Indonesia menargetkan memiliki bandar antariksa sendiri dalam 25 tahun ke depan dan berupaya mulai menyusun rencana induk keantariksaan jangka pajang. Berlandaskan mandat Undang-Undang No. 21 Tahun 2013 Tentang Keantariksaan, Undang-Undang ini diharapkan bisa dijadikan landasan dalam penyelenggaraan keantariksaan nasional.
Sekretaris Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional Republik Indonesia (Depanri) mulai menentukan arah keantariksaan Indonesia untuk 25 tahun ke depan. Ada beberapa hal yang menjadi target antariksa nasional dalam jangka panjang.
"Dalam 25 tahun ke depan, gambarannya, kita ingin menguasai sains dan antariksa, punya riset Observatorium Nasional, satelit komunikasi, dan bandar antariksa," ujar Sekretaris Depanri sekaligus Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, di Gedung BPPT, Jakarta, Rabu, 10 Desember 2014.
Bangun Pusat Observatorium Baru di Nusa Tenggara Timur
Indonesia juga berencana untuk membangun pusat observatorium nasional baru yang dilengkapi dengan fasilitas pengamatan astronomi itu rencananya akan dibangun di lokasi yang cuacanya dominan cerah.
"Direncanakan akan dibangun di Nusa Tenggara Timur karena wilayah tersebut selalu terlihat cerah dan belum banyak polusi cahaya," ungkapnya.
Sedangkan untuk bandar antariksa atau space port, Thomas masih belum menentukan pilihan lokasi pembangunannya. Pasalnya, saat ini ada dua kandidat wilayah yang dirasa baik untuk membangun bandar antariksa tersebut.
"Bandar antariksa direncanakan dibangun di Morotai atau Biak. Meski sulit untuk membangun bandar antariksa dalam 25 tahun tapi sekarang sudah mulai tahapannya, dari daerah (yang akan dibangun bandar antariksa) dulu," paparnya. (VivaNews)
Rabu, 10 Desember 2014
Siswa SMA Semarang Ciptakan Rompi Antipeluru dari Sabut Kelapa
Berawal dari hobi bermain game sederhana, Aristio Kevin Ardyaneira Pratama (16) siswa kelas XI dan M. Iqbal Fauzi (15) siswa kelas XI MIA 5 SMAN 3 Semarang, Jawa Tengah berhasil mengubah sabut kelapa menjadi rompi antipeluru yang ramah lingkungan.
Hasil kreativitas yang diberi nama Stab-resistant and Ballistic Vest Made from Coconut Fiber ini bahkan telah diikut sertakan dalam berbagai ajang bergengsi seperti ajang 2nd International Science Project Olympiad (ISPrO) 2014 di Jakarta dan memperoleh medali perak. Kemudian di ajang Karyacipta Teknologi Tepat Guna di Semarang juga menyabet juara dua.
Berbahan Baku Sabut Kelapa
Kedua siswa berbakat di SMA 3 itu telah melakukan penelitian selama berulang kali selama enam bulan, beberapa kali gagal hingga akhirnya berhasil membuat rompi rompi anti peluru yang berkualitas baik. Pemilihan bahan sabut, kelapa dipilih karena dinilai memiliki tekstur kuat menahan berbagai hantaman dari luar.
"Sabut kelapa kami pakai karena saat ditarik-tarik ternyata kuat, " kata Kevin di SMA 3 Semarang, Rabu 10 Desember 2014.
Pada percobaan tahap pertama sempat gagal, karena rompi antik berbahan sabut itu masih bisa ditembus peluru. Saat itu mereka masih memilih bahan fiber, sabut kelapa, dan plat seng pada percobaan pertama.
"Dulu masih ada seng-nya, sekarang sudah tidak pakai. Kami juga pernah coba pakai kain celana jeans tapi malah berat," kata Kevin yang menceritakan bahwa penelitian itu dlakukan selama enam bulan.
Sempat gagal pada empat kali percobaan. Namun semangat anak bangsa itu tak patah arang. Hasilnya positif. Percobaan kelima dan enam mereka berhasil. Peluru milik TNI/Polri dari pistol jenis M-1911 kaliber 0.45 inci yang dilontarkan dengan jarak 3 meter ternyata bisa memantul.
"Uji coba ini berhasil, setelah pelurunya mental dan kelebihan lainnya, rompi ini tidak bisa ditembus benda tajam," ucap dia.
