Selasa, 05 Januari 2016
Kaka Beradik Asal Salatiga Lusuan SMK Kalahkan Doktor Ahli di Kompetisi Desain Komponen Jet Dunia
Kakak beradik, Arfian Fuadi (29) dan M Arie Kurniawan (24), memang cuma lulusan SMK. Mereka belajar desain teknik secara otodidak. Siapa sangka, kemampuan itu ternyata membuatnya mendunia. Mereka mengalahkan doktor dan ahli di perusahaan penerbangan dalam kompetisi.
Dengan peralatan dan modal seadanya, Arfian dan Arie mendirikan perusahaan desain bernama DTECH-ENGINEERING pada tahun 2009. Mereka mencari peluang order melalui situs online. Order datang dari Jerman, lalu dari negara-negara lain.
Pada tahun 2013, kenang Arfian, perusahaan besar General Electric (GE) asal Amerika mengadakan kompetisi Global Challenge untuk membuat desain bracket jet.
"Ada yang ikut hampir 700 orang dari berbagai negara. Adik saya, Arie ikut mengirimkan," ujar Arfian kepada detikcom di rumahnya, Canden, Tingkir, Salatiga, Senin (4/1/2016).
Desain Arfian dan Arie ternyata diminati. Mereka menang dengan menyisihkan peserta lainnya termasuk seorang doktor Swedia yang berpengalaman di Swedish Air Force dan lulusaan Oxford University yang bekerja di perusahaan Airbus.
"Si Arie ikut, kita bisa desain paling ringan dan kuat, bahan dari titanium. Mungkin ide kita waktu itu paling bagus," katanya rendah hati.
Prestasi mereka saat itu ternyata tidak terlalu menggemparkan dunia pendidikan di Indonesia. Meski demikian, Arfian bangga karena GE melalui Handry Satriago selaku CEO General Electric Indonesia memberikan apresiasi. Bahkan kini Handry sudah dianggap sebagai mentor bagi duo kakak beradik itu.
"Kita jadi kenal CEO dan mereka tidak jaim (jaga image) main ke sini, Salatiga. Pokoknya kami jadi mendapat banyak pengalaman. Pak Handry sudah jadi mentor bagi kami," ujarnya.
Kini, Arfian dan Arie memiliki kantor dan 'karyawan' berjumlah 7 orang. Enam di antaranya lulusan SMK. Puluhan order desain dari berbagai negara diterima setiap bulan. (Detik)
Senin, 23 November 2015
Robot Perang Buatan Google di Ujicoba Marinir AS
Robot buatan anak perusahaan Google, Boston Dynamics, tengah diuji coba oleh lembaga militer angkatan laut Amerika Serikat.
Robot prototipe yang dinamai "Spot" tersebut memang diproyeksikan Marinir AS untuk mendukung operasi militer.
"Menurut saya, robot seperti Spot bisa digunakan untuk mengintai atau mengangkut barang perang," kata pembuat robot Boston Dynamics, Ben Swiling.
Sebagaimana tertera pada situs resmi militer AS dan dihimpun KompasTekno, Senin (23/11/2015), uji coba yang dilakukan meliputi kemampuan beroperasi di berbagai medan, seperti bukit, hutan, dan perkotaan.
Marinir juga melatih Spot untuk mengidentifikasi musuh.
Semua itu dilakukan dengan kontrol via laptop atau video game. Kontrol tersebut bisa dioperasikan dengan jarak terpaut hingga 500 meter dari robot.
Menurut Swiling, mengendalikan Spot sangatlah mudah. "Anak empat tahun pun bisa mengoperasikannya," kata dia.
Robot berukuran 160 pon tersebut bukanlah yang pertama diproyeksikan untuk mendukung lembaga militer. Sebelumnya, ada robot bertajuk "LS3" dan "BigDog".
Namun, Spot diklaim merupakan versi yang lebih cepat, tangguh dan efisien untuk dioperasikan.
Terlebih, menurut Swiling, di saat-saat dan medan-medan tertentu, ada baiknya militer terlebih dahulu menurunkan pasukan robot ketimbang manusia.
"Robot tak bisa mati. Untuk beberapa medan berbahaya, tentu tak ada yang ingin mengorbankan manusia," ia menjelaskan. (Kompas)
Robot prototipe yang dinamai "Spot" tersebut memang diproyeksikan Marinir AS untuk mendukung operasi militer.
"Menurut saya, robot seperti Spot bisa digunakan untuk mengintai atau mengangkut barang perang," kata pembuat robot Boston Dynamics, Ben Swiling.
