasi itu dapat menekan pengeluaran biaya gaji karyawan dalam suatu perusahaan, karena mengurangi jumlah petugas cleaning service," katanya.
Mahasiswa jurusan Teknik Elektro ITS itu mengungkapkan proses pembuatan keset serbaguna tersebut menggandeng salah satu bengkel di daerah Semolowaru, Surabaya, karena ada beberapa kendala terkait pembuatan keset serbaguna ini.
"Salah satu kendalanya adalah hambatan dalam mengoptimalkan kinerja keset ini. Saat pembuatannya, kami mengalami kesulitan dalam meningkatkan daya hisap debu pada keset. Kami juga kesusahan dalam membuat konstruksi mekaniknya," katanya.
Dengan bantuan bengkel itulah, Rizky dan timmnya akhirnya berhasil menciptakan Doormatics yang membutuhkan daya listrik sekitar 380 watt. "Kamu akhirnya juga lolos mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-27 di Semarang," katanya.
Sumber : (antaranews.com | okezone.com)
BPPT dan PTPN V Manfaatkan Limbah Sawit Menjadi Biomassa
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan PT Perkebunan Nusantara V menandatangani MOU kerjasama mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Biomassa dari tandan kosong sawit dan Pembangkit Listrik Biogas dari limbah sawit.
Kepala BPPT Dr Marzan A Iskandar menjelaskan bahwa "BPPT telah berpengalaman membangun berbagai jenis pembangkit listrik. Saat ini BPPT juga sedang meriset Pembangkit Listrik berbahan baku limbah pertanian bersama Jepang,"
Lebih lanjut Marzan mengatakan bahwa Dengan memiliki pembangkit listrik berbahan baku limbah pertaniannya sendiri, PTPN V selain akan memanfaatkan limbah yang seharusnya terbuang, juga akan menghemat bahan bakar fosil untuk keperluan listrik pabrik pengolahan minyak sawitnya maupun kebutuhan listrik warga sekitar.
Pihaknya juga akan bekerjasama dalam riset rancang bangun alat pemisah asam lemak bebas (ALB) yang merupakan pengotor dan menurunkan kualitas produk minyak sawit, tujuannya agar minyak sawit yang diekspor PTPN V tidak jatuh harganya di pasar internasional.
Sementara itu, Dirut PTPN V Fauzi Yusuf menyatakan, buah kelapa sawit yang diolah menjadi minyak sawit oleh pabriknya, hanya 36 persen berasal dari kebun PTPN V sendiri, sisanya 64 persen dibeli dari perkebunan sawit rakyat, sehingga alat pemisah ALB akan menguntungkan petani sawit juga.
"Selain itu ALB yang dihasilkan dapat diproses menjadi biodiesel untuk menyuplai kebutuhan minyak solar untuk genset PTPN V maupun untuk kendaraan operasional kami," katanya.
Pihaknya, lanjut dia, juga bekerja sama dengan BPPT dalam riset dan pengembangan industri hulu dan hilir kelapa sawit yang meningkatkan nilai tambah produk sawit dengan berbagai produk turunannya, seperti bahan baku industri kimia, sabun, perlengkapan kosmetik dan lainnya.
"Sejak beberapa tahun lalu hingga kini Indonesia nomor satu penghasil minyak kelapa sawit dunia, tapi Malaysia-lah yang nomor satu dalam penguasaannya. Seharusnya kita juga jadi nomor satu dalam penguasaan produk-produk turunan sawit. Ini berarti penguasaan pasar dan penguasaan teknologi," katanya.
PTPN V adalah satu dari 15 BUMN perkebunan dan menguasai 95 ribu hektare lahan dimana 85 ribu hektare di antaranya merupakan perkebunan sawit dan karet.