Semakin hari temuan mereka itu sudah mengalami kemajuan pesat. Dari prototipe pertama yang memiliki tebal 2,5 sentimeter dan berat 6 kilogram, saat ini lapisan antipeluru dari sabut kelapa itu hanya setebal 1,35 sentimeter dan berat 3 kilogram untuk dua lempeng di depan dan belakang rompi.
Tak tanggung-tanggung, kedua bocah cerdas itu selalu bekerjasama dengan TNI, Polisi, dan Perbakin untuk melakukan setiap uji coba rompi antipeluru ajaib tersebut. Mereka berharap temuan itu, bisa dikembangkan dan bisa menahan jenis peluru yang lebih berat. Sehingg ke depan, produk mereka bisa dimanfaatkan TNI maupun Polri.
Untuk biaya pembuatan lempengan rompi sendiri, kata dia, cukup murah dan dapat dibuat dalam waktu singkat. Mereka hanya butuh Rp800 ribu dalam mendapatkan setiap bahan yang diinginkan.
"Jika dibandingkan dengan rompi antipeluru baja memang produk kami lebih mahal tetapi jauh lebih ringan," kata Iqbal. (VivaNews)
Hasil kreativitas yang diberi nama Stab-resistant and Ballistic Vest Made from Coconut Fiber ini bahkan telah diikut sertakan dalam berbagai ajang bergengsi seperti ajang 2nd International Science Project Olympiad (ISPrO) 2014 di Jakarta dan memperoleh medali perak. Kemudian di ajang Karyacipta Teknologi Tepat Guna di Semarang juga menyabet juara dua.
Berbahan Baku Sabut Kelapa
Kedua siswa berbakat di SMA 3 itu telah melakukan penelitian selama berulang kali selama enam bulan, beberapa kali gagal hingga akhirnya berhasil membuat rompi rompi anti peluru yang berkualitas baik. Pemilihan bahan sabut, kelapa dipilih karena dinilai memiliki tekstur kuat menahan berbagai hantaman dari luar.
"Sabut kelapa kami pakai karena saat ditarik-tarik ternyata kuat, " kata Kevin di SMA 3 Semarang, Rabu 10 Desember 2014.
Pada percobaan tahap pertama sempat gagal, karena rompi antik berbahan sabut itu masih bisa ditembus peluru. Saat itu mereka masih memilih bahan fiber, sabut kelapa, dan plat seng pada percobaan pertama.
"Dulu masih ada seng-nya, sekarang sudah tidak pakai. Kami juga pernah coba pakai kain celana jeans tapi malah berat," kata Kevin yang menceritakan bahwa penelitian itu dlakukan selama enam bulan.
Sempat gagal pada empat kali percobaan. Namun semangat anak bangsa itu tak patah arang. Hasilnya positif. Percobaan kelima dan enam mereka berhasil. Peluru milik TNI/Polri dari pistol jenis M-1911 kaliber 0.45 inci yang dilontarkan dengan jarak 3 meter ternyata bisa memantul.
"Uji coba ini berhasil, setelah pelurunya mental dan kelebihan lainnya, rompi ini tidak bisa ditembus benda tajam," ucap dia.
Semakin hari temuan mereka itu sudah mengalami kemajuan pesat. Dari prototipe pertama yang memiliki tebal 2,5 sentimeter dan berat 6 kilogram, saat ini lapisan antipeluru dari sabut kelapa itu hanya setebal 1,35 sentimeter dan berat 3 kilogram untuk dua lempeng di depan dan belakang rompi.
Tak tanggung-tanggung, kedua bocah cerdas itu selalu bekerjasama dengan TNI, Polisi, dan Perbakin untuk melakukan setiap uji coba rompi antipeluru ajaib tersebut. Mereka berharap temuan itu, bisa dikembangkan dan bisa menahan jenis peluru yang lebih berat. Sehingg ke depan, produk mereka bisa dimanfaatkan TNI maupun Polri.
Untuk biaya pembuatan lempengan rompi sendiri, kata dia, cukup murah dan dapat dibuat dalam waktu singkat. Mereka hanya butuh Rp800 ribu dalam mendapatkan setiap bahan yang diinginkan.
"Jika dibandingkan dengan rompi antipeluru baja memang produk kami lebih mahal tetapi jauh lebih ringan," kata Iqbal. (VivaNews)
Senin, 08 Desember 2014
Ilmuwan Indonesia berhasil ciptakan pil kontrasepsi untuk pria
Kabar gembira datang dari dunia kedokteran Indonesia, Seorang Propesor dari Universitas Airlangga berhasil menemukan pil kontrasepsi yang khusus diciptakan untuk pria. Adalah Profesor Bambang Prajogo berhasil menciptakan Pil kontrasepsi yang mirip dengan pil KB untuk wanita ini terbukti 99% efektif untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.