Sebagaimana tertera pada situs resmi militer AS dan dihimpun KompasTekno, Senin (23/11/2015), uji coba yang dilakukan meliputi kemampuan beroperasi di berbagai medan, seperti bukit, hutan, dan perkotaan.
Marinir juga melatih Spot untuk mengidentifikasi musuh.
Semua itu dilakukan dengan kontrol via laptop atau video game. Kontrol tersebut bisa dioperasikan dengan jarak terpaut hingga 500 meter dari robot.
Menurut Swiling, mengendalikan Spot sangatlah mudah. "Anak empat tahun pun bisa mengoperasikannya," kata dia.
Robot berukuran 160 pon tersebut bukanlah yang pertama diproyeksikan untuk mendukung lembaga militer. Sebelumnya, ada robot bertajuk "LS3" dan "BigDog".
Namun, Spot diklaim merupakan versi yang lebih cepat, tangguh dan efisien untuk dioperasikan.
Terlebih, menurut Swiling, di saat-saat dan medan-medan tertentu, ada baiknya militer terlebih dahulu menurunkan pasukan robot ketimbang manusia.
"Robot tak bisa mati. Untuk beberapa medan berbahaya, tentu tak ada yang ingin mengorbankan manusia," ia menjelaskan. (Kompas)
Senin, 02 November 2015
Indonesia Kembangkan Energi Angin Jadi Listrik Bersama Perusahaan India
Karena itu Pemerintah Indonesia menjalin kesepakatan kerja sama dalam pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Rida Mulyana mengatakan, kerja sama dengan India meliputi enam hal yaitu, pertukaran informasi dan teknologi pengembangan proyek dan riset bersama, transfer teknologi.
"Lalu ada juga, promosi dan investasi dan mendorong dialog masalah kebijakan serta terakhir pengembangan sumber daya manusia (capacity building)," kata Rida, seperti yang dikutip dari situs resmi Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/11/2015).
Rida mengungkapkan, kerja sama dengan pemerintah India ini dilatar belakangi kesuksesan mereka dalam mengembangkan energi angin dan surya. India mampu mengembangkan energi terbarukan dari angin mencapai 70 persen. Kesuksesan India dalam pengembangan angin dan surya dipengaruhi oleh faktor letak negara yang berada di daratan otomatis memiliki lahan dan hembusan angin yang kuat.
"Potensi angin mereka besar, jadi mereka memiliki banyak wind farm, yang ingin saya pelajari dari mereka, kok bisa mereka jual listrik angin dengan tarif sangat rendah, kalau di tempat lain masih 20 sen per kwh, mereka sudah jual dengan harga belasan," papar Rida.
Menurut Rida, faktor negara-negara Barat dapat menjual listrik tenaga angin dengan harga murah, karena mereka sudah tidak bergantung lagi dengan impor bahan baku serta dukungan penuh pemerintahnya.
"Awal-awal mereka memang masih bergantung pabrikan luar, tapi sekarang tidak lagi, ada tax holiday untuk pengembang, listrik yang dijual tidak kena pajak, dan pemerintah memberikan subsidi untuk lahan (inkind) untuk pengembangan energi angin," kata Rida.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum Of Understanding/MoU). Mewakili Pemerintah Indonesia, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Dan Konservasi Energi, Rida Mulyana dan mewakili Pemerintah India, Duta Besar India untuk Indonesia dan Timor Leste, Gujrit Singh pada Senin 2 November 2015. (Liputan6)
"Lalu ada juga, promosi dan investasi dan mendorong dialog masalah kebijakan serta terakhir pengembangan sumber daya manusia (capacity building)," kata Rida, seperti yang dikutip dari situs resmi Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/11/2015).
Rida mengungkapkan, kerja sama dengan pemerintah India ini dilatar belakangi kesuksesan mereka dalam mengembangkan energi angin dan surya. India mampu mengembangkan energi terbarukan dari angin mencapai 70 persen. Kesuksesan India dalam pengembangan angin dan surya dipengaruhi oleh faktor letak negara yang berada di daratan otomatis memiliki lahan dan hembusan angin yang kuat.
"Potensi angin mereka besar, jadi mereka memiliki banyak wind farm, yang ingin saya pelajari dari mereka, kok bisa mereka jual listrik angin dengan tarif sangat rendah, kalau di tempat lain masih 20 sen per kwh, mereka sudah jual dengan harga belasan," papar Rida.