Sumber : http://www.antaranews.com/berita/365656/bppt-ptpn-v-kembangkan-pltu-biomassa-limbah-sawit
Kepala BPPT Dr Marzan A Iskandar menjelaskan bahwa "BPPT telah berpengalaman membangun berbagai jenis pembangkit listrik. Saat ini BPPT juga sedang meriset Pembangkit Listrik berbahan baku limbah pertanian bersama Jepang,"
Lebih lanjut Marzan mengatakan bahwa Dengan memiliki pembangkit listrik berbahan baku limbah pertaniannya sendiri, PTPN V selain akan memanfaatkan limbah yang seharusnya terbuang, juga akan menghemat bahan bakar fosil untuk keperluan listrik pabrik pengolahan minyak sawitnya maupun kebutuhan listrik warga sekitar.
Pihaknya juga akan bekerjasama dalam riset rancang bangun alat pemisah asam lemak bebas (ALB) yang merupakan pengotor dan menurunkan kualitas produk minyak sawit, tujuannya agar minyak sawit yang diekspor PTPN V tidak jatuh harganya di pasar internasional.
Sementara itu, Dirut PTPN V Fauzi Yusuf menyatakan, buah kelapa sawit yang diolah menjadi minyak sawit oleh pabriknya, hanya 36 persen berasal dari kebun PTPN V sendiri, sisanya 64 persen dibeli dari perkebunan sawit rakyat, sehingga alat pemisah ALB akan menguntungkan petani sawit juga.
"Selain itu ALB yang dihasilkan dapat diproses menjadi biodiesel untuk menyuplai kebutuhan minyak solar untuk genset PTPN V maupun untuk kendaraan operasional kami," katanya.
Pihaknya, lanjut dia, juga bekerja sama dengan BPPT dalam riset dan pengembangan industri hulu dan hilir kelapa sawit yang meningkatkan nilai tambah produk sawit dengan berbagai produk turunannya, seperti bahan baku industri kimia, sabun, perlengkapan kosmetik dan lainnya.
"Sejak beberapa tahun lalu hingga kini Indonesia nomor satu penghasil minyak kelapa sawit dunia, tapi Malaysia-lah yang nomor satu dalam penguasaannya. Seharusnya kita juga jadi nomor satu dalam penguasaan produk-produk turunan sawit. Ini berarti penguasaan pasar dan penguasaan teknologi," katanya.
PTPN V adalah satu dari 15 BUMN perkebunan dan menguasai 95 ribu hektare lahan dimana 85 ribu hektare di antaranya merupakan perkebunan sawit dan karet.
Sumber : http://www.antaranews.com/berita/365656/bppt-ptpn-v-kembangkan-pltu-biomassa-limbah-sawit
Rabu, 27 Agustus 2014
Indonesia Ingin Kembangkan Sistemnya Aplikasi Satelit Navigasi
Meski saat ini Indonesia baru mampu menguasai aplikasi satelit navigasi, tapi tidak menutup kemungkinan ke depan SDM tanah air mampuh mengembangkan sistem aplikasi satelit navigasi secara mandiri.
"Kita baru menguasai aspek aplikasi satelit navigasi," kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin. Pernyataan ini disampaikan pada pembukaan pelatihan internasional tentang sistem satelit navigasi global (Global Navigation Satellite System/GNSS) di Jakarta, Selasa 26 Agustus 2014.
Thomas mengatakan, pengembangan satelit di Indonesia fokus pada sistem satelit penginderaan jauh dan satelit komunikasi. Hal itu sesuai dengan rencana dan strategi Lapan hingga tahun 2019.
"Kemungkinan setelah 2019 kita akan kembangkan sistem navigasi ini," kata Thomas.
Lebih lanjut dia mengatakan, sistem GNSS sudah lama digunakan untuk navigasi misalnya Amerika dengan sistem GPS, Eropa dengan sistem yang dinamakan Galileo, dan Tiongkok dengan Baidu.
Saat ini Indonesia belum menjadi anggota penuh dari organisasi keantariksaan Asia Pasifik (Asia Pasific Space Cooperation organization/APSCO) tapi baru sebagai negara penandatangan.