Profesor Bambang Prajogo menuturkan "Selama ini Anda mengenal bahwa pil KB hanya khusus diperuntukkan untuk wanita. Namun nyatanya kekayaan alam Indonesia sendiri menyimpan bahan alami yang menjadi bahan utama pembuat pil ini. Bahan alami tersebut adalah tanaman gendarussa, salah satu keluarga semak di Indonesia. Uniknya, sudah berabad-abad yang lalu tanaman ini telah digunakan oleh pria Papua menjadi alat kontrasepsi. Mereka merebus tanaman ini bersama dengan teh dan kemudian meminum airnya," jelasnya.
Butuh waktu hingga 30 tahun bagi Profesor Prayogo untuk menemukan bahwa enzim di dalam tanaman ini mampu mengganggu produksi enzim penting dalam sperma, dimana enzim ini mampuh melemahkan sperma, dan membuat sperma tidak mampu menembus sel terus selama proses pembuahan. "Disarankan, pria mengonsumsi pil ini satu jam sebelum berhubungan badan."
"Kesuburan pria bisa kembali setelah mereka tidak mengonsumsi pil ini selama beberapa bulan," lanjutnya.
Diminati Industri Farmasi Amerika SerikatProfesor Prayogo melanjutkan bahwa sebenarnya telah banyak perusahaan farmasi besar di Amerika Serikat yang bersedia membayar jutaan dolar untuk membeli penemuan dan hak paten yang dimilikinya. Namun dia menolak hal tersebut dan menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintahan Indonesia yang saat ini melakukan penelitian lanjutan untuk memverifikasi temuan tersebut.
Sumber : Merdeka
![]() |
| Profesor Bambang Prajogo | foto : thejakartapost.com |
Profesor Bambang Prajogo menuturkan "Selama ini Anda mengenal bahwa pil KB hanya khusus diperuntukkan untuk wanita. Namun nyatanya kekayaan alam Indonesia sendiri menyimpan bahan alami yang menjadi bahan utama pembuat pil ini. Bahan alami tersebut adalah tanaman gendarussa, salah satu keluarga semak di Indonesia. Uniknya, sudah berabad-abad yang lalu tanaman ini telah digunakan oleh pria Papua menjadi alat kontrasepsi. Mereka merebus tanaman ini bersama dengan teh dan kemudian meminum airnya," jelasnya.
Butuh waktu hingga 30 tahun bagi Profesor Prayogo untuk menemukan bahwa enzim di dalam tanaman ini mampu mengganggu produksi enzim penting dalam sperma, dimana enzim ini mampuh melemahkan sperma, dan membuat sperma tidak mampu menembus sel terus selama proses pembuahan. "Disarankan, pria mengonsumsi pil ini satu jam sebelum berhubungan badan."
"Kesuburan pria bisa kembali setelah mereka tidak mengonsumsi pil ini selama beberapa bulan," lanjutnya.
Diminati Industri Farmasi Amerika SerikatProfesor Prayogo melanjutkan bahwa sebenarnya telah banyak perusahaan farmasi besar di Amerika Serikat yang bersedia membayar jutaan dolar untuk membeli penemuan dan hak paten yang dimilikinya. Namun dia menolak hal tersebut dan menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintahan Indonesia yang saat ini melakukan penelitian lanjutan untuk memverifikasi temuan tersebut.
Sumber : Merdeka
Kompor Unik, Mampu Isi Baterai Smartphone dan Kurangi Resiko Kangker
Mahasiswa asal Filipina Jacqueline Nguyen dan Mark Webb berhasil membuat kompor tungku unik uang diberi nama K2 cook stove. Selain berfungsi untuk memasak, kompor ini juga dapat diguakan untuk mengisi baterai smartphone, selain itu kompor ini juga di klaim minim emisi yang mana bisa mengurangi penyebab kanker.
Ide pembuatan kompor K2 cook stove ini dicetuskan setelah kedua orang ini berkunjung ke Filipina dan melihat masih banyak keluarga yang menggunakan kompor tungku berbahan bakar kayu dan plastik yang menghasilkan banyak asap. Padahal asap yang mengandung banyak zat karsinogenik dan zat berbahaya lainnya ini telah menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia, lebih tinggi dari HIV dan malaria.