Menurut Rida, faktor negara-negara Barat dapat menjual listrik tenaga angin dengan harga murah, karena mereka sudah tidak bergantung lagi dengan impor bahan baku serta dukungan penuh pemerintahnya.
"Awal-awal mereka memang masih bergantung pabrikan luar, tapi sekarang tidak lagi, ada tax holiday untuk pengembang, listrik yang dijual tidak kena pajak, dan pemerintah memberikan subsidi untuk lahan (inkind) untuk pengembangan energi angin," kata Rida.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum Of Understanding/MoU). Mewakili Pemerintah Indonesia, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Dan Konservasi Energi, Rida Mulyana dan mewakili Pemerintah India, Duta Besar India untuk Indonesia dan Timor Leste, Gujrit Singh pada Senin 2 November 2015. (Liputan6)
Remaja Jenius Berusia 17 Tahun Berkerja Di NASA untuk Tabrakan Pesawat dengan Drone
Moshe Kai Cavalin memiliki dua gelar sarjana, tapi dia terlalu muda untuk ikut pemilu. Ia menerbangkan pesawat terbang, tapi dia terlalu muda untuk mengendarai mobil sendiri. Hidup ini penuh dengan hal kontras untuk Cavalin.
Remaja 17 tahun dari San Gabriel, California, yang telah melesat melampaui usianya. Dia lulus dari perguruan tinggi pada usia 11. Empat tahun kemudian, ia memiliki gelar sarjana matematika dari University of California, Los Angeles.
Tahun ini, ia mulai kelas online untuk mendapatkan master di bidang cybersecurity melalui Boston Brandeis University. Dia memutuskan menunda untuk beberapa semester, demi membantu NASA mengembangkan teknologi mata-mata untuk pesawat terbang dan drones.
Di antara semua itu, hidupnya penuh kesibukan yang 'menyiksa.' Cavalin baru saja menerbitkan buku keduanya, menceritakan pengalaman hidupnya yang penuh bully oleh teman-temannya.
Selain itu, Cavalin berencana untuk memiliki lisensi pesawat pilotnya pada akhir tahun ini. Di rumah keluarganya di Los Angeles, sederet piala kepiawaiannya dalam martial arts memenuhi kamarnya.
Namun, Cavalin menegaskan ia adalah remaja biasa. Ia hanya menuruti kehendak orangtuanya untuk belajar dan memilih kebebasan kegiatan di luar pelajaran yang ia suka. Kesukaannya pada kegiatan bela diri telah mendarah daging, ibunya dari Taiwan dan ayah dari Brasil.
"Aku tidak seistimewa itu. Ini hanya kombinasi dari orangtua dan motivasi serta inspirasi," ujar Calavin setelah bekerja di Flight Armstrong Research Center NASA di Edwards, California, seperti dilansir dari yahootech, Selasa (3/11/2015)
"Aku cenderung tidak membandingkan diri ke orang lain. Aku hanya mencoba untuk melakukan yang terbaik yang aku bisa."
Orangtuanya mengatakan dia selalu belajar dengan cepat. Pada usia 4 bulan, Cavalin mengucapkan kata pertamanya. Ia menunjuk ke sebuah jet di langit dan mengatakan 'pesawat' dalam bahasa China.
Cavalin berhasil loncat sekolah ke perguruan tinggi pada usia yang masih sangat belia. Ia bahkan fasih trigonometri pada usia 7 tahun.
"Aku pikir sebagian besar orang hanya berpikir dia jenius, mereka percaya kejenuisan hanya datang secara alami," kata Daniel Judge, seorang profesor matematika yang mengajarkan Cavalin selama dua tahun di East Los Angeles College. "Dia benar-benar bekerja lebih keras dari, aku pikir, setiap siswa lainnya yang pernah kumiliki."
Tapi melejitnya pendidikan Cavalin bukan tanpa liku. Awal di perguruan tinggi, ia bermimpi menjadi seorang astrofisikawan. Ketika ia mulai mengambil kelas fisika, minatnya berkurang. Ketertarikannya dalam kriptografi menuntunnya ke arah ilmu komputer.
Dia terkejut ketika NASA memanggilnya untuk menawarkan pekerjaan, setelah menolak dia di masa lalu karena usianya. Ricardo Arteaga, bos dan mentornya di NASA, mengatakan Cavalin sempurna untuk sebuah proyek yang menggabungkan matematika, komputer dan teknologi pesawat.
"Aku butuh anak magang yang tahu software dan tahu algoritma matematika," kata Arteaga. "Dan aku juga membutuhkan pilot menerbangkan Cessna."