Pelatihan internasional yang digelar APSCO untuk pertama kalinya di Jakarta itu diikuti perwakilan dari negara anggota APSCO yaitu Bangladesh, Tiongkok, Iran, Mongolia, Pakistan, Peru, Italia, Turki, dan Indonesia.
Menurut Thomas, pelatihan tersebut sangat penting untuk meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia masing-masing negara anggota APSCO di bidang teknologi sistem navigasi dan pemanfaatannya.
Sumber : Antaranews.com
"Kita baru menguasai aspek aplikasi satelit navigasi," kata Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin. Pernyataan ini disampaikan pada pembukaan pelatihan internasional tentang sistem satelit navigasi global (Global Navigation Satellite System/GNSS) di Jakarta, Selasa 26 Agustus 2014.
Thomas mengatakan, pengembangan satelit di Indonesia fokus pada sistem satelit penginderaan jauh dan satelit komunikasi. Hal itu sesuai dengan rencana dan strategi Lapan hingga tahun 2019.
"Kemungkinan setelah 2019 kita akan kembangkan sistem navigasi ini," kata Thomas.
Lebih lanjut dia mengatakan, sistem GNSS sudah lama digunakan untuk navigasi misalnya Amerika dengan sistem GPS, Eropa dengan sistem yang dinamakan Galileo, dan Tiongkok dengan Baidu.
Saat ini Indonesia belum menjadi anggota penuh dari organisasi keantariksaan Asia Pasifik (Asia Pasific Space Cooperation organization/APSCO) tapi baru sebagai negara penandatangan.
Pelatihan internasional yang digelar APSCO untuk pertama kalinya di Jakarta itu diikuti perwakilan dari negara anggota APSCO yaitu Bangladesh, Tiongkok, Iran, Mongolia, Pakistan, Peru, Italia, Turki, dan Indonesia.
Menurut Thomas, pelatihan tersebut sangat penting untuk meningkatkan kapasitas sumberdaya manusia masing-masing negara anggota APSCO di bidang teknologi sistem navigasi dan pemanfaatannya.
Sumber : Antaranews.com
Selasa, 26 Agustus 2014
NASA Adakan Kontes Desain Balon Udara Raksasa Untuk Eksplorasi Luar Angkasa
NASA berencana untuk membuat balon udara raksasa untuk keperluan eksplorasi luar angkasa. Ide baru yang cukup radikal ini dilatar belakangi oleh mahalnya biaya peluncuran satelit yang selama ini dilakukan oleh NASA.
Rancananya Balon udara raksasa ini akan dilengkapi dengan panel surya sebagai sumber energi utama, balon udara ini akan berfungsi sebagai sarana penunjang sistem telekomunikasi. Bahkan, NASA menambahkan jika balon udara dapat dijadikan tempat eksperimen dan teleskop luar angkasa, Daily Mail (26/08).
NASA akan mengadakan sebuah kontes untuk mendapatkan desain terbaik dari sebuah balon udara yang nantinya akan mengorbit di lapisan stratosfer bumi sekitar 20 kilometer di atas permukaan air laut. Salah satu aspek penting yang harus dipenuhi dalam kontes desain ini adalah kemampuan balon untuk membawa logistik dalam jumlah besar. NASA sendiri telah mempersiapkan sekitar Rp 47 miliar untuk meluncurkan balon udara tersebut tahun depan.
NASA berpendapat penggunaan balon udara dianggap jauh lebih murah ketimbang misi peluncuran satelit yang kerap menghabiskan dana hingga ratusan miliar rupiah. Balon udara juga dapat bermanuver dengan mudah untuk menemukan posisi terbaik guna melakukan observasi, baik pengamatan angkasa atau bumi dalam jangka waktu tahunan.
Perusahaan-perusahaan telekomunikasi dapat memanfaatkan balon udara tersebut untuk menyediakan layanan jaringan seluler dengan kualitas prima. Daerah-daerah terpencil dan terisolasi pun akan dapat menikmati akses internet berkat balon udara NASA.