Webb mengklaim jika kompor K2 Cook Stove ini lebih ramah lingkungan dengan menghasilkan asap 95 persen lebih sedikit daripada kompor tungku biasa. Hal ini karena kompor ini dibuat dengan desain geometris yang unik dan dibekali sistem penyedot udara berupa kipas listrik.
Kipas ini berfungsi untuk meniup udara ke api hingga menciptakan reaksi konveksi lebih besar yang membuat kompor yang lebih hemat bahan bakar. Selain itu, akibat tekanan angin ini, karbon monoksida yang menjadi zat karsinogenik juga bisa diubah menjadi karbondioksida yang. Webb juga menyebutkan jika K2 Cook Stove ini membutuhkan 50 persen kayu dan plastik lebih sedikit untuk menghasilkan jumlah panas yang sama panas.
Tak hanya itu saja, energi panas yang diproduksi kompor ini selain berfungsi untuk mematangkan makanan yang dimasak di atasnya juga bisa diubah menjadi sumber energi listrik yang bisa untuk mengisi baterai smartphone.
Kompor K2 Cook Stove ini juga dilengkapi generator thermoelectric yang dapat mengubah perpindahan panas antar lempengan generator menjadi muatan listrik. Muatan listrik ini kemudian disalurkan ke dalam regulator tegangan untuk menghasilkan arus yang stabil.
Rencananya kompor K2 Cook Stove ini akan dipasarkan ke China terlebih dahulu dan tak menutup kemungkinan untuk di pasarkan di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Filipina yang menjadi inspirasi pembuatnya. Untuk harganya sendiri, K2 Cook Stove ini bakal diedarkan dengan harga USD 50 atau sekitar Rp 600 ribuan. (Merdeka)
![]() |
| K2 Cook Stove |
Ide pembuatan kompor K2 cook stove ini dicetuskan setelah kedua orang ini berkunjung ke Filipina dan melihat masih banyak keluarga yang menggunakan kompor tungku berbahan bakar kayu dan plastik yang menghasilkan banyak asap. Padahal asap yang mengandung banyak zat karsinogenik dan zat berbahaya lainnya ini telah menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia, lebih tinggi dari HIV dan malaria.
Webb mengklaim jika kompor K2 Cook Stove ini lebih ramah lingkungan dengan menghasilkan asap 95 persen lebih sedikit daripada kompor tungku biasa. Hal ini karena kompor ini dibuat dengan desain geometris yang unik dan dibekali sistem penyedot udara berupa kipas listrik.
Kipas ini berfungsi untuk meniup udara ke api hingga menciptakan reaksi konveksi lebih besar yang membuat kompor yang lebih hemat bahan bakar. Selain itu, akibat tekanan angin ini, karbon monoksida yang menjadi zat karsinogenik juga bisa diubah menjadi karbondioksida yang. Webb juga menyebutkan jika K2 Cook Stove ini membutuhkan 50 persen kayu dan plastik lebih sedikit untuk menghasilkan jumlah panas yang sama panas.
![]() |
| Jacqueline Nguyen dan Mark Webb Menemani Seorang Ibu yang tengah memasak dengan menggunakan kompor K2 cook stove |
Tak hanya itu saja, energi panas yang diproduksi kompor ini selain berfungsi untuk mematangkan makanan yang dimasak di atasnya juga bisa diubah menjadi sumber energi listrik yang bisa untuk mengisi baterai smartphone.
Kompor K2 Cook Stove ini juga dilengkapi generator thermoelectric yang dapat mengubah perpindahan panas antar lempengan generator menjadi muatan listrik. Muatan listrik ini kemudian disalurkan ke dalam regulator tegangan untuk menghasilkan arus yang stabil.
Rencananya kompor K2 Cook Stove ini akan dipasarkan ke China terlebih dahulu dan tak menutup kemungkinan untuk di pasarkan di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Filipina yang menjadi inspirasi pembuatnya. Untuk harganya sendiri, K2 Cook Stove ini bakal diedarkan dengan harga USD 50 atau sekitar Rp 600 ribuan. (Merdeka)
Rabu, 03 Desember 2014
Dr. Johny Setiawan Astronom Indonesia, Salah Satu Penemu Planet Baru
Bentuk tubuhnya yang bak atlit binaraga sudah terlihat ketika bertemu dengannya dari jarak jauh. Usianya kini, sudah masuk 39 tahun dan bukan umur tua untuk sebagai seorang ilmuwan yang telah banyak menemukan penemuaan spektakuler. Karena dalam bidangnya ini, masih sedikit orang Indonesia yang memiliki kemampuan sepertinya dan sedikit sekali orang nusantara mengenalnya.