"Di kantor, Cavalin adalah pekerja yang tenang dengan rasa humor," ujar Artega.
Pekerjaan sehari-hari Cavalin di NASA adalah menjalankan simulasi pesawat dan drone yang sengaja ditabrakan, dan kemudian mencari cara untuk rute ke tempat yang aman.
"Dia benar-benar mahir dalam matematika," kata Artega. "Apa yang kami gali adalah keterampilan intuitif-nya."
Dalam percakapan, Cavalin berbicara dengan irama dan diksi dengan hati-hati. Dia terusik dengan kata tertentu: "Satu kata yang aku tidak terlalu suka adalah kata jenius," katanya. "Jenius itu terlalu jauh".
Setelah ia menyelesaikan master-nya dari Brandeis, Cavalin berharap bisa mendapatkan master dalam bisnis di Massachusetts Institute of Technology. Ia ingin membangun perusahaan cybersecurity sendiri.
Untuk saat ini, dia sedang menghitung hari menuju usia 18 tahun, saat itulah, ia baru bisa mendapatkan izin mengemudi sesuai dengan undang-undang di California. Tinggal jauh dari rumah untuk bekerja di NASA, ia bergantung kepada pemilik pemondokan tempat ia tinggal untuk mengantarkan belanja, atau ia naik taksi sendiri. Rekan-rekannya yang lebih tua mendorong dia untuk bekerja setiap hari.
Soal masa remajanya, Cavalin setengah bercanda mengatakan akan menunggu sampai ia mendapat gelar doktor untuk mencari pacar. Waduh! (Liputan6)
Remaja 17 tahun dari San Gabriel, California, yang telah melesat melampaui usianya. Dia lulus dari perguruan tinggi pada usia 11. Empat tahun kemudian, ia memiliki gelar sarjana matematika dari University of California, Los Angeles.
Tahun ini, ia mulai kelas online untuk mendapatkan master di bidang cybersecurity melalui Boston Brandeis University. Dia memutuskan menunda untuk beberapa semester, demi membantu NASA mengembangkan teknologi mata-mata untuk pesawat terbang dan drones.
Di antara semua itu, hidupnya penuh kesibukan yang 'menyiksa.' Cavalin baru saja menerbitkan buku keduanya, menceritakan pengalaman hidupnya yang penuh bully oleh teman-temannya.
Selain itu, Cavalin berencana untuk memiliki lisensi pesawat pilotnya pada akhir tahun ini. Di rumah keluarganya di Los Angeles, sederet piala kepiawaiannya dalam martial arts memenuhi kamarnya.
Namun, Cavalin menegaskan ia adalah remaja biasa. Ia hanya menuruti kehendak orangtuanya untuk belajar dan memilih kebebasan kegiatan di luar pelajaran yang ia suka. Kesukaannya pada kegiatan bela diri telah mendarah daging, ibunya dari Taiwan dan ayah dari Brasil.
"Aku tidak seistimewa itu. Ini hanya kombinasi dari orangtua dan motivasi serta inspirasi," ujar Calavin setelah bekerja di Flight Armstrong Research Center NASA di Edwards, California, seperti dilansir dari yahootech, Selasa (3/11/2015)
"Aku cenderung tidak membandingkan diri ke orang lain. Aku hanya mencoba untuk melakukan yang terbaik yang aku bisa."
Orangtuanya mengatakan dia selalu belajar dengan cepat. Pada usia 4 bulan, Cavalin mengucapkan kata pertamanya. Ia menunjuk ke sebuah jet di langit dan mengatakan 'pesawat' dalam bahasa China.
Cavalin berhasil loncat sekolah ke perguruan tinggi pada usia yang masih sangat belia. Ia bahkan fasih trigonometri pada usia 7 tahun.
"Aku pikir sebagian besar orang hanya berpikir dia jenius, mereka percaya kejenuisan hanya datang secara alami," kata Daniel Judge, seorang profesor matematika yang mengajarkan Cavalin selama dua tahun di East Los Angeles College. "Dia benar-benar bekerja lebih keras dari, aku pikir, setiap siswa lainnya yang pernah kumiliki."
Tapi melejitnya pendidikan Cavalin bukan tanpa liku. Awal di perguruan tinggi, ia bermimpi menjadi seorang astrofisikawan. Ketika ia mulai mengambil kelas fisika, minatnya berkurang. Ketertarikannya dalam kriptografi menuntunnya ke arah ilmu komputer.