Sumber : Daily Mail, Merdeka.com
![]() |
| Balon udara NASA | foto : nasa.gov |
Rancananya Balon udara raksasa ini akan dilengkapi dengan panel surya sebagai sumber energi utama, balon udara ini akan berfungsi sebagai sarana penunjang sistem telekomunikasi. Bahkan, NASA menambahkan jika balon udara dapat dijadikan tempat eksperimen dan teleskop luar angkasa, Daily Mail (26/08).
NASA akan mengadakan sebuah kontes untuk mendapatkan desain terbaik dari sebuah balon udara yang nantinya akan mengorbit di lapisan stratosfer bumi sekitar 20 kilometer di atas permukaan air laut. Salah satu aspek penting yang harus dipenuhi dalam kontes desain ini adalah kemampuan balon untuk membawa logistik dalam jumlah besar. NASA sendiri telah mempersiapkan sekitar Rp 47 miliar untuk meluncurkan balon udara tersebut tahun depan.
NASA berpendapat penggunaan balon udara dianggap jauh lebih murah ketimbang misi peluncuran satelit yang kerap menghabiskan dana hingga ratusan miliar rupiah. Balon udara juga dapat bermanuver dengan mudah untuk menemukan posisi terbaik guna melakukan observasi, baik pengamatan angkasa atau bumi dalam jangka waktu tahunan.
Perusahaan-perusahaan telekomunikasi dapat memanfaatkan balon udara tersebut untuk menyediakan layanan jaringan seluler dengan kualitas prima. Daerah-daerah terpencil dan terisolasi pun akan dapat menikmati akses internet berkat balon udara NASA.
Sumber : Daily Mail, Merdeka.com
Senin, 25 Agustus 2014
Hitchbot : Robot Pengembara Asal Kanada
Hitchbot adalah robot kecil dengan sepatu bot warna-warni. Ia berkelana dengan cara menumpang pada kendaraan lain untuk menjelajahi seluruh Kanada selama tiga pekan. Dari Halifax di pantai Timur ke Victoria di pantai Barat. Sekarang ia sampai di tujuannya.
Berkelana di Kanada dengan Menumpang
Badan Hitchbot hanya terdiri dari sebuah ember. Tangan dan kakinya terbuat dari 'water noodle' yang biasa digunakan untuk mengapung di kolam renang, dan di ujungnya menggantung dua sepatu bot karet warna-warni. Hitchbot nampaknya sosok paling aneh dalam lalu lintas Kanada. Dengan jempol yang diacungkan ke atas, ia menunggu di tepi jalan sampai ada yang mau membawanya. Tujuannya: melintasi Kanada.

Orang Tua Yang Bangga
Pakar ilmu komunikasi Frauke Zeller dan koleganya David Smith dari Ryerson University Toronto membuat Hitchbot. Dengan proyek penelitian ini mereka ingin mencari tahu, apakah robot bisa percaya kepada manusia. Hitchbot dilengkapi dengan kamera serta mikrofon, dan bisa mengenali bahasa serta gerakan. Tetapi untuk transportasi ia tergantung pada manusia.
Dari Pantai ke Pantai
Tanggal 27 Juli, Hitchbot memulai perjalanannya di Halifax di tepi pantai Timur. Untuk sampai ke tujuan di pantai Barat ia mengadakan perjalanan sepanjang 6.000 km, dan perjalanan selama tiga pekan. Itu jauh lebih cepat dari rencana semula. Sebelum tiba di pesta penyambutannya di Victoria, Hitchbot juga berkunjung ke Seattle dan beberapa suku Indian di provinsi British Columbia.
Tidak Pernah Sendirian
Nama Hitchbot berasal dari kata bahasa Inggris 'hitchhiking', yang artinya membonceng. Perjalanannya dilakukan dengan 18 kali membonceng orang berbeda. Tetapi ia tidak selalu berada di jalanan...