Dia adalah Dr. Jhony Setiawan, ilmuwan asal Indonesia yang tinggal dan bekerja di Jerman semenjak kuliah. Pria kelahiran Jakarta, 16 Agustus 1974 ini menghabiskan pendidikan dari sekolah dasar hingga SMA di Indonesia. Kemudian pada tahun 1992, dia melanjutkan pendidikannya ke Jerman untuk jenjang universitas. Sebelum masuk universitas dia harus menamatkan pre-universitasnya di kota Heidelberg di Jerman tahun 1993. Baru dia masuk Universitas Freiburg (Jerman) jurusan Fisika tahun 1993 dan menyelesaikannya tahun 1999 dengan gelar Diplom Physiker (setara S2/ Master).
Tesis yang di tulis untuk progam S2-nya itu dalam bidang astronomi dan astrofisika. Dari situlah dia mulai mengembangkan penelitian dalam bidang astronomi. Selang beberapa lama dia melanjutkan pendidikanya ke jenjenag doktoral dan meneruskan penelitiannya di astrofisika, yang diselesaikannya pada umur 28 tahun. Dia mendapatkan gelar Doktor reurum naturatium (Dr. rer. nat) dengan desertasinya yang bertemakan pencarian planet di luar tata surya (extrasolar planet) dengan hasil summa cumlade tahun 2003.
Kemudiaan dia kembali ke Heidelberg untuk melanjutkan risetnya di Max-Planck-Institute For Astronomy. dengan memulai banyak penelitian di negara Cile. Penelitian ini di mulai pada tahun 2005 antara kelompok astronom Brasil dan Eropa bekerjasama untuk menyelidiki keberadaaan planet lain. Ketua tim peneliti ini Dr. Jhony dengan menghasilkan satu penemuan awal yaitu planet yang ada di luar tata surya yang diberi nama HD 11977 b. sesudah itu di teruskan dengan penemuan-penemuan baru seperti planet TW Hydrae yang mengitari sebuah bintang muda. Sedangkan penemuan yang lain yaitu HIP 13044, HD 47536 c, HD 110014 b, HD 11014 c, HD 11977 b, dan HD 70573 b.
Pria ini telah menghebohkan dunia dengan penemuanya itu yang dapat menyumbangsihkan untuk dunia ilmu pengetahuan. Karena dia dengan timnya mampu menemukan planet di luar tata surya. Ini menjadikan sebuah pengetahuan besar dan akan memberikan dampak untuk dunia astrofsika kedepan. Sudah lebih dari sepuluh planet baru yang ia dan teman-temannya temukan.
Tak cukup dengan bidang fisika dan astrofisika dia mengambil kuliah lagi dengan jurusan hukum dan ekonomi di Universitas Manhein sekitar tahun 2009 – 2011. sedangkan dikesibukan yang sangat luar biasa, dia masih menyempatkan diri untuk berkunjung ke tanah air untuk membagikan pengetahuanya dan menginspirasi generasi muda. Misal pernah menjadi pembicara di LIPI dan ITB.
Ini menjadikannya sebagai salah satu astronom Indonesia yang mendumia. Dan ini menjadikannya salah satu inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Kini, dia mengabdiakan diri pada bangsa dengan bekerja di KBRI di Berlin
Sumber : beritaunik, kompas, JKGR
![]() |
| Dr. Johny Setiawan Astronom Indonesia |
Dia adalah Dr. Jhony Setiawan, ilmuwan asal Indonesia yang tinggal dan bekerja di Jerman semenjak kuliah. Pria kelahiran Jakarta, 16 Agustus 1974 ini menghabiskan pendidikan dari sekolah dasar hingga SMA di Indonesia. Kemudian pada tahun 1992, dia melanjutkan pendidikannya ke Jerman untuk jenjang universitas. Sebelum masuk universitas dia harus menamatkan pre-universitasnya di kota Heidelberg di Jerman tahun 1993. Baru dia masuk Universitas Freiburg (Jerman) jurusan Fisika tahun 1993 dan menyelesaikannya tahun 1999 dengan gelar Diplom Physiker (setara S2/ Master).