Dia terkejut ketika NASA memanggilnya untuk menawarkan pekerjaan, setelah menolak dia di masa lalu karena usianya. Ricardo Arteaga, bos dan mentornya di NASA, mengatakan Cavalin sempurna untuk sebuah proyek yang menggabungkan matematika, komputer dan teknologi pesawat.
"Aku butuh anak magang yang tahu software dan tahu algoritma matematika," kata Arteaga. "Dan aku juga membutuhkan pilot menerbangkan Cessna."
"Di kantor, Cavalin adalah pekerja yang tenang dengan rasa humor," ujar Artega.
Pekerjaan sehari-hari Cavalin di NASA adalah menjalankan simulasi pesawat dan drone yang sengaja ditabrakan, dan kemudian mencari cara untuk rute ke tempat yang aman.
"Dia benar-benar mahir dalam matematika," kata Artega. "Apa yang kami gali adalah keterampilan intuitif-nya."
Dalam percakapan, Cavalin berbicara dengan irama dan diksi dengan hati-hati. Dia terusik dengan kata tertentu: "Satu kata yang aku tidak terlalu suka adalah kata jenius," katanya. "Jenius itu terlalu jauh".
Setelah ia menyelesaikan master-nya dari Brandeis, Cavalin berharap bisa mendapatkan master dalam bisnis di Massachusetts Institute of Technology. Ia ingin membangun perusahaan cybersecurity sendiri.
Untuk saat ini, dia sedang menghitung hari menuju usia 18 tahun, saat itulah, ia baru bisa mendapatkan izin mengemudi sesuai dengan undang-undang di California. Tinggal jauh dari rumah untuk bekerja di NASA, ia bergantung kepada pemilik pemondokan tempat ia tinggal untuk mengantarkan belanja, atau ia naik taksi sendiri. Rekan-rekannya yang lebih tua mendorong dia untuk bekerja setiap hari.
Soal masa remajanya, Cavalin setengah bercanda mengatakan akan menunggu sampai ia mendapat gelar doktor untuk mencari pacar. Waduh! (Liputan6)
Kamis, 29 Oktober 2015
Yamaha Siapkan Robot Penerus Rossi di MotoGP
Persaingan dua pembalap Yamaha, Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo, bakal mencapai puncaknya pada MotoGP Valencia, Spanyol, 8 November 2015. Lorenzo yang defisit 7 poin kini lebih diunggulkan karena Rossi harus start dari barisan belakang akibat perbuatannya kepada Marc Marquez Minggu lalu.
Beradu cepat dengan sesama pembalap tentu bukan hal yang baru bagi The Doctor. Namun bagaimana bila lawannya di lintasan MotoGP adalah sebuah robot?
Saat ini pemenangnya memang belum bisa ditentukan. Akan tetapi, Yamaha sebagai salah satu produsen sepeda motor telah menyiapkan calon lawan sekaligus penerus The Doctor yang terbuat dari mesin. Robot balap itu mulai diperkenalkan di acara Tokyo Motor Show 2015, 29 Oktober-8 November 2015.
Robot itu diberi nama Yamaha MotoBot Concept. Seperti dilansir gizmag.com, robot balap tersebut memadukan motor sport dengan menempatkan robot sebagai ridernya. Dalam siaran pers singkat, Yamaha juga menyebut pihaknya masih terus berupaya menyempurnakan produk terbaru tersebut.
"Tugas untuk mengontrol gerakan kompleks dari sepeda motor dalam kecepatan tinggi membutuhkan beragam kontrol yang berjalan dengan akurasi yang sanga tinggi," tulis Yamaha. "Jadi kami tidak mengharapkan hasil yang mengejutkan dalam waktu dekat ini," demikian Yamaha dalam rilisnya.
Gizmag sendiri menganggap bahwa proses ini bukan terobosan untuk sekedar membuat kendaraan pengantar makanan. Melihat paparan dari tiga digit kecepatan, menurut Gizmag, sepertinya Yamaha berpikir untuk membawa MotoBot ke dalam MotoGP.
Dalam video promo yang kini bertebaran di jagad maya, motor balap bikinan Yamaha tampak diuji coba di sebuah lahan kosong. Dalam narasinya disebutkan juga bahwa robot balap tersebut diciptakan untuk mengungguli The Doctor. Lihat video lengkapnya di bawah ini. (Liputan6)
![]() |
| Yamaha MotoBot Concept digadang-gadang bakal meramaikan balapan MotoGP |
Beradu cepat dengan sesama pembalap tentu bukan hal yang baru bagi The Doctor. Namun bagaimana bila lawannya di lintasan MotoGP adalah sebuah robot?