Pendamping Sopir dan Tamu Yang Disenangi
Dalam perjalanannya, robot kecil itu juga mendapat banyak undangan untuk datang ke pesta serta acara TV, dan ia tidak bisa hadir ke semua undangan. Tetapi ia ikut seorang sopirnya ke beberapa acara, misalnya ke pesta pernikahan di British Columbia, juga ke sebuah upacara suku Indian Wikwemikong.
Saudara untuk Hitchbot?
Perjalanan Hitchbot sudah berakhir, tapi hanya untuk sementara! Peneliti dari banyak negara sudah mengajukan permintaan agar Hitchbot juga mengadakan perjalanan di negara mereka. Apakah robot kecil itu akan mengadakan perjalanan lagi, atau mungkin mendapat adik, masih dipikirkan peneliti. Yang jelas: proyek akan diteruskan.
Sumber : dw.de
Berkelana di Kanada dengan Menumpang
Badan Hitchbot hanya terdiri dari sebuah ember. Tangan dan kakinya terbuat dari 'water noodle' yang biasa digunakan untuk mengapung di kolam renang, dan di ujungnya menggantung dua sepatu bot karet warna-warni. Hitchbot nampaknya sosok paling aneh dalam lalu lintas Kanada. Dengan jempol yang diacungkan ke atas, ia menunggu di tepi jalan sampai ada yang mau membawanya. Tujuannya: melintasi Kanada.

Orang Tua Yang Bangga
Pakar ilmu komunikasi Frauke Zeller dan koleganya David Smith dari Ryerson University Toronto membuat Hitchbot. Dengan proyek penelitian ini mereka ingin mencari tahu, apakah robot bisa percaya kepada manusia. Hitchbot dilengkapi dengan kamera serta mikrofon, dan bisa mengenali bahasa serta gerakan. Tetapi untuk transportasi ia tergantung pada manusia.
Dari Pantai ke Pantai
Tanggal 27 Juli, Hitchbot memulai perjalanannya di Halifax di tepi pantai Timur. Untuk sampai ke tujuan di pantai Barat ia mengadakan perjalanan sepanjang 6.000 km, dan perjalanan selama tiga pekan. Itu jauh lebih cepat dari rencana semula. Sebelum tiba di pesta penyambutannya di Victoria, Hitchbot juga berkunjung ke Seattle dan beberapa suku Indian di provinsi British Columbia.
Tidak Pernah Sendirian
Nama Hitchbot berasal dari kata bahasa Inggris 'hitchhiking', yang artinya membonceng. Perjalanannya dilakukan dengan 18 kali membonceng orang berbeda. Tetapi ia tidak selalu berada di jalanan...
Pendamping Sopir dan Tamu Yang Disenangi
Dalam perjalanannya, robot kecil itu juga mendapat banyak undangan untuk datang ke pesta serta acara TV, dan ia tidak bisa hadir ke semua undangan. Tetapi ia ikut seorang sopirnya ke beberapa acara, misalnya ke pesta pernikahan di British Columbia, juga ke sebuah upacara suku Indian Wikwemikong.
Saudara untuk Hitchbot?
Perjalanan Hitchbot sudah berakhir, tapi hanya untuk sementara! Peneliti dari banyak negara sudah mengajukan permintaan agar Hitchbot juga mengadakan perjalanan di negara mereka. Apakah robot kecil itu akan mengadakan perjalanan lagi, atau mungkin mendapat adik, masih dipikirkan peneliti. Yang jelas: proyek akan diteruskan.
Sumber : dw.de
Teknologi Sistem Peringatan Dini Indonesia Unggul di ASEAN
Indonesia menjadi tuan rumah sekaligus pembicara utama dalam ASEAN Science and Technology Week (ASTW) ke-9 di Kota Bogor, Jawa Barat.
Kondisi Geografis Indonesia yang berada pada "ring of fire" memaksa Negara ini untuk menata dan mempersiapkan segala kemungkinan bencana alam yang akan terjadi. Teknologi sistem peringatan dini menjadi tumpuan Indonesia dalam mengatasi gejala alam penyebab bencana yang kerap kali terjadi.