Tesis yang di tulis untuk progam S2-nya itu dalam bidang astronomi dan astrofisika. Dari situlah dia mulai mengembangkan penelitian dalam bidang astronomi. Selang beberapa lama dia melanjutkan pendidikanya ke jenjenag doktoral dan meneruskan penelitiannya di astrofisika, yang diselesaikannya pada umur 28 tahun. Dia mendapatkan gelar Doktor reurum naturatium (Dr. rer. nat) dengan desertasinya yang bertemakan pencarian planet di luar tata surya (extrasolar planet) dengan hasil summa cumlade tahun 2003.
Kemudiaan dia kembali ke Heidelberg untuk melanjutkan risetnya di Max-Planck-Institute For Astronomy. dengan memulai banyak penelitian di negara Cile. Penelitian ini di mulai pada tahun 2005 antara kelompok astronom Brasil dan Eropa bekerjasama untuk menyelidiki keberadaaan planet lain. Ketua tim peneliti ini Dr. Jhony dengan menghasilkan satu penemuan awal yaitu planet yang ada di luar tata surya yang diberi nama HD 11977 b. sesudah itu di teruskan dengan penemuan-penemuan baru seperti planet TW Hydrae yang mengitari sebuah bintang muda. Sedangkan penemuan yang lain yaitu HIP 13044, HD 47536 c, HD 110014 b, HD 11014 c, HD 11977 b, dan HD 70573 b.
Pria ini telah menghebohkan dunia dengan penemuanya itu yang dapat menyumbangsihkan untuk dunia ilmu pengetahuan. Karena dia dengan timnya mampu menemukan planet di luar tata surya. Ini menjadikan sebuah pengetahuan besar dan akan memberikan dampak untuk dunia astrofsika kedepan. Sudah lebih dari sepuluh planet baru yang ia dan teman-temannya temukan.
Tak cukup dengan bidang fisika dan astrofisika dia mengambil kuliah lagi dengan jurusan hukum dan ekonomi di Universitas Manhein sekitar tahun 2009 – 2011. sedangkan dikesibukan yang sangat luar biasa, dia masih menyempatkan diri untuk berkunjung ke tanah air untuk membagikan pengetahuanya dan menginspirasi generasi muda. Misal pernah menjadi pembicara di LIPI dan ITB.
Ini menjadikannya sebagai salah satu astronom Indonesia yang mendumia. Dan ini menjadikannya salah satu inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Kini, dia mengabdiakan diri pada bangsa dengan bekerja di KBRI di Berlin
Sumber : beritaunik, kompas, JKGR
Kamis, 16 Oktober 2014
Ilmuan IPB Ciptakan Teknologi Anti Radar Berbahan Cangkang Udang dan Tulang Ikan
TNI berkerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan teknologi anti radar bagi keperluan TNI. Pengembangan teknologi yang telah dilakukan sejak tahun 2011 ini diharapkan mampu memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) milik TNI.
Menurut Wakil Ketua Dewan Juri Lomba Inovasi TNI 2014, Avanti Fontana, teknologi ini diciptakan dengan menggunakan bahan dasar cangkang udang (chitosan) dan tulang ikan (hidroksiapatit).
Sistem kerja utama alat itu yakni dengan menyerap pantulan gelombang frekwensi radar musuh yang dilayangkan ke alutsista milik TNI. Dengan diserapnya gelombang tersebut, maka musuh tak dapat mendeteksi kendaraan yang digunakan TNI dalam menjalankan operasinya.
“Inovasi ini jelas membantu meningkatkan peran dan tugas TNI,” kata Avanti disela-sela pemberian penghargaan Inovasi Panglimat TNI 2014 di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Minggu (12/10/2014).
Pengembangan teknologi ini dilakukan oleh tim dosen dan mahasiswa IPB, yang terdiri dari Bambang Riyanto, Akhiruddin Maddu, dan Esa Ghanim Fadhallah. Ketiga orang itu akhirnya didapuk menjadi salah satu tim pemenang dalam ajang Inovasi Panglima TNI 2014. Panglima TNI Jenderal Moeldoko pun, mengapresiasi pengembangan teknologi tersebut. Ia meminta agar penelitian dan pengembangan teknologi itu dapat dipercepat sehingga dapat segera diaplikasikan di alutsista TNI.
dalam keterangan terpisah, Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen TNI Fuad Basya mengatakan, TNI akan menggandeng PT Pindad dalam pengaplikasian teknologi ini. Di samping itu, TNI juga berencana agar teknologi ini dapat diproduksi secara masal. Meski demikian, ia mengatakan uji coba atas alat anti radar itu harus diuji coba terlebih dahulu di Badan Litbang TNI. (Tribun)
![]() |
| Radar TNI AU |
Menurut Wakil Ketua Dewan Juri Lomba Inovasi TNI 2014, Avanti Fontana, teknologi ini diciptakan dengan menggunakan bahan dasar cangkang udang (chitosan) dan tulang ikan (hidroksiapatit).