Saat ini pemenangnya memang belum bisa ditentukan. Akan tetapi, Yamaha sebagai salah satu produsen sepeda motor telah menyiapkan calon lawan sekaligus penerus The Doctor yang terbuat dari mesin. Robot balap itu mulai diperkenalkan di acara Tokyo Motor Show 2015, 29 Oktober-8 November 2015.
Robot itu diberi nama Yamaha MotoBot Concept. Seperti dilansir gizmag.com, robot balap tersebut memadukan motor sport dengan menempatkan robot sebagai ridernya. Dalam siaran pers singkat, Yamaha juga menyebut pihaknya masih terus berupaya menyempurnakan produk terbaru tersebut.
"Tugas untuk mengontrol gerakan kompleks dari sepeda motor dalam kecepatan tinggi membutuhkan beragam kontrol yang berjalan dengan akurasi yang sanga tinggi," tulis Yamaha. "Jadi kami tidak mengharapkan hasil yang mengejutkan dalam waktu dekat ini," demikian Yamaha dalam rilisnya.
Gizmag sendiri menganggap bahwa proses ini bukan terobosan untuk sekedar membuat kendaraan pengantar makanan. Melihat paparan dari tiga digit kecepatan, menurut Gizmag, sepertinya Yamaha berpikir untuk membawa MotoBot ke dalam MotoGP.
Dalam video promo yang kini bertebaran di jagad maya, motor balap bikinan Yamaha tampak diuji coba di sebuah lahan kosong. Dalam narasinya disebutkan juga bahwa robot balap tersebut diciptakan untuk mengungguli The Doctor. Lihat video lengkapnya di bawah ini. (Liputan6)
Rabu, 28 Oktober 2015
Projek Balon Google Akan Koneksikan Jutaan Rakyat Indonesia
Tiga operator seluler Indonesia sepakat menjalin kerja sama dengan Google untuk menguji Project Loon. Akses internet melalui balon pintar itu dapat menghubungkan 100 juta penduduk Indonesia.
Pengumuman kerja sama itu dilakukan dalam kunjungan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara ke Silicon Valley, Amerika Serikat. Tampak tiga bos operator itu juga hadir, seperti Ririek Adriansyah (Telkomsel), Dian Siswarini (XL), dan Alexander Rusli (Indosat).
"Tidak lama lagi, kami berharap jutaan masyarakat Indonesia akan dapat menggunakan internet secara utuh, sehingga dapat membawa budaya dan bisnis mereka secara online dan mengeksplorasi dunia, tanpa meninggalkan kediamannya," kata Vice President Project Loon, Mike Cassidy, melalui keterangannya pada Kamis, 29 Oktober 2015.
Pengujian Project Loon itu akan dilaksanakan pada tahun 2016. Diharapkan dengan memanfaatkan inovasi dari Google itu dapat memberikan akses internet di bidang pendidikan, budaya, dan ekonomi.
Project Loon berfungsi sebagai menara telepon seluler terbang, mengangkasa dengan angin stratosferik di ketinggian dua kali lipat daripada pesawat komersial.
Masing-masing balon itu akan memancarkan koneksi di atas 20 kilometer permukaan Bumi. Jika salah satu balon pintar itu keluar jalur, balon yang baru akan menggantikannya.
Proyek yang dikembangkan Google itu diklaim dapat membantu perusahaan telekomunikasi dalam melebarkan jaringannya, jauh tinggi di angkasa, dengan mengatasi tantangan dalam hal penyebaran peralatan konektivitas ke berbagai daerah paling ujung.
Telkomsel, XL, dan Indosat memandang Project Loon menjadi jawaban atas persoalan kondisi Indonesia yang terdiri lebih dari 17 ribu pulau dengan wilayah terdiri dari hutan dan pegunungan.
Cassidy menuturkan, dalam beberapa tahun mendatang, Google berharap Project Loon dapat bermitra dengan penyedia lokal untuk membangun koneksi internet berkecepatan tinggi berbasis Long Term Evolution, agar dapat menghubungkan lebih 100 juta penduduk yang belum terhubung internet.