Dari latar belakang kondisi geografis ini akhirnya menghasilkan teknologi-teknologi peringatan dini karya anak bangsa. "Yang paling membanggakan dalam pertemuan ASTW ke-9 ini, Indonesia menjadi pembicara utama untuk sistem peringatan dini serta open source software," kata Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, saat menghadiri Pekan Kementerian Riset dan Teknologi ASEAN.
Teknologi sistem peringatan dini Indonesia lebih unggul dari negara-negara ASEAN, hal ini dibuktikan dengan tampilnya Indonesia sebagai pembicara utama dalam ASTW ke-9 di Kota Bogor.
"Yang harus kita lakukan adalah bagaimana seminimal mungkin mengurangi jatuhnya korban, maka dari itu sistem peringatan dini harus terus ditingkatkan dan dikembangkan. Tidak hanya untuk gempa bumi, dan Tsunami, juga gunung meletus," kata Menteri.
Menurut Menteri, dalam riset dan teknologi masyarakat ekonomi ASEAN adalah sesuatu yang harus siap dihadapi sehingga wajar kiranya ilmu dan teknologi harus dikembangkan.
"Karena dengan riset dan teknologi bisa meningkatkan produk-produk lokal kita menjadi nilai tambah dalam menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN ini," kata Menteri.
Pekan Kementerian Riset dan Teknologi ASEAN berlangsung selama 10 hari diikuti oleh 780 peserta dari negara-negara angota ASEAN seperti Indonesia, Malayasia, Singapur, Brunai Darussalam, Vietnam, Thailand, dan Filiphina.
Asisten Deputi (Asdep) Jaringan Iptek Internasional Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek), Nada Marsudi, menjelaskan latar belakang diadakan acara ASTW salah satu alasannya, karena Masyarakat Ekonomi ASEAN yang segera berlaku tahun 2015.
Selain juga berpegang dengan tiga pilar kerja sama ASEAN yakni keamanan, politik, ekonomi, dan budaya.
"Kebetulan Iptek masuknya ke dalam pilar ekonomi dan budaya ASEAN," kata Nada.
Ia menambahkan, ASTW ke-9 digelar di Bogor, Jawa Barat, berlangsung sejak 18 hingga 27 Agustus 2014 yang masih menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang diperingati setiap 10 Agustus.
Dalam kegiatan tersebut terdapat 15 rangkaian antivitas, dimulai dari 4th ASEAN Science Congress and Conference (18-19 Agustus), tiga ASEAN Flagships Workshops (OSS, EWS-DRR, Biofuel) pada 20 Agustus, South East Asia-Europe Union (EU)-NET Bibliometrics WS (20 Agustus), dan Sustain EU-ASEAN Environment Research (20 Agustus).
Selain itu ada pertemuan ABAPAST, ABASF, dan INASAT pada 21 Agustus yang dilanjutkan dengan The 68th ASEAN COST Meeting pada 22 Agustus. Pertemuan lain yakni ASEAN COST+ Dialogue Partners (23--24 Agustus), ASEAN STI Exhibition (22-25 Agustus), 8 Informal ASEAN Ministerial Meeting on S&T (8IAMMST) pada 25 Agustus, dan ASEAN ST Awards pada acara Ministerial Gala Dinner.
Menurut Nada, pertemuan hari menjadi spesial karena Indonesia tampil sebagai pembicara utama tentang sistem peringatan dini.
"Sistem peringatan dini Indonesia dinilai lebih unggul karena belajar dari pengalama kita menangani bencana gempa dan Tsunami di Aceh. Ini menjadi bencana terbesar di ASEAN," kata Nada.
Sumber : antaranews.com
![]() |
| Sistem-Peringatan-Tsunami | foto : portalkbr.com |
Kondisi Geografis Indonesia yang berada pada "ring of fire" memaksa Negara ini untuk menata dan mempersiapkan segala kemungkinan bencana alam yang akan terjadi. Teknologi sistem peringatan dini menjadi tumpuan Indonesia dalam mengatasi gejala alam penyebab bencana yang kerap kali terjadi.