Sistem kerja utama alat itu yakni dengan menyerap pantulan gelombang frekwensi radar musuh yang dilayangkan ke alutsista milik TNI. Dengan diserapnya gelombang tersebut, maka musuh tak dapat mendeteksi kendaraan yang digunakan TNI dalam menjalankan operasinya.
“Inovasi ini jelas membantu meningkatkan peran dan tugas TNI,” kata Avanti disela-sela pemberian penghargaan Inovasi Panglimat TNI 2014 di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Minggu (12/10/2014).
Pengembangan teknologi ini dilakukan oleh tim dosen dan mahasiswa IPB, yang terdiri dari Bambang Riyanto, Akhiruddin Maddu, dan Esa Ghanim Fadhallah. Ketiga orang itu akhirnya didapuk menjadi salah satu tim pemenang dalam ajang Inovasi Panglima TNI 2014. Panglima TNI Jenderal Moeldoko pun, mengapresiasi pengembangan teknologi tersebut. Ia meminta agar penelitian dan pengembangan teknologi itu dapat dipercepat sehingga dapat segera diaplikasikan di alutsista TNI.
dalam keterangan terpisah, Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen TNI Fuad Basya mengatakan, TNI akan menggandeng PT Pindad dalam pengaplikasian teknologi ini. Di samping itu, TNI juga berencana agar teknologi ini dapat diproduksi secara masal. Meski demikian, ia mengatakan uji coba atas alat anti radar itu harus diuji coba terlebih dahulu di Badan Litbang TNI. (Tribun)
Selasa, 07 Oktober 2014
Mengenal Little Moe, Robot Mungil Pembunuh Virus Ebola
Perusahaan pembasmi kuman asal San Antonia, AS, Xenex. Berhasil membuat robot anti virus ebola yang belakangan ini meresahkan penduduk Dunia.
Robot kecil sekitar setengah meter yang diberi nama Little Moe ini mampuh membersihkan ruangan dari virus berbahaya dalam hitungan menit. Litte Moe diproyeksikan menjaga ruangan di rumah sakit di Dallas, yang merawat seorang yang diduga terinfeksi Ebola.
Diharapkan dengan robot ini, rumah sakit itu bebas Ebola. Robot ini memang dikhususkan untuk membasmi kuman dalam ruangan, yang saat ini tengah muncul Ebola di AS.
Melansir Daily Mail, Rabu 8 Oktober 2014, Litte Moe saat ini tengah disiagakan pada 250 rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Amerika Serikat, termasuk rumah sakit di Dallas tersebut.
Kinerja Little Moe tak main-main. Robot ini menggunakan xenon, gas tak beracun yang tak berwarna, untuk menghasilkan sinar ultraviolet yang nantinya digunakan menghancurkan virus.
Robot ini menyebarkan 1,5 tekanan per detik sampai area tiga meter setiap arah untuk membunuh virus Ebola. Saat sinar ultraviolet dipaparkan, Robot akan mengeluarkan sinar biru mirip kilatan.
Dilaporkan cahaya yang dihasilkan robot ini sangat terang, 25 ribu kali lebih terang dari sinar matahari.
"Robot kami menjamin ruang akan aman untuk pasien berikutnya, dengan menghancurkan kuman pada permukaan yang sensitif serta mampu membersihkan sudut dan celah ruangan," jelas juru bicara Xenex.
Disebutkan teknologi yang memanfaatkan sinar ultraviolet untuk mensterilkan ruangan, sebenarnya sudah ada dalam beberapa dekade. Tetapi, kemampuan pada robot Litte Moe menawarkan hal yang lebih canggih. Robot ini memiliki pemrosesan yang cepat dengan menggunakan xenon yang ditempatkan pada air raksa.
Basmi Ebola 2 menit
Sebagai perbandingan, mesin ultraviolet berbasis air raksa biasa butuh waktu satu jam untuk membasmi kuman dalam ruangan. Sedangkan robot Litte Moe hanya butuh waktu dua menit saja.
"Misi kami selalu untuk menghilangkan patogen yang menyebabkan infeksi dan berdampak pada kesehatan serta kehidupa jutaan pasien serta keluarga mereka. Dan, Ebola tak berbeda dengan pembasmian kuman lainnya," jelas Xenex dalam pernyataannya.