"Dari Sabang sampai merauke, banyak dari masyarakat ini tinggal di wilayah tanpa infrastruktur internet yang sudah ada saat ini. Jadi, kami berharap internet bertenaga balon ini dapat suatu saat nanti membantu mereka, agar memiliki akses informasi dan kesempatan yang ada di internet," kata Cassidy. (VivaNews)
Pengumuman kerja sama itu dilakukan dalam kunjungan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara ke Silicon Valley, Amerika Serikat. Tampak tiga bos operator itu juga hadir, seperti Ririek Adriansyah (Telkomsel), Dian Siswarini (XL), dan Alexander Rusli (Indosat).
"Tidak lama lagi, kami berharap jutaan masyarakat Indonesia akan dapat menggunakan internet secara utuh, sehingga dapat membawa budaya dan bisnis mereka secara online dan mengeksplorasi dunia, tanpa meninggalkan kediamannya," kata Vice President Project Loon, Mike Cassidy, melalui keterangannya pada Kamis, 29 Oktober 2015.
Pengujian Project Loon itu akan dilaksanakan pada tahun 2016. Diharapkan dengan memanfaatkan inovasi dari Google itu dapat memberikan akses internet di bidang pendidikan, budaya, dan ekonomi.
Project Loon berfungsi sebagai menara telepon seluler terbang, mengangkasa dengan angin stratosferik di ketinggian dua kali lipat daripada pesawat komersial.
Masing-masing balon itu akan memancarkan koneksi di atas 20 kilometer permukaan Bumi. Jika salah satu balon pintar itu keluar jalur, balon yang baru akan menggantikannya.
Proyek yang dikembangkan Google itu diklaim dapat membantu perusahaan telekomunikasi dalam melebarkan jaringannya, jauh tinggi di angkasa, dengan mengatasi tantangan dalam hal penyebaran peralatan konektivitas ke berbagai daerah paling ujung.
Telkomsel, XL, dan Indosat memandang Project Loon menjadi jawaban atas persoalan kondisi Indonesia yang terdiri lebih dari 17 ribu pulau dengan wilayah terdiri dari hutan dan pegunungan.
Cassidy menuturkan, dalam beberapa tahun mendatang, Google berharap Project Loon dapat bermitra dengan penyedia lokal untuk membangun koneksi internet berkecepatan tinggi berbasis Long Term Evolution, agar dapat menghubungkan lebih 100 juta penduduk yang belum terhubung internet.
"Dari Sabang sampai merauke, banyak dari masyarakat ini tinggal di wilayah tanpa infrastruktur internet yang sudah ada saat ini. Jadi, kami berharap internet bertenaga balon ini dapat suatu saat nanti membantu mereka, agar memiliki akses informasi dan kesempatan yang ada di internet," kata Cassidy. (VivaNews)
Minggu, 18 Oktober 2015
Mobil Tenaga Surya Karya ITS Surabaya Berlaga di Darwin-Adelaide
Widya Wahana V buatan ITS Surabaya berlaga dalam ajang lomba balap mobil tenaga surya yang menempuh jarak sejauh 3.000 kilometer dari Darwin ke Adelaide, menyusuri Benua Australia dari utara ke selatan.
Dengan nomor urut 31, tim Widya Wahana V ini merupakan satu dari 46 mobil asal 25 negara yang turut berlaga dalam World Solar Challenge tahun 2015, yang dimulai Minggu (18/10/2015).
Lomba yang mengambil start di Parlemen Negara Bagian Northern Territory (NT) ini merupakan ajang paling bergengsi di dunia bagi balap mobil tenaga surya. Lomba akan berakhir di garis finish di Kota Adelaide.
Tim mobil bernama Stella Lux asal Eidenhoven Belanda, mengambil start di urutan pertama, disaksikan ribuan pengunjung. Mobil itu kemudian melaju melintasi kota Darwin ke arah Jalan Stuart Highway.
Ajang lomba ini sudah berlangsung sejak tahun 1987 lalu, dan kini digelar setiap dua tahun sekali. Para pengembang prototipe mobil tenaga surya di seluruh dunia biasanya turut ambil bagian dan ajang ini, untuk menunjukkan keandalan karya mereka.
Berbagai tantangan harus dihadapi oleh setiap tim. Mobil Persian Gazelle III asal Iran misalnya, yang mendapatkan yel-yel dukungan paling meriah saat meninggalkan garis start, terpaksa berhenti hanya beberapa kilometer setelah jalan.
Pasalnya, mobil buatan Universitas Teheran itu mengalami ban kempes sehingga harus berhenti dan memompa ban tersebut.
Hal serupa juga dialami mobil K.I.T Golden Eagle 5.1 buatan Jepang, yang terpaksa berhenti tak lama setelah start.