Dari latar belakang kondisi geografis ini akhirnya menghasilkan teknologi-teknologi peringatan dini karya anak bangsa. "Yang paling membanggakan dalam pertemuan ASTW ke-9 ini, Indonesia menjadi pembicara utama untuk sistem peringatan dini serta open source software," kata Menteri Riset dan Teknologi, Gusti Muhammad Hatta, saat menghadiri Pekan Kementerian Riset dan Teknologi ASEAN.
Teknologi sistem peringatan dini Indonesia lebih unggul dari negara-negara ASEAN, hal ini dibuktikan dengan tampilnya Indonesia sebagai pembicara utama dalam ASTW ke-9 di Kota Bogor.
"Yang harus kita lakukan adalah bagaimana seminimal mungkin mengurangi jatuhnya korban, maka dari itu sistem peringatan dini harus terus ditingkatkan dan dikembangkan. Tidak hanya untuk gempa bumi, dan Tsunami, juga gunung meletus," kata Menteri.
Menurut Menteri, dalam riset dan teknologi masyarakat ekonomi ASEAN adalah sesuatu yang harus siap dihadapi sehingga wajar kiranya ilmu dan teknologi harus dikembangkan.
"Karena dengan riset dan teknologi bisa meningkatkan produk-produk lokal kita menjadi nilai tambah dalam menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN ini," kata Menteri.
Pekan Kementerian Riset dan Teknologi ASEAN berlangsung selama 10 hari diikuti oleh 780 peserta dari negara-negara angota ASEAN seperti Indonesia, Malayasia, Singapur, Brunai Darussalam, Vietnam, Thailand, dan Filiphina.
Asisten Deputi (Asdep) Jaringan Iptek Internasional Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek), Nada Marsudi, menjelaskan latar belakang diadakan acara ASTW salah satu alasannya, karena Masyarakat Ekonomi ASEAN yang segera berlaku tahun 2015.
Selain juga berpegang dengan tiga pilar kerja sama ASEAN yakni keamanan, politik, ekonomi, dan budaya.
"Kebetulan Iptek masuknya ke dalam pilar ekonomi dan budaya ASEAN," kata Nada.
Ia menambahkan, ASTW ke-9 digelar di Bogor, Jawa Barat, berlangsung sejak 18 hingga 27 Agustus 2014 yang masih menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang diperingati setiap 10 Agustus.
Dalam kegiatan tersebut terdapat 15 rangkaian antivitas, dimulai dari 4th ASEAN Science Congress and Conference (18-19 Agustus), tiga ASEAN Flagships Workshops (OSS, EWS-DRR, Biofuel) pada 20 Agustus, South East Asia-Europe Union (EU)-NET Bibliometrics WS (20 Agustus), dan Sustain EU-ASEAN Environment Research (20 Agustus).
Selain itu ada pertemuan ABAPAST, ABASF, dan INASAT pada 21 Agustus yang dilanjutkan dengan The 68th ASEAN COST Meeting pada 22 Agustus. Pertemuan lain yakni ASEAN COST+ Dialogue Partners (23--24 Agustus), ASEAN STI Exhibition (22-25 Agustus), 8 Informal ASEAN Ministerial Meeting on S&T (8IAMMST) pada 25 Agustus, dan ASEAN ST Awards pada acara Ministerial Gala Dinner.
Menurut Nada, pertemuan hari menjadi spesial karena Indonesia tampil sebagai pembicara utama tentang sistem peringatan dini.
"Sistem peringatan dini Indonesia dinilai lebih unggul karena belajar dari pengalama kita menangani bencana gempa dan Tsunami di Aceh. Ini menjadi bencana terbesar di ASEAN," kata Nada.
Sumber : antaranews.com
Langganan:
Postingan (Atom)