Juru bicara itu mengatakan virus Ebola sebenarnya mudah untuk dibunuh dibandingkan penyakit lainnya yang kebal pembasmian kuman. Robot ini berbiaya US$104 ribu sekitar Rp1,7 miliar.
Virus Ebola yang muncul sejak 1976, telah menyebar menjadi wabah simultan di Sudan dan Republik Demokratik Kongo.
Virus itu kini telah muncul di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Spanyol. Gejala Ebola meliputi demam, kelemahan terus menerus, nyeri otot, sakit kepala, sakit tenggorokan diikuti dengan muntah-muntah, diare, ruam, ginjal dan gangguan fungsi hati. Dalam beberapa kasus terjadi pendarahan internal dan eksternal.
Ebola memiliki masa inkubasi panjang hingga 21 hari, artinya orang yang tertular dapat tak menyadari dirinya terinfeksi sampai munculnya gejala tersebut.
Sumber : VivaNews
![]() |
| Little Moe, Robot Mungil Pembunuh Virus Ebola |
Robot kecil sekitar setengah meter yang diberi nama Little Moe ini mampuh membersihkan ruangan dari virus berbahaya dalam hitungan menit. Litte Moe diproyeksikan menjaga ruangan di rumah sakit di Dallas, yang merawat seorang yang diduga terinfeksi Ebola.
Diharapkan dengan robot ini, rumah sakit itu bebas Ebola. Robot ini memang dikhususkan untuk membasmi kuman dalam ruangan, yang saat ini tengah muncul Ebola di AS.
Melansir Daily Mail, Rabu 8 Oktober 2014, Litte Moe saat ini tengah disiagakan pada 250 rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Amerika Serikat, termasuk rumah sakit di Dallas tersebut.
Kinerja Little Moe tak main-main. Robot ini menggunakan xenon, gas tak beracun yang tak berwarna, untuk menghasilkan sinar ultraviolet yang nantinya digunakan menghancurkan virus.
Robot ini menyebarkan 1,5 tekanan per detik sampai area tiga meter setiap arah untuk membunuh virus Ebola. Saat sinar ultraviolet dipaparkan, Robot akan mengeluarkan sinar biru mirip kilatan.
Dilaporkan cahaya yang dihasilkan robot ini sangat terang, 25 ribu kali lebih terang dari sinar matahari.
"Robot kami menjamin ruang akan aman untuk pasien berikutnya, dengan menghancurkan kuman pada permukaan yang sensitif serta mampu membersihkan sudut dan celah ruangan," jelas juru bicara Xenex.
Disebutkan teknologi yang memanfaatkan sinar ultraviolet untuk mensterilkan ruangan, sebenarnya sudah ada dalam beberapa dekade. Tetapi, kemampuan pada robot Litte Moe menawarkan hal yang lebih canggih. Robot ini memiliki pemrosesan yang cepat dengan menggunakan xenon yang ditempatkan pada air raksa.
Basmi Ebola 2 menit
Sebagai perbandingan, mesin ultraviolet berbasis air raksa biasa butuh waktu satu jam untuk membasmi kuman dalam ruangan. Sedangkan robot Litte Moe hanya butuh waktu dua menit saja.
"Misi kami selalu untuk menghilangkan patogen yang menyebabkan infeksi dan berdampak pada kesehatan serta kehidupa jutaan pasien serta keluarga mereka. Dan, Ebola tak berbeda dengan pembasmian kuman lainnya," jelas Xenex dalam pernyataannya.
Juru bicara itu mengatakan virus Ebola sebenarnya mudah untuk dibunuh dibandingkan penyakit lainnya yang kebal pembasmian kuman. Robot ini berbiaya US$104 ribu sekitar Rp1,7 miliar.
Virus Ebola yang muncul sejak 1976, telah menyebar menjadi wabah simultan di Sudan dan Republik Demokratik Kongo.
Virus itu kini telah muncul di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Spanyol. Gejala Ebola meliputi demam, kelemahan terus menerus, nyeri otot, sakit kepala, sakit tenggorokan diikuti dengan muntah-muntah, diare, ruam, ginjal dan gangguan fungsi hati. Dalam beberapa kasus terjadi pendarahan internal dan eksternal.
Ebola memiliki masa inkubasi panjang hingga 21 hari, artinya orang yang tertular dapat tak menyadari dirinya terinfeksi sampai munculnya gejala tersebut.
Sumber : VivaNews
Langganan:
Postingan (Atom)