Meskipun kebanyakan peserta berasal dari tim yang berbasis di universitas, namun ada pula tim yang menampilkan mobil buatan siswa SMA, seperti mobil Liberty Solar Car dari Texas, AS.
"Kami berhasil memacu mobil kami pada kecepatan 51 km perjam sebelumnya. Dan kami berharap bisa memacunya lebih cepat sedikit pada hari ini," kata Cameron Mutis dari tim Liberty, kepada ABC, Minggu (18/10/2015).
Bianca Koppen dari Tim Nuon, Belanda, yang merupakan juara bertahan, menjelaskan timnya tidak begitu perduli meskipun tidak mengambil posisi paling depan saat start.
Tim ini menurunkan mobil Nuna8 yang merupakan ciptaan 15 mahasiswa dalam ajang tahun ini.
"Dua tahun lalu kami start pada urutan ke-20 dan kami berhasil menjadi juara. Jadi posisi start tidak berpengaruh saya kira," katanya.
Ia menjelaskan, timnya kali ini mempersiapkan kendaraan mereka selama 14 bulan. (Detik)
![]() |
| Tim Indonesia dengan mobil Widya Wahana V buatan ITS Surabaya. (ABC/Steven Schubert) |
Dengan nomor urut 31, tim Widya Wahana V ini merupakan satu dari 46 mobil asal 25 negara yang turut berlaga dalam World Solar Challenge tahun 2015, yang dimulai Minggu (18/10/2015).
Lomba yang mengambil start di Parlemen Negara Bagian Northern Territory (NT) ini merupakan ajang paling bergengsi di dunia bagi balap mobil tenaga surya. Lomba akan berakhir di garis finish di Kota Adelaide.
Tim mobil bernama Stella Lux asal Eidenhoven Belanda, mengambil start di urutan pertama, disaksikan ribuan pengunjung. Mobil itu kemudian melaju melintasi kota Darwin ke arah Jalan Stuart Highway.
Ajang lomba ini sudah berlangsung sejak tahun 1987 lalu, dan kini digelar setiap dua tahun sekali. Para pengembang prototipe mobil tenaga surya di seluruh dunia biasanya turut ambil bagian dan ajang ini, untuk menunjukkan keandalan karya mereka.
Berbagai tantangan harus dihadapi oleh setiap tim. Mobil Persian Gazelle III asal Iran misalnya, yang mendapatkan yel-yel dukungan paling meriah saat meninggalkan garis start, terpaksa berhenti hanya beberapa kilometer setelah jalan.
Pasalnya, mobil buatan Universitas Teheran itu mengalami ban kempes sehingga harus berhenti dan memompa ban tersebut.
![]() |
| Mobil asal Iran harus memompa ban setelah jalan beberapa km dari garis start. (ABC/Steven Schubert) |
Hal serupa juga dialami mobil K.I.T Golden Eagle 5.1 buatan Jepang, yang terpaksa berhenti tak lama setelah start.
Meskipun kebanyakan peserta berasal dari tim yang berbasis di universitas, namun ada pula tim yang menampilkan mobil buatan siswa SMA, seperti mobil Liberty Solar Car dari Texas, AS.
"Kami berhasil memacu mobil kami pada kecepatan 51 km perjam sebelumnya. Dan kami berharap bisa memacunya lebih cepat sedikit pada hari ini," kata Cameron Mutis dari tim Liberty, kepada ABC, Minggu (18/10/2015).
![]() |
| Mobil Sunswift buatan University of NSW, Australia, turut ambil bagian dari lomba tahun ini. (ABC/Steven Schubert) |
Bianca Koppen dari Tim Nuon, Belanda, yang merupakan juara bertahan, menjelaskan timnya tidak begitu perduli meskipun tidak mengambil posisi paling depan saat start.
Tim ini menurunkan mobil Nuna8 yang merupakan ciptaan 15 mahasiswa dalam ajang tahun ini.
![]() |
| Inilah 46 mobil tenaga surya asal 25 negara yang berlaga dalam lomba balap dari Darwin ke Adelaide menempuh jarak 3.000 km. (ABC/Steven Schubert) |
"Dua tahun lalu kami start pada urutan ke-20 dan kami berhasil menjadi juara. Jadi posisi start tidak berpengaruh saya kira," katanya.
Ia menjelaskan, timnya kali ini mempersiapkan kendaraan mereka selama 14 bulan. (Detik)
Langganan:
Postingan (Atom)










